alexametrics
21.6 C
Jember
Tuesday, 28 June 2022

Imbas Alun-Alun Bondowoso Ditutup Selama PPKM

PKL Pindah ke Pinggir Jalan

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sejak diterapkannya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat, sejumlah tempat keramaian ditutup. Begitu juga Alun-Alun RBA Ki Ronggo Bondowoso.

Penutupan tersebut membuat sejumlah pedagang kaki lima (PKL) yang biasa berjualan di tempat itu terpaksa memutar otak. Sebab, meskipun memaksa berjualan, tidak ada pembeli yang mampir. Dampaknya, sejumlah pedagang memutuskan untuk berjualan di lokasi lain. Salah satunya seperti di Jalan RE Martadinata, Kelurahan Dabasah, Kecamatan Bondowoso.

Sugik, salah satu PKL, memutuskan untuk membuka lapaknya di pinggir jalan. Menurut dia, pada hari pertama penerapan PPKM darurat, Sabtu (3/7) lalu, dirinya sempat memaksa untuk tetap berjualan di alun-alun. Tapi, hasilnya hampir tidak ada pembeli yang mampir. Hal tersebut karena jalan di sekitar lokasi tersebut terimbas penyekatan, sehingga tidak ada pengendara yang bisa melintas.

Mobile_AP_Rectangle 2

Hal tersebut tentu membuatnya kaget, apalagi sebelumnya tidak pemberitahuan resmi terkait penutupan akses menuju alun-alun. “Sabtu (3/7) pagi saya kaget waktu buka lapak, tiba-tiba akses ke alun-alun ditutup,” ungkapnya, ketika ditemui di tempat jualannya yang baru, kemarin (14/7) siang.

Mengetahui adanya penyekatan dan penutupan tersebut, Sugik serta pedagang lainnya pun memutuskan untuk balik kanan alias pulang dengan tangan hampa. “Kami dan teman-teman yang lain kaget. Akhirnya, kami pulang karena lokasi juga sepi,” imbuhnya.

Kemudian, Senin (5/7), pihaknya memutuskan untuk berjualan di Jalan RE Martadinata. Harapannya, akan ada pemasukan dari hasil jualannya tersebut. Tapi, ia harus menelan kenyataan yang pahit. Saat awal berjualan di tempat baru, hampir tidak ada pelanggan sama sekali. Hal tersebut karena masih banyak pelanggannya yang belum mengetahui bahwa dirinya pindah lokasi. Sugik mengaku sempat kebingungan mencari tempat jualan lain. Sebab, tempat yang biasa digunakan sebagai tempat jualannya ditutup petugas.

Seiring berjalannya waktu, mulai ada pelanggan yang mengetahui bahwa Sugik berjualan di tempat itu. Walaupun demikian, pendapatan di tempat jualannya yang sekarang sangat tidak menentu. Pasalnya, penghasilannya menurun sampai 60 persen. “Mau gimana lagi. Yang penting ada tempat jualan dulu lah,” tegasnya.

Waktu berjualan saat PPKM darurat ini pun sangat terbatas. Sugik mengaku, sebelum pukul 20.00 malam, dia sudah membereskan tempat jualannya. Apalagi penerangan jalan umum (PJU) di sekitar tempatnya berjualan juga dimatikan.

Selain itu, kendala yang dihadapi saat berjualan di pinggir jalan adalah banyaknya pengendara yang enggan untuk berhenti sekadar membeli minuman atau makanan di pinggir jalan. “Ini kan pinggir jalan, jadi banyak yang nggak mau mampir. Beda sama di pujasera, pengunjung bisa sekalian duduk santai,” katanya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sejak diterapkannya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat, sejumlah tempat keramaian ditutup. Begitu juga Alun-Alun RBA Ki Ronggo Bondowoso.

Penutupan tersebut membuat sejumlah pedagang kaki lima (PKL) yang biasa berjualan di tempat itu terpaksa memutar otak. Sebab, meskipun memaksa berjualan, tidak ada pembeli yang mampir. Dampaknya, sejumlah pedagang memutuskan untuk berjualan di lokasi lain. Salah satunya seperti di Jalan RE Martadinata, Kelurahan Dabasah, Kecamatan Bondowoso.

Sugik, salah satu PKL, memutuskan untuk membuka lapaknya di pinggir jalan. Menurut dia, pada hari pertama penerapan PPKM darurat, Sabtu (3/7) lalu, dirinya sempat memaksa untuk tetap berjualan di alun-alun. Tapi, hasilnya hampir tidak ada pembeli yang mampir. Hal tersebut karena jalan di sekitar lokasi tersebut terimbas penyekatan, sehingga tidak ada pengendara yang bisa melintas.

Hal tersebut tentu membuatnya kaget, apalagi sebelumnya tidak pemberitahuan resmi terkait penutupan akses menuju alun-alun. “Sabtu (3/7) pagi saya kaget waktu buka lapak, tiba-tiba akses ke alun-alun ditutup,” ungkapnya, ketika ditemui di tempat jualannya yang baru, kemarin (14/7) siang.

