alexametrics
24 C
Jember
Monday, 8 August 2022

Warga Waswas Dampak Pemadaman Lampu Jalan Rawan Kecelakaan dan Kriminalitas

Sejumlah warga di Kabupaten Bondowoso mulai mengeluhkan pemadaman penerangan jalan umum (PJU) di tengah pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat. Mereka khawatir terjadi kecelakaan dan munculnya aksi kriminalitas saat jalanan gelap.

Mobile_AP_Rectangle 1

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Diketahui, pemadaman penerangan itu dilakukan di semua jalan protokol, pasar induk, Alun-Alun RBA Ki Ronggo, dan semua titik yang dinilai bisa menimbulkan kerumunan. Selain itu, pemadaman juga dilakukan di sejumlah jalan utama yang menghubungkan dengan kecamatan dan kabupaten tetangga.

Jalan penghubung itu di antaranya Jalan Raya Bondowoso-Jember, Jalan Raya Bondowoso-Situbondo, serta jalan menuju Kecamatan Pujer, Tamanan, dan semua ruas jalan yang terdapat PJU.

Sugiarto, salah seorang warga Kecamatan Tamanan, mengaku, jalanan sangat mencekam karena pemadaman PJU tersebut. “Pas saya pulang kerja, gelap. Apalagi di jalan yang jauh dari rumah warga,” katanya, kemarin (14/7).

Mobile_AP_Rectangle 2

Pemadaman PJU tersebut, kata pemuda 28 tahun itu, dilakukan sebelum masuk pukul 20.00. “Setelah Magrib sudah mati semua lampu-lampu di pinggir jalan,” ucapnya.

Meski tujuan pemerintah untuk mengurangi mobilitas saat pandemi Covid-19, tetapi ia mengkhawatirkan terjadi kecelakaan karena jalanan gelap. “Apalagi jalan dari kota menuju Tamanan, jalannya banyak yang berlubang. Jadi, bisa rawan kecelakaan,” jelasnya.

Hal serupa juga diakui oleh Nizam, warga Kecamatan Tlogosari. Jalanan menuju rumahnya di Tlogosari menjadi gulita. Pria satu anak ini khawatir, terjadi kriminalitas seperti penjambretan, begal, dan sebagainya. “Dari arah kota menuju rumah saya banyak lokasi yang jauh dari rumah warga. Betul-betul sepi. Siapa yang bisa menjamin keamanan kami,” ujarnya.

Ia tak keberatan adanya pemadaman PJU, asalkan di titik rawan kecelakaan dan kemungkinan adanya kriminalitas tetap dinyalakan. “Kalau mau dipadamkan semua, saya berharap di titik rawan kejahatan dijaga petugas. Jadi, kebijakan itu juga harus ada antisipasinya,” harapnya.

- Advertisement -

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Diketahui, pemadaman penerangan itu dilakukan di semua jalan protokol, pasar induk, Alun-Alun RBA Ki Ronggo, dan semua titik yang dinilai bisa menimbulkan kerumunan. Selain itu, pemadaman juga dilakukan di sejumlah jalan utama yang menghubungkan dengan kecamatan dan kabupaten tetangga.

Jalan penghubung itu di antaranya Jalan Raya Bondowoso-Jember, Jalan Raya Bondowoso-Situbondo, serta jalan menuju Kecamatan Pujer, Tamanan, dan semua ruas jalan yang terdapat PJU.

Sugiarto, salah seorang warga Kecamatan Tamanan, mengaku, jalanan sangat mencekam karena pemadaman PJU tersebut. “Pas saya pulang kerja, gelap. Apalagi di jalan yang jauh dari rumah warga,” katanya, kemarin (14/7).

Pemadaman PJU tersebut, kata pemuda 28 tahun itu, dilakukan sebelum masuk pukul 20.00. “Setelah Magrib sudah mati semua lampu-lampu di pinggir jalan,” ucapnya.

Meski tujuan pemerintah untuk mengurangi mobilitas saat pandemi Covid-19, tetapi ia mengkhawatirkan terjadi kecelakaan karena jalanan gelap. “Apalagi jalan dari kota menuju Tamanan, jalannya banyak yang berlubang. Jadi, bisa rawan kecelakaan,” jelasnya.

Hal serupa juga diakui oleh Nizam, warga Kecamatan Tlogosari. Jalanan menuju rumahnya di Tlogosari menjadi gulita. Pria satu anak ini khawatir, terjadi kriminalitas seperti penjambretan, begal, dan sebagainya. “Dari arah kota menuju rumah saya banyak lokasi yang jauh dari rumah warga. Betul-betul sepi. Siapa yang bisa menjamin keamanan kami,” ujarnya.

Ia tak keberatan adanya pemadaman PJU, asalkan di titik rawan kecelakaan dan kemungkinan adanya kriminalitas tetap dinyalakan. “Kalau mau dipadamkan semua, saya berharap di titik rawan kejahatan dijaga petugas. Jadi, kebijakan itu juga harus ada antisipasinya,” harapnya.

JEMBER, RADARJEMBER.ID – Diketahui, pemadaman penerangan itu dilakukan di semua jalan protokol, pasar induk, Alun-Alun RBA Ki Ronggo, dan semua titik yang dinilai bisa menimbulkan kerumunan. Selain itu, pemadaman juga dilakukan di sejumlah jalan utama yang menghubungkan dengan kecamatan dan kabupaten tetangga.

Jalan penghubung itu di antaranya Jalan Raya Bondowoso-Jember, Jalan Raya Bondowoso-Situbondo, serta jalan menuju Kecamatan Pujer, Tamanan, dan semua ruas jalan yang terdapat PJU.

Sugiarto, salah seorang warga Kecamatan Tamanan, mengaku, jalanan sangat mencekam karena pemadaman PJU tersebut. “Pas saya pulang kerja, gelap. Apalagi di jalan yang jauh dari rumah warga,” katanya, kemarin (14/7).

Pemadaman PJU tersebut, kata pemuda 28 tahun itu, dilakukan sebelum masuk pukul 20.00. “Setelah Magrib sudah mati semua lampu-lampu di pinggir jalan,” ucapnya.

Meski tujuan pemerintah untuk mengurangi mobilitas saat pandemi Covid-19, tetapi ia mengkhawatirkan terjadi kecelakaan karena jalanan gelap. “Apalagi jalan dari kota menuju Tamanan, jalannya banyak yang berlubang. Jadi, bisa rawan kecelakaan,” jelasnya.

Hal serupa juga diakui oleh Nizam, warga Kecamatan Tlogosari. Jalanan menuju rumahnya di Tlogosari menjadi gulita. Pria satu anak ini khawatir, terjadi kriminalitas seperti penjambretan, begal, dan sebagainya. “Dari arah kota menuju rumah saya banyak lokasi yang jauh dari rumah warga. Betul-betul sepi. Siapa yang bisa menjamin keamanan kami,” ujarnya.

Ia tak keberatan adanya pemadaman PJU, asalkan di titik rawan kecelakaan dan kemungkinan adanya kriminalitas tetap dinyalakan. “Kalau mau dipadamkan semua, saya berharap di titik rawan kejahatan dijaga petugas. Jadi, kebijakan itu juga harus ada antisipasinya,” harapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/