alexametrics
27.9 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

LPG Mahal karena Persoalan Klasik

Pemkab Sebut Pengguna dan Proses Distribusi Bermasalah

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID– Mahal dan langkanya gas LPG 3 kg mendapat respons dari Pemkab Bondowoso. Bahkan, Wakil Bupati Irwan Bachtiar langsung yang menanggapi. Bersama Bagian Perekonomian, wabup merilis hasil penelusuran mahalnya barang subsidi berupa tabung gas melon ini, kemarin. Masalahnya klasik, mulai dari pengguna yang tidak berhak sampai banyaknya pengecer yang membuat mahal.

Wabup Irwan dalam press release kelangkaan LPG 3 kg di Sabha Bina Praja 2, kemarin, mengatakan, gas melon seharusnya hanya digunakan warga miskin. Tetapi, kenyataannya masih banyak digunakan warga yang tidak miskin. Akibatnya, banyak warga miskin yang kesulitan memakai benda subsidi ini. “Ada kalangan ASN juga yang di rumahnya menggunakan gas LPG bersubsidi. Seharusnya, ini digunakan oleh warga miskin,” jelasnya.

Selain itu, masih banyak hotel, restoran, dan rumah makan yang masih menggunakan gas jenis satu ini. Padahal, seharusnya mereka tidak boleh menggunakan elpiji bersubsidi. “Ini permasalahan-permasalahan yang terjadi,” tegasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Di sisi lain, wabup menilai distribusi dari gas LPG ini masih dirasa kurang tepat sasaran, serta masih rawan dilakukan penimbunan. Seharusnya, dari distributor resmi ke agen. Kemudian, dari agen ke pangkalan. Dari pangkalan ini seharusnya yang langsung melayani masyarakat. Tetapi, faktanya setelah dari pangkalan masih ada para pengecer. Hal ini yang menjadi salah satu penyebab gas ini langka.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID– Mahal dan langkanya gas LPG 3 kg mendapat respons dari Pemkab Bondowoso. Bahkan, Wakil Bupati Irwan Bachtiar langsung yang menanggapi. Bersama Bagian Perekonomian, wabup merilis hasil penelusuran mahalnya barang subsidi berupa tabung gas melon ini, kemarin. Masalahnya klasik, mulai dari pengguna yang tidak berhak sampai banyaknya pengecer yang membuat mahal.

Wabup Irwan dalam press release kelangkaan LPG 3 kg di Sabha Bina Praja 2, kemarin, mengatakan, gas melon seharusnya hanya digunakan warga miskin. Tetapi, kenyataannya masih banyak digunakan warga yang tidak miskin. Akibatnya, banyak warga miskin yang kesulitan memakai benda subsidi ini. “Ada kalangan ASN juga yang di rumahnya menggunakan gas LPG bersubsidi. Seharusnya, ini digunakan oleh warga miskin,” jelasnya.

Selain itu, masih banyak hotel, restoran, dan rumah makan yang masih menggunakan gas jenis satu ini. Padahal, seharusnya mereka tidak boleh menggunakan elpiji bersubsidi. “Ini permasalahan-permasalahan yang terjadi,” tegasnya.

Di sisi lain, wabup menilai distribusi dari gas LPG ini masih dirasa kurang tepat sasaran, serta masih rawan dilakukan penimbunan. Seharusnya, dari distributor resmi ke agen. Kemudian, dari agen ke pangkalan. Dari pangkalan ini seharusnya yang langsung melayani masyarakat. Tetapi, faktanya setelah dari pangkalan masih ada para pengecer. Hal ini yang menjadi salah satu penyebab gas ini langka.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID– Mahal dan langkanya gas LPG 3 kg mendapat respons dari Pemkab Bondowoso. Bahkan, Wakil Bupati Irwan Bachtiar langsung yang menanggapi. Bersama Bagian Perekonomian, wabup merilis hasil penelusuran mahalnya barang subsidi berupa tabung gas melon ini, kemarin. Masalahnya klasik, mulai dari pengguna yang tidak berhak sampai banyaknya pengecer yang membuat mahal.

Wabup Irwan dalam press release kelangkaan LPG 3 kg di Sabha Bina Praja 2, kemarin, mengatakan, gas melon seharusnya hanya digunakan warga miskin. Tetapi, kenyataannya masih banyak digunakan warga yang tidak miskin. Akibatnya, banyak warga miskin yang kesulitan memakai benda subsidi ini. “Ada kalangan ASN juga yang di rumahnya menggunakan gas LPG bersubsidi. Seharusnya, ini digunakan oleh warga miskin,” jelasnya.

Selain itu, masih banyak hotel, restoran, dan rumah makan yang masih menggunakan gas jenis satu ini. Padahal, seharusnya mereka tidak boleh menggunakan elpiji bersubsidi. “Ini permasalahan-permasalahan yang terjadi,” tegasnya.

Di sisi lain, wabup menilai distribusi dari gas LPG ini masih dirasa kurang tepat sasaran, serta masih rawan dilakukan penimbunan. Seharusnya, dari distributor resmi ke agen. Kemudian, dari agen ke pangkalan. Dari pangkalan ini seharusnya yang langsung melayani masyarakat. Tetapi, faktanya setelah dari pangkalan masih ada para pengecer. Hal ini yang menjadi salah satu penyebab gas ini langka.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/