Mengetahui adanya penyekatan dan penutupan tersebut, Sugik serta pedagang lainnya pun memutuskan untuk balik kanan alias pulang dengan tangan hampa. “Kami dan teman-teman yang lain kaget. Akhirnya, kami pulang karena lokasi juga sepi,” imbuhnya.

Kemudian, Senin (5/7), pihaknya memutuskan untuk berjualan di Jalan RE Martadinata. Harapannya, akan ada pemasukan dari hasil jualannya tersebut. Tapi, ia harus menelan kenyataan yang pahit. Saat awal berjualan di tempat baru, hampir tidak ada pelanggan sama sekali. Hal tersebut karena masih banyak pelanggannya yang belum mengetahui bahwa dirinya pindah lokasi. Sugik mengaku sempat kebingungan mencari tempat jualan lain. Sebab, tempat yang biasa digunakan sebagai tempat jualannya ditutup petugas.

Seiring berjalannya waktu, mulai ada pelanggan yang mengetahui bahwa Sugik berjualan di tempat itu. Walaupun demikian, pendapatan di tempat jualannya yang sekarang sangat tidak menentu. Pasalnya, penghasilannya menurun sampai 60 persen. “Mau gimana lagi. Yang penting ada tempat jualan dulu lah,” tegasnya.

Waktu berjualan saat PPKM darurat ini pun sangat terbatas. Sugik mengaku, sebelum pukul 20.00 malam, dia sudah membereskan tempat jualannya. Apalagi penerangan jalan umum (PJU) di sekitar tempatnya berjualan juga dimatikan.

Selain itu, kendala yang dihadapi saat berjualan di pinggir jalan adalah banyaknya pengendara yang enggan untuk berhenti sekadar membeli minuman atau makanan di pinggir jalan. “Ini kan pinggir jalan, jadi banyak yang nggak mau mampir. Beda sama di pujasera, pengunjung bisa sekalian duduk santai,” katanya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sejak diterapkannya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat, sejumlah tempat keramaian ditutup. Begitu juga Alun-Alun RBA Ki Ronggo Bondowoso.

Penutupan tersebut membuat sejumlah pedagang kaki lima (PKL) yang biasa berjualan di tempat itu terpaksa memutar otak. Sebab, meskipun memaksa berjualan, tidak ada pembeli yang mampir. Dampaknya, sejumlah pedagang memutuskan untuk berjualan di lokasi lain. Salah satunya seperti di Jalan RE Martadinata, Kelurahan Dabasah, Kecamatan Bondowoso.

Sugik, salah satu PKL, memutuskan untuk membuka lapaknya di pinggir jalan. Menurut dia, pada hari pertama penerapan PPKM darurat, Sabtu (3/7) lalu, dirinya sempat memaksa untuk tetap berjualan di alun-alun. Tapi, hasilnya hampir tidak ada pembeli yang mampir. Hal tersebut karena jalan di sekitar lokasi tersebut terimbas penyekatan, sehingga tidak ada pengendara yang bisa melintas.

Hal tersebut tentu membuatnya kaget, apalagi sebelumnya tidak pemberitahuan resmi terkait penutupan akses menuju alun-alun. “Sabtu (3/7) pagi saya kaget waktu buka lapak, tiba-tiba akses ke alun-alun ditutup,” ungkapnya, ketika ditemui di tempat jualannya yang baru, kemarin (14/7) siang.

Mengetahui adanya penyekatan dan penutupan tersebut, Sugik serta pedagang lainnya pun memutuskan untuk balik kanan alias pulang dengan tangan hampa. “Kami dan teman-teman yang lain kaget. Akhirnya, kami pulang karena lokasi juga sepi,” imbuhnya.

Kemudian, Senin (5/7), pihaknya memutuskan untuk berjualan di Jalan RE Martadinata. Harapannya, akan ada pemasukan dari hasil jualannya tersebut. Tapi, ia harus menelan kenyataan yang pahit. Saat awal berjualan di tempat baru, hampir tidak ada pelanggan sama sekali. Hal tersebut karena masih banyak pelanggannya yang belum mengetahui bahwa dirinya pindah lokasi. Sugik mengaku sempat kebingungan mencari tempat jualan lain. Sebab, tempat yang biasa digunakan sebagai tempat jualannya ditutup petugas.

Seiring berjalannya waktu, mulai ada pelanggan yang mengetahui bahwa Sugik berjualan di tempat itu. Walaupun demikian, pendapatan di tempat jualannya yang sekarang sangat tidak menentu. Pasalnya, penghasilannya menurun sampai 60 persen. “Mau gimana lagi. Yang penting ada tempat jualan dulu lah,” tegasnya.

Waktu berjualan saat PPKM darurat ini pun sangat terbatas. Sugik mengaku, sebelum pukul 20.00 malam, dia sudah membereskan tempat jualannya. Apalagi penerangan jalan umum (PJU) di sekitar tempatnya berjualan juga dimatikan.

Selain itu, kendala yang dihadapi saat berjualan di pinggir jalan adalah banyaknya pengendara yang enggan untuk berhenti sekadar membeli minuman atau makanan di pinggir jalan. “Ini kan pinggir jalan, jadi banyak yang nggak mau mampir. Beda sama di pujasera, pengunjung bisa sekalian duduk santai,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/