alexametrics
23 C
Jember
Friday, 20 May 2022

Berikan Pelatihan Membatik hingga Luar Pulau

Mobile_AP_Rectangle 1

TAMANAN, Radar Ijen – Batik merupakan warisan budaya tak benda milik Indonesia, yang sudah ditetapkan oleh UNESCO pada 2009 lalu. Perajin batik di Indonesia memang tersebar hampir di seluruh pelosok negeri. Termasuk di Kabupaten Bondowoso.

Salah satunya Andriyanto, seorang pengrajin batik yang dikenal dengan nama Ijen Batik. Selain dikenal karena karya-karyanya, dia juga dikenal kerap memberikan pengalaman atau ilmunya kepada orang lain. Baik melalui seminar ataupun workshop dalam acara tertentu.

Bahkan beberapa waktu lalu, pria kelahiran Kecamatan Tamanan ini memberikan pelatihan kepada ibu-ibu di Palu. Tepatnya di Desa Pombewe, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Pelatihan yang merupakan program dari kementerian tersebut dilakukan dengan jangka waktu cukup lama, yakni satu pekan.

Mobile_AP_Rectangle 2

Andriyanto mengatakan, pelatihan tersebut diberikan dalam rangka pemberdayaan masyarakat setempat. Terlebih, di tempat itu memang belum ada sama sekali sanggar batik. Desa Pombewe memang agak jauh dari kota, sehingga pelatihan itu dilakukan sederhana, bahkan tidak memakai banner saat pelatihan. Tetapi antusiasme warga sangat luar biasa. “Saya sangat kagumi semangat mereka. Mungkin karena tidak ada batik,” jelas Andri.

Selama ini, kata dia, seragam di sana menggunakan tenun dari Donggala. Sementara untuk batik, warga memesan dari Pulau Jawa. Mereka sebenarnya memesan batik tulis, tetapi ternyata yang dikirim batik printing. Karena warga di sana tidak tahu bedanya. “Setelah dikasih tahu, mereka sadar kalau selama ini yang dipakai itu batik printing,” jelas dia.

- Advertisement -

TAMANAN, Radar Ijen – Batik merupakan warisan budaya tak benda milik Indonesia, yang sudah ditetapkan oleh UNESCO pada 2009 lalu. Perajin batik di Indonesia memang tersebar hampir di seluruh pelosok negeri. Termasuk di Kabupaten Bondowoso.

Salah satunya Andriyanto, seorang pengrajin batik yang dikenal dengan nama Ijen Batik. Selain dikenal karena karya-karyanya, dia juga dikenal kerap memberikan pengalaman atau ilmunya kepada orang lain. Baik melalui seminar ataupun workshop dalam acara tertentu.

Bahkan beberapa waktu lalu, pria kelahiran Kecamatan Tamanan ini memberikan pelatihan kepada ibu-ibu di Palu. Tepatnya di Desa Pombewe, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Pelatihan yang merupakan program dari kementerian tersebut dilakukan dengan jangka waktu cukup lama, yakni satu pekan.

Andriyanto mengatakan, pelatihan tersebut diberikan dalam rangka pemberdayaan masyarakat setempat. Terlebih, di tempat itu memang belum ada sama sekali sanggar batik. Desa Pombewe memang agak jauh dari kota, sehingga pelatihan itu dilakukan sederhana, bahkan tidak memakai banner saat pelatihan. Tetapi antusiasme warga sangat luar biasa. “Saya sangat kagumi semangat mereka. Mungkin karena tidak ada batik,” jelas Andri.

Selama ini, kata dia, seragam di sana menggunakan tenun dari Donggala. Sementara untuk batik, warga memesan dari Pulau Jawa. Mereka sebenarnya memesan batik tulis, tetapi ternyata yang dikirim batik printing. Karena warga di sana tidak tahu bedanya. “Setelah dikasih tahu, mereka sadar kalau selama ini yang dipakai itu batik printing,” jelas dia.

TAMANAN, Radar Ijen – Batik merupakan warisan budaya tak benda milik Indonesia, yang sudah ditetapkan oleh UNESCO pada 2009 lalu. Perajin batik di Indonesia memang tersebar hampir di seluruh pelosok negeri. Termasuk di Kabupaten Bondowoso.

Salah satunya Andriyanto, seorang pengrajin batik yang dikenal dengan nama Ijen Batik. Selain dikenal karena karya-karyanya, dia juga dikenal kerap memberikan pengalaman atau ilmunya kepada orang lain. Baik melalui seminar ataupun workshop dalam acara tertentu.

Bahkan beberapa waktu lalu, pria kelahiran Kecamatan Tamanan ini memberikan pelatihan kepada ibu-ibu di Palu. Tepatnya di Desa Pombewe, Kecamatan Sigi Biromaru, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Pelatihan yang merupakan program dari kementerian tersebut dilakukan dengan jangka waktu cukup lama, yakni satu pekan.

Andriyanto mengatakan, pelatihan tersebut diberikan dalam rangka pemberdayaan masyarakat setempat. Terlebih, di tempat itu memang belum ada sama sekali sanggar batik. Desa Pombewe memang agak jauh dari kota, sehingga pelatihan itu dilakukan sederhana, bahkan tidak memakai banner saat pelatihan. Tetapi antusiasme warga sangat luar biasa. “Saya sangat kagumi semangat mereka. Mungkin karena tidak ada batik,” jelas Andri.

Selama ini, kata dia, seragam di sana menggunakan tenun dari Donggala. Sementara untuk batik, warga memesan dari Pulau Jawa. Mereka sebenarnya memesan batik tulis, tetapi ternyata yang dikirim batik printing. Karena warga di sana tidak tahu bedanya. “Setelah dikasih tahu, mereka sadar kalau selama ini yang dipakai itu batik printing,” jelas dia.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/