alexametrics
32.2 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Barang Subsidi Itu Masih Terus Langka

Adapun Harganya sampai Rp 28 Ribu

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sulit lagi, lagi-lagi sulit. Itulah yang dialami masyarakat ketika mencari gas LPG 3 kg alias gas melon. Barang subsidi