alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 5 October 2022

Jangan Ulangi Kesalahan BUMD

Upaya Bentuk BUMDes Bersama Aktifkan Resi Gudang Kopi

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Keberadaan aset yang ada di Bondowoso seharusnya memang difungsikan sebagaimana mestinya. Agar manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat. Termasuk yang berkaitan dengan kopi. Salah satunya gedung sentra industri kopi atau Sistem Resi Gudang (SRG) di Desa/Kecamatan Sumberwringin.

Petinju Bondowoso Raih Emas Dalam Kejurnas Tinju Amatir di Sumatera Utara

Pengamat kebijakan publik dan dosen di Universitas Jember (Unej), Hermanto Rohman, menilai Bondowoso adalah daerah yang tepat untuk mengembangkan komoditas kopi. Sebab, mulai dari regulasi, petani, hingga sarana dan prasarana sudah lengkap. Salah satunya resi gudang yang ada di Desa/Kecamatan Sumberwringin. Tempat tersebut dianggap sebagai salah satu upaya untuk menyelamatkan petani kopi. “Harapannya hasil panen kopi tidak dijual dalam bentuk gelondongan,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Hermanto juga menilai, resi gudang adalah upaya yang bagus untuk menampung hasil panen kopi dari para petani. Sebab, menjadi solusi terbaik bagi petani kopi yang tidak memiliki gudang sendiri. Sebelumnya, lanjut Hermanto, Pemkab Bondowoso sudah menyiapkan kelembagaannya. Berupa Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Namun, lembaga itu tersandung masalah. “Akhirnya, apa yang sudah didesain dalam peraturan bupati itu tidak dilanjutkan,” tegasnya.

Oleh sebab itu, dia menegaskan, fasilitas resi gudang itu harus difungsikan kembali sebagaimana mestinya. Agar tidak menjadi aset yang tidak memiliki manfaat. Terlebih, Bondowoso dianggap tidak bisa menghilangkan citra sebagai daerah penghasil kopi yang dilirik oleh masyarakat luas.

Salah satu skema untuk mengaktifkan kembali resi gudang itu adalah bekerja sama dengan kelompok-kelompok petani kopi serta membuat koperasi khusus. Hal itu untuk diberikan kewenangan mengelola tempat yang dibangun pada 2014 itu. Sebab, saat ini banyak petani yang sudah berjalan sendiri-sendiri. “Itu yang semakin menjatuhkan nilai tawar petani,” imbuhnya.

Dikonfirmasi terkait rencana pemkab untuk memihakketigakan tempat itu kepada BUMDes bersama, dia mengatakan, tidak masalah, daripada aset yang dimiliki tidak dimanfaatkan. Dengan catatan, harus diperjelas konsepsi, manajemen, serta keanggotaannya. Termasuk memperjelas skema proses bisnisnya seperti apa ke depannya. Agar tidak menjadi bom waktu di masa mendatang. “Saya khawatir keberadaan BUMDes bersama ini ketika mengelola sama dengan keberadaan BUMD,” pungkasnya.

Jurnalis: Ilham Wahyudi
Fotografer: Ilham Wahyudi
Editor: Dwi Siswanto

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Keberadaan aset yang ada di Bondowoso seharusnya memang difungsikan sebagaimana mestinya. Agar manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat. Termasuk yang berkaitan dengan kopi. Salah satunya gedung sentra industri kopi atau Sistem Resi Gudang (SRG) di Desa/Kecamatan Sumberwringin.

Petinju Bondowoso Raih Emas Dalam Kejurnas Tinju Amatir di Sumatera Utara

Pengamat kebijakan publik dan dosen di Universitas Jember (Unej), Hermanto Rohman, menilai Bondowoso adalah daerah yang tepat untuk mengembangkan komoditas kopi. Sebab, mulai dari regulasi, petani, hingga sarana dan prasarana sudah lengkap. Salah satunya resi gudang yang ada di Desa/Kecamatan Sumberwringin. Tempat tersebut dianggap sebagai salah satu upaya untuk menyelamatkan petani kopi. “Harapannya hasil panen kopi tidak dijual dalam bentuk gelondongan,” katanya.

Hermanto juga menilai, resi gudang adalah upaya yang bagus untuk menampung hasil panen kopi dari para petani. Sebab, menjadi solusi terbaik bagi petani kopi yang tidak memiliki gudang sendiri. Sebelumnya, lanjut Hermanto, Pemkab Bondowoso sudah menyiapkan kelembagaannya. Berupa Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Namun, lembaga itu tersandung masalah. “Akhirnya, apa yang sudah didesain dalam peraturan bupati itu tidak dilanjutkan,” tegasnya.

