alexametrics
19.8 C
Jember
Wednesday, 29 June 2022

Akhirnya, Terdakwa Bogem Divonis Bersalah

Putusan Lebih Ringan ketimbang Tuntutan Jaksa

Mobile_AP_Rectangle 1

Ditanya apakah ada peluang untuk melakukan upaya hukum lanjutan, yakni banding, Dedi pun menyatakan tak menutup kemungkinan untuk itu. “Kemungkinan besar untuk banding ya masih ada. Tetapi, semua kembali ke putusan klien kami,” imbuh Dedi.

Dedi juga membenarkan bahwa Rudy tak terbukti menikmati uang hasil rasuah itu. Namun, dia juga mengaku bahwa kesalahan kliennya pada pembelian kualitas kopi yang tidak sesuai. “Kalau tidak menikmati hasil korupsi, berarti kan ada orang lain di balik ini semua,” kata Dedi.

Catatan Jawa Pos Radar Ijen, dalam persidangan ini, nama-nama pejabat di lingkungan ASN Pemkab Bondowoso hingga mantan bupati dipanggil untuk duduk menjadi saksi di meja hijau. Para ASN yang pernah memenuhi panggilan saksi di PN Tipikor itu di antaranya mantan Bupati Bondowoso Amin Said Husni, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Farida, Asisten 1 Pemkab Bondowoso Agung Tri Handono, sekda nonaktif Syaifullah, serta Miftahul Ulum dan Danik dari Inspektorat.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain ASN, jajaran manajemen PTBG pun turut dipanggil. Seperti Joko Nugroho, Surya Kodrat, Sumarhum, Yusriadi, dan Andi Wijaya. Sebagai informasi, kasus rasuah itu bermula saat PTBG mendapat kucuran dana dari Pemkab Bondowoso untuk usaha di bidang perkopian pada 2018 lalu. Nilainya cukup besar, yakni sekitar Rp 2,9 miliar.

Dalam perjalanannya, ternyata penggunaan anggaran tersebut tidak sesuai aturan. Karena itu, ada dugaan korupsi dengan kerugian negara sekitar Rp 477 juta. Perhitungan kerugian negara itu didapat dari penghitungan laporan keuangan yang menjadi alat bukti. Baik laporan kuitansi pembelian kopi maupun laporan keuangan perusahaan.

Jurnalis : Muchammad Ainul Budi
Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Redaktur : Solikhul Huda

- Advertisement -

Ditanya apakah ada peluang untuk melakukan upaya hukum lanjutan, yakni banding, Dedi pun menyatakan tak menutup kemungkinan untuk itu. “Kemungkinan besar untuk banding ya masih ada. Tetapi, semua kembali ke putusan klien kami,” imbuh Dedi.

Dedi juga membenarkan bahwa Rudy tak terbukti menikmati uang hasil rasuah itu. Namun, dia juga mengaku bahwa kesalahan kliennya pada pembelian kualitas kopi yang tidak sesuai. “Kalau tidak menikmati hasil korupsi, berarti kan ada orang lain di balik ini semua,” kata Dedi.

Catatan Jawa Pos Radar Ijen, dalam persidangan ini, nama-nama pejabat di lingkungan ASN Pemkab Bondowoso hingga mantan bupati dipanggil untuk duduk menjadi saksi di meja hijau. Para ASN yang pernah memenuhi panggilan saksi di PN Tipikor itu di antaranya mantan Bupati Bondowoso Amin Said Husni, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Farida, Asisten 1 Pemkab Bondowoso Agung Tri Handono, sekda nonaktif Syaifullah, serta Miftahul Ulum dan Danik dari Inspektorat.

Selain ASN, jajaran manajemen PTBG pun turut dipanggil. Seperti Joko Nugroho, Surya Kodrat, Sumarhum, Yusriadi, dan Andi Wijaya. Sebagai informasi, kasus rasuah itu bermula saat PTBG mendapat kucuran dana dari Pemkab Bondowoso untuk usaha di bidang perkopian pada 2018 lalu. Nilainya cukup besar, yakni sekitar Rp 2,9 miliar.

Dalam perjalanannya, ternyata penggunaan anggaran tersebut tidak sesuai aturan. Karena itu, ada dugaan korupsi dengan kerugian negara sekitar Rp 477 juta. Perhitungan kerugian negara itu didapat dari penghitungan laporan keuangan yang menjadi alat bukti. Baik laporan kuitansi pembelian kopi maupun laporan keuangan perusahaan.

Jurnalis : Muchammad Ainul Budi
Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Redaktur : Solikhul Huda

Ditanya apakah ada peluang untuk melakukan upaya hukum lanjutan, yakni banding, Dedi pun menyatakan tak menutup kemungkinan untuk itu. “Kemungkinan besar untuk banding ya masih ada. Tetapi, semua kembali ke putusan klien kami,” imbuh Dedi.

Dedi juga membenarkan bahwa Rudy tak terbukti menikmati uang hasil rasuah itu. Namun, dia juga mengaku bahwa kesalahan kliennya pada pembelian kualitas kopi yang tidak sesuai. “Kalau tidak menikmati hasil korupsi, berarti kan ada orang lain di balik ini semua,” kata Dedi.

Catatan Jawa Pos Radar Ijen, dalam persidangan ini, nama-nama pejabat di lingkungan ASN Pemkab Bondowoso hingga mantan bupati dipanggil untuk duduk menjadi saksi di meja hijau. Para ASN yang pernah memenuhi panggilan saksi di PN Tipikor itu di antaranya mantan Bupati Bondowoso Amin Said Husni, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Farida, Asisten 1 Pemkab Bondowoso Agung Tri Handono, sekda nonaktif Syaifullah, serta Miftahul Ulum dan Danik dari Inspektorat.

Selain ASN, jajaran manajemen PTBG pun turut dipanggil. Seperti Joko Nugroho, Surya Kodrat, Sumarhum, Yusriadi, dan Andi Wijaya. Sebagai informasi, kasus rasuah itu bermula saat PTBG mendapat kucuran dana dari Pemkab Bondowoso untuk usaha di bidang perkopian pada 2018 lalu. Nilainya cukup besar, yakni sekitar Rp 2,9 miliar.

Dalam perjalanannya, ternyata penggunaan anggaran tersebut tidak sesuai aturan. Karena itu, ada dugaan korupsi dengan kerugian negara sekitar Rp 477 juta. Perhitungan kerugian negara itu didapat dari penghitungan laporan keuangan yang menjadi alat bukti. Baik laporan kuitansi pembelian kopi maupun laporan keuangan perusahaan.

Jurnalis : Muchammad Ainul Budi
Fotografer : Muchammad Ainul Budi
Redaktur : Solikhul Huda

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/