22.4 C
Jember
Monday, 5 June 2023

Sulit Cari Generasi Petani Kopi

Bondowoso Republik Kopi (BRK), brand itu membuat nama Bondowoso dikenal sebagai daerah penghasil kopi terbaik. Tampaknya saat ini menghadapi tantangan baru, yakni regenerasi petani kopi.

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Ada dua jenis kopi asal Bondowoso yang sudah memiliki hak kekayaan intelektual (HKI). Di antaranya arabika Ijen-Raung dan arabika Hyang Argopuro. Kondisi tersebut membuat petani kopi semakin bersemangat untuk meningkatkan produksi.

BACA JUGA : Ruang Kontrol Bandara Notohadinegoro Ibarat Main Game, tapi Urusan Nyawa

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Bondowoso, secara keseluruhan produksi kopi di Bondowoso setiap tahun mencapai ribuan ton. Pada tahun 2021 produksi kopi arabika mencapai 2.110 ton. Kemudian, robusta mencapai 2.225 ton. Sementara, daerah penghasil kopi terbanyak adalah Kecamatan Sumberwringin, untuk arabika mencapai 1.258 ton. Sedangkan robusta produksinya mencapai 778 ton per tahun.

Mobile_AP_Rectangle 2

Meski jumlah produksi kopi di Bondowoso ribuan ton, tapi petani kopi saat ini malah mengeluh. Sebab, menurut mereka sangat kesulitan untuk mendapatkan penerus usaha kopi. Ofidaningsih, petani kopi Hyang Argopuro, menyampaikan, saat ini memang banyak kalangan milenial yang enggan untuk menekuni profesi sebagai petani kopi. Bahkan, jenis tanaman kopi arabika dan robusta saja banyak yang tidak paham.

Menurutnya, hal itu membutuhkan dukungan dari semua pihak. Agar generasi penerus mau menjadi petani atau pengusaha kopi. “Masak tahunya cuma kopi hitam, itu saja,” sesalnya.

Dia berharap pihak terkait ikut mendukung agar anak muda atau milenial mau menjadi petani kopi. Misalnya dengan cara memberikan pelatihan, edukasi, dan sebagainya. Terlebih, menurutnya, kopi dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya di perdesaan.

Justru, kata dia, yang tertarik bertani kopi anak muda dari kota. “Anak muda di desa ini tidak tertarik jadi petani kopi. Kalau seperti ini terus, lahan kopi yang mengelola orang kota. Orang desa yang punya lahan hanya menyaksikan, karena anak cucunya tidak mau jadi petani kopi,” terangnya.

Padahal, kata dia, secara ekonomi lebih menjanjikan menjadi petani kopi ini. Apalagi, tidak semua lahan memiliki potensi yang sama untuk tanam kopi. “Daerah lereng gunung ini punya banyak potensi menghasilkan kopi berkualitas,” paparnya.

Dia mencontohkan, kopi yang diproses dengan baik harganya sangat meningkat tajam daripada dijual glondongan. “Biasanya (kopi, Red) yang dijual glondongan Rp 80 ribu per kilogram. Kalau diproses dengan bagus, bisa dijual Rp 400 ribu per kilogram,” pungkasnya. (ham/c2/dwi)

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Ada dua jenis kopi asal Bondowoso yang sudah memiliki hak kekayaan intelektual (HKI). Di antaranya arabika Ijen-Raung dan arabika Hyang Argopuro. Kondisi tersebut membuat petani kopi semakin bersemangat untuk meningkatkan produksi.

BACA JUGA : Ruang Kontrol Bandara Notohadinegoro Ibarat Main Game, tapi Urusan Nyawa

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Bondowoso, secara keseluruhan produksi kopi di Bondowoso setiap tahun mencapai ribuan ton. Pada tahun 2021 produksi kopi arabika mencapai 2.110 ton. Kemudian, robusta mencapai 2.225 ton. Sementara, daerah penghasil kopi terbanyak adalah Kecamatan Sumberwringin, untuk arabika mencapai 1.258 ton. Sedangkan robusta produksinya mencapai 778 ton per tahun.

Meski jumlah produksi kopi di Bondowoso ribuan ton, tapi petani kopi saat ini malah mengeluh. Sebab, menurut mereka sangat kesulitan untuk mendapatkan penerus usaha kopi. Ofidaningsih, petani kopi Hyang Argopuro, menyampaikan, saat ini memang banyak kalangan milenial yang enggan untuk menekuni profesi sebagai petani kopi. Bahkan, jenis tanaman kopi arabika dan robusta saja banyak yang tidak paham.