Oleh sebab itu, dia menegaskan, fasilitas resi gudang itu harus difungsikan kembali sebagaimana mestinya. Agar tidak menjadi aset yang tidak memiliki manfaat. Terlebih, Bondowoso dianggap tidak bisa menghilangkan citra sebagai daerah penghasil kopi yang dilirik oleh masyarakat luas.

Salah satu skema untuk mengaktifkan kembali resi gudang itu adalah bekerja sama dengan kelompok-kelompok petani kopi serta membuat koperasi khusus. Hal itu untuk diberikan kewenangan mengelola tempat yang dibangun pada 2014 itu. Sebab, saat ini banyak petani yang sudah berjalan sendiri-sendiri. “Itu yang semakin menjatuhkan nilai tawar petani,” imbuhnya.

Dikonfirmasi terkait rencana pemkab untuk memihakketigakan tempat itu kepada BUMDes bersama, dia mengatakan, tidak masalah, daripada aset yang dimiliki tidak dimanfaatkan. Dengan catatan, harus diperjelas konsepsi, manajemen, serta keanggotaannya. Termasuk memperjelas skema proses bisnisnya seperti apa ke depannya. Agar tidak menjadi bom waktu di masa mendatang. “Saya khawatir keberadaan BUMDes bersama ini ketika mengelola sama dengan keberadaan BUMD,” pungkasnya.

Jurnalis: Ilham Wahyudi
Fotografer: Ilham Wahyudi
Editor: Dwi Siswanto

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Keberadaan aset yang ada di Bondowoso seharusnya memang difungsikan sebagaimana mestinya. Agar manfaatnya bisa dirasakan oleh masyarakat. Termasuk yang berkaitan dengan kopi. Salah satunya gedung sentra industri kopi atau Sistem Resi Gudang (SRG) di Desa/Kecamatan Sumberwringin.

Petinju Bondowoso Raih Emas Dalam Kejurnas Tinju Amatir di Sumatera Utara

Pengamat kebijakan publik dan dosen di Universitas Jember (Unej), Hermanto Rohman, menilai Bondowoso adalah daerah yang tepat untuk mengembangkan komoditas kopi. Sebab, mulai dari regulasi, petani, hingga sarana dan prasarana sudah lengkap. Salah satunya resi gudang yang ada di Desa/Kecamatan Sumberwringin. Tempat tersebut dianggap sebagai salah satu upaya untuk menyelamatkan petani kopi. “Harapannya hasil panen kopi tidak dijual dalam bentuk gelondongan,” katanya.

Hermanto juga menilai, resi gudang adalah upaya yang bagus untuk menampung hasil panen kopi dari para petani. Sebab, menjadi solusi terbaik bagi petani kopi yang tidak memiliki gudang sendiri. Sebelumnya, lanjut Hermanto, Pemkab Bondowoso sudah menyiapkan kelembagaannya. Berupa Badan Usaha Milik Daerah (BUMD). Namun, lembaga itu tersandung masalah. “Akhirnya, apa yang sudah didesain dalam peraturan bupati itu tidak dilanjutkan,” tegasnya.

Oleh sebab itu, dia menegaskan, fasilitas resi gudang itu harus difungsikan kembali sebagaimana mestinya. Agar tidak menjadi aset yang tidak memiliki manfaat. Terlebih, Bondowoso dianggap tidak bisa menghilangkan citra sebagai daerah penghasil kopi yang dilirik oleh masyarakat luas.

Salah satu skema untuk mengaktifkan kembali resi gudang itu adalah bekerja sama dengan kelompok-kelompok petani kopi serta membuat koperasi khusus. Hal itu untuk diberikan kewenangan mengelola tempat yang dibangun pada 2014 itu. Sebab, saat ini banyak petani yang sudah berjalan sendiri-sendiri. “Itu yang semakin menjatuhkan nilai tawar petani,” imbuhnya.

Dikonfirmasi terkait rencana pemkab untuk memihakketigakan tempat itu kepada BUMDes bersama, dia mengatakan, tidak masalah, daripada aset yang dimiliki tidak dimanfaatkan. Dengan catatan, harus diperjelas konsepsi, manajemen, serta keanggotaannya. Termasuk memperjelas skema proses bisnisnya seperti apa ke depannya. Agar tidak menjadi bom waktu di masa mendatang. “Saya khawatir keberadaan BUMDes bersama ini ketika mengelola sama dengan keberadaan BUMD,” pungkasnya.

Jurnalis: Ilham Wahyudi
Fotografer: Ilham Wahyudi
Editor: Dwi Siswanto

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/