alexametrics
24.8 C
Jember
Sunday, 22 May 2022

Situs Kodedek Terkendala Akses Jalan, Belum Dijadikan Klaster Informasi

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Situs purbakala batu megalitikum yang berada di Dusun Kodedek, Desa Gunungsari, Kecamatan Maesan, masih jarang dikunjungi pengunjung. Padahal, situs purbakala yang biasa disebut Situs Kodedek ini cukup unik.

Ada tiga jenis batu peninggalan zaman purbakala. Yakni batu kenong, menhir, dan dolmen. Total ada 15 batu kenong, dan masing-masing satu batu menhir serta dolmen. Batu-batu Situs Kodedek pun unik, seperti terpusat pada satu titik area melingkar.

Menurut Heri Kusdaryanto, Kepala Seksi (Kasi) Sejarah dan Purbakala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bondowoso, Situs Kodedek sebenarnya memiliki rencana bakal dijadikan klaster pusat informasi. Klaster informasi dari Pusat Informasi Megalitikum Bondowoso (PIMB) yang berada di Kecamatan Grujugan. Sebab, salah satu alasannya, Situs Kodedek adalah salah satu situs unik.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Batu-batunya melingkar. Dan di tengah-tengahnya ada batu dolmennya. Tetapi, untuk saat ini belum bisa dijadikan klaster informasi karena akses jalan menuju ke sana masih belum baik. Dan itu nantinya bisa berpengaruh pada tingkat kunjungan,” jelas Heri kepada Jawa Pos Radar Ijen.

Sementara itu, area situs pun sudah dipasang pagar pembatas. Pemasangan pagar tersebut dikerjakan tahun 2020 lalu. “Pemasangan pagar itu bertujuan untuk keamanan. Karena di sana masih banyak hewan-hewan liar. Takutnya bisa merusak keutuhan bentuk batu yang ada,” lanjutnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Situs purbakala batu megalitikum yang berada di Dusun Kodedek, Desa Gunungsari, Kecamatan Maesan, masih jarang dikunjungi pengunjung. Padahal, situs purbakala yang biasa disebut Situs Kodedek ini cukup unik.

Ada tiga jenis batu peninggalan zaman purbakala. Yakni batu kenong, menhir, dan dolmen. Total ada 15 batu kenong, dan masing-masing satu batu menhir serta dolmen. Batu-batu Situs Kodedek pun unik, seperti terpusat pada satu titik area melingkar.

Menurut Heri Kusdaryanto, Kepala Seksi (Kasi) Sejarah dan Purbakala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bondowoso, Situs Kodedek sebenarnya memiliki rencana bakal dijadikan klaster pusat informasi. Klaster informasi dari Pusat Informasi Megalitikum Bondowoso (PIMB) yang berada di Kecamatan Grujugan. Sebab, salah satu alasannya, Situs Kodedek adalah salah satu situs unik.

“Batu-batunya melingkar. Dan di tengah-tengahnya ada batu dolmennya. Tetapi, untuk saat ini belum bisa dijadikan klaster informasi karena akses jalan menuju ke sana masih belum baik. Dan itu nantinya bisa berpengaruh pada tingkat kunjungan,” jelas Heri kepada Jawa Pos Radar Ijen.

Sementara itu, area situs pun sudah dipasang pagar pembatas. Pemasangan pagar tersebut dikerjakan tahun 2020 lalu. “Pemasangan pagar itu bertujuan untuk keamanan. Karena di sana masih banyak hewan-hewan liar. Takutnya bisa merusak keutuhan bentuk batu yang ada,” lanjutnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Situs purbakala batu megalitikum yang berada di Dusun Kodedek, Desa Gunungsari, Kecamatan Maesan, masih jarang dikunjungi pengunjung. Padahal, situs purbakala yang biasa disebut Situs Kodedek ini cukup unik.

Ada tiga jenis batu peninggalan zaman purbakala. Yakni batu kenong, menhir, dan dolmen. Total ada 15 batu kenong, dan masing-masing satu batu menhir serta dolmen. Batu-batu Situs Kodedek pun unik, seperti terpusat pada satu titik area melingkar.

Menurut Heri Kusdaryanto, Kepala Seksi (Kasi) Sejarah dan Purbakala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Bondowoso, Situs Kodedek sebenarnya memiliki rencana bakal dijadikan klaster pusat informasi. Klaster informasi dari Pusat Informasi Megalitikum Bondowoso (PIMB) yang berada di Kecamatan Grujugan. Sebab, salah satu alasannya, Situs Kodedek adalah salah satu situs unik.

“Batu-batunya melingkar. Dan di tengah-tengahnya ada batu dolmennya. Tetapi, untuk saat ini belum bisa dijadikan klaster informasi karena akses jalan menuju ke sana masih belum baik. Dan itu nantinya bisa berpengaruh pada tingkat kunjungan,” jelas Heri kepada Jawa Pos Radar Ijen.

Sementara itu, area situs pun sudah dipasang pagar pembatas. Pemasangan pagar tersebut dikerjakan tahun 2020 lalu. “Pemasangan pagar itu bertujuan untuk keamanan. Karena di sana masih banyak hewan-hewan liar. Takutnya bisa merusak keutuhan bentuk batu yang ada,” lanjutnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/