alexametrics
32 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Catut Nama Direktur Utama

Tak Nikmati Serupiah pun, Diperintah Pakai Rekening Pribadi

Mobile_AP_Rectangle 1

SIDOARJO, RADARJEMBER.ID – Terdakwa Rudy Hartoyo dalam perkara dugaan rasuah PT Bondowoso Gemilang (PTBG) buka-bukaan. Dalam agenda sidang pemeriksaan terdakwa, kemarin siang di Pengadilan Negeri (PN) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya di Sidoarjo, Rudy menjelaskan apa adanya.

Sidang yang dipimpin langsung Ketua Majelis Hakim Tongani itu menghadirkan langsung terdakwa di Ruang Sidang Candra. Dalam keterangannya, terdakwa mengaku bahwa tak menikmati aliran dana rasuah yang merugikan negara sebesar Rp 447 juta itu setelah dihitung oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Bondowoso.

“Terdakwa tidak mengakui menikmati kerugian negara itu. Tidak satu rupiah pun dia nikmati,” beber Dedi Rahman, penasihat hukum terdakwa, seusai persidangan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dalam sidang, terdakwa juga membeberkan bahwa dia melangkah pun atas perintah atasannya, yakni Plt Direktur Utama (Dirut) Surya Kodrat, yang dalam agenda pemeriksaan saksi sempat memenuhi panggilan. “Masalah rekening pribadi terdakwa mengaku atas perintah Plt Dirut. Untuk efisiensi waktu dan berbagai alasan. Terdakwa disuruh membuka rekening baru di Bank Jatim. Kemudian, uang sebesar Rp 1,6 miliar dibelanjakan kopi,” imbuh Dedi.

Dedi menambahkan, pembelian kopi itu seharusnya kopi grade satu. Namun, setelah dikroscek di lapangan oleh tim Kejari Bondowoso, ternyata kopi yang dibeli adalah kualitas dengan grade tiga. “Jadi, semua tindakannya membeli 20 ton kopi atas instruksi atasannya,” lanjut Dedi kepada Jawa Pos Radar Ijen.

- Advertisement -

SIDOARJO, RADARJEMBER.ID – Terdakwa Rudy Hartoyo dalam perkara dugaan rasuah PT Bondowoso Gemilang (PTBG) buka-bukaan. Dalam agenda sidang pemeriksaan terdakwa, kemarin siang di Pengadilan Negeri (PN) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya di Sidoarjo, Rudy menjelaskan apa adanya.

Sidang yang dipimpin langsung Ketua Majelis Hakim Tongani itu menghadirkan langsung terdakwa di Ruang Sidang Candra. Dalam keterangannya, terdakwa mengaku bahwa tak menikmati aliran dana rasuah yang merugikan negara sebesar Rp 447 juta itu setelah dihitung oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Bondowoso.

“Terdakwa tidak mengakui menikmati kerugian negara itu. Tidak satu rupiah pun dia nikmati,” beber Dedi Rahman, penasihat hukum terdakwa, seusai persidangan.

Dalam sidang, terdakwa juga membeberkan bahwa dia melangkah pun atas perintah atasannya, yakni Plt Direktur Utama (Dirut) Surya Kodrat, yang dalam agenda pemeriksaan saksi sempat memenuhi panggilan. “Masalah rekening pribadi terdakwa mengaku atas perintah Plt Dirut. Untuk efisiensi waktu dan berbagai alasan. Terdakwa disuruh membuka rekening baru di Bank Jatim. Kemudian, uang sebesar Rp 1,6 miliar dibelanjakan kopi,” imbuh Dedi.

Dedi menambahkan, pembelian kopi itu seharusnya kopi grade satu. Namun, setelah dikroscek di lapangan oleh tim Kejari Bondowoso, ternyata kopi yang dibeli adalah kualitas dengan grade tiga. “Jadi, semua tindakannya membeli 20 ton kopi atas instruksi atasannya,” lanjut Dedi kepada Jawa Pos Radar Ijen.

SIDOARJO, RADARJEMBER.ID – Terdakwa Rudy Hartoyo dalam perkara dugaan rasuah PT Bondowoso Gemilang (PTBG) buka-bukaan. Dalam agenda sidang pemeriksaan terdakwa, kemarin siang di Pengadilan Negeri (PN) Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Surabaya di Sidoarjo, Rudy menjelaskan apa adanya.

Sidang yang dipimpin langsung Ketua Majelis Hakim Tongani itu menghadirkan langsung terdakwa di Ruang Sidang Candra. Dalam keterangannya, terdakwa mengaku bahwa tak menikmati aliran dana rasuah yang merugikan negara sebesar Rp 447 juta itu setelah dihitung oleh Kejaksaan Negeri (Kejari) Bondowoso.

“Terdakwa tidak mengakui menikmati kerugian negara itu. Tidak satu rupiah pun dia nikmati,” beber Dedi Rahman, penasihat hukum terdakwa, seusai persidangan.

Dalam sidang, terdakwa juga membeberkan bahwa dia melangkah pun atas perintah atasannya, yakni Plt Direktur Utama (Dirut) Surya Kodrat, yang dalam agenda pemeriksaan saksi sempat memenuhi panggilan. “Masalah rekening pribadi terdakwa mengaku atas perintah Plt Dirut. Untuk efisiensi waktu dan berbagai alasan. Terdakwa disuruh membuka rekening baru di Bank Jatim. Kemudian, uang sebesar Rp 1,6 miliar dibelanjakan kopi,” imbuh Dedi.

Dedi menambahkan, pembelian kopi itu seharusnya kopi grade satu. Namun, setelah dikroscek di lapangan oleh tim Kejari Bondowoso, ternyata kopi yang dibeli adalah kualitas dengan grade tiga. “Jadi, semua tindakannya membeli 20 ton kopi atas instruksi atasannya,” lanjut Dedi kepada Jawa Pos Radar Ijen.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/