Menurutnya, hal itu membutuhkan dukungan dari semua pihak. Agar generasi penerus mau menjadi petani atau pengusaha kopi. “Masak tahunya cuma kopi hitam, itu saja,” sesalnya.

Dia berharap pihak terkait ikut mendukung agar anak muda atau milenial mau menjadi petani kopi. Misalnya dengan cara memberikan pelatihan, edukasi, dan sebagainya. Terlebih, menurutnya, kopi dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya di perdesaan.

Justru, kata dia, yang tertarik bertani kopi anak muda dari kota. “Anak muda di desa ini tidak tertarik jadi petani kopi. Kalau seperti ini terus, lahan kopi yang mengelola orang kota. Orang desa yang punya lahan hanya menyaksikan, karena anak cucunya tidak mau jadi petani kopi,” terangnya.

Padahal, kata dia, secara ekonomi lebih menjanjikan menjadi petani kopi ini. Apalagi, tidak semua lahan memiliki potensi yang sama untuk tanam kopi. “Daerah lereng gunung ini punya banyak potensi menghasilkan kopi berkualitas,” paparnya.

Dia mencontohkan, kopi yang diproses dengan baik harganya sangat meningkat tajam daripada dijual glondongan. “Biasanya (kopi, Red) yang dijual glondongan Rp 80 ribu per kilogram. Kalau diproses dengan bagus, bisa dijual Rp 400 ribu per kilogram,” pungkasnya. (ham/c2/dwi)

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Ada dua jenis kopi asal Bondowoso yang sudah memiliki hak kekayaan intelektual (HKI). Di antaranya arabika Ijen-Raung dan arabika Hyang Argopuro. Kondisi tersebut membuat petani kopi semakin bersemangat untuk meningkatkan produksi.

BACA JUGA : Ruang Kontrol Bandara Notohadinegoro Ibarat Main Game, tapi Urusan Nyawa

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Bondowoso, secara keseluruhan produksi kopi di Bondowoso setiap tahun mencapai ribuan ton. Pada tahun 2021 produksi kopi arabika mencapai 2.110 ton. Kemudian, robusta mencapai 2.225 ton. Sementara, daerah penghasil kopi terbanyak adalah Kecamatan Sumberwringin, untuk arabika mencapai 1.258 ton. Sedangkan robusta produksinya mencapai 778 ton per tahun.

Meski jumlah produksi kopi di Bondowoso ribuan ton, tapi petani kopi saat ini malah mengeluh. Sebab, menurut mereka sangat kesulitan untuk mendapatkan penerus usaha kopi. Ofidaningsih, petani kopi Hyang Argopuro, menyampaikan, saat ini memang banyak kalangan milenial yang enggan untuk menekuni profesi sebagai petani kopi. Bahkan, jenis tanaman kopi arabika dan robusta saja banyak yang tidak paham.

Menurutnya, hal itu membutuhkan dukungan dari semua pihak. Agar generasi penerus mau menjadi petani atau pengusaha kopi. “Masak tahunya cuma kopi hitam, itu saja,” sesalnya.

Dia berharap pihak terkait ikut mendukung agar anak muda atau milenial mau menjadi petani kopi. Misalnya dengan cara memberikan pelatihan, edukasi, dan sebagainya. Terlebih, menurutnya, kopi dapat meningkatkan perekonomian masyarakat, khususnya di perdesaan.

Justru, kata dia, yang tertarik bertani kopi anak muda dari kota. “Anak muda di desa ini tidak tertarik jadi petani kopi. Kalau seperti ini terus, lahan kopi yang mengelola orang kota. Orang desa yang punya lahan hanya menyaksikan, karena anak cucunya tidak mau jadi petani kopi,” terangnya.

Padahal, kata dia, secara ekonomi lebih menjanjikan menjadi petani kopi ini. Apalagi, tidak semua lahan memiliki potensi yang sama untuk tanam kopi. “Daerah lereng gunung ini punya banyak potensi menghasilkan kopi berkualitas,” paparnya.

Dia mencontohkan, kopi yang diproses dengan baik harganya sangat meningkat tajam daripada dijual glondongan. “Biasanya (kopi, Red) yang dijual glondongan Rp 80 ribu per kilogram. Kalau diproses dengan bagus, bisa dijual Rp 400 ribu per kilogram,” pungkasnya. (ham/c2/dwi)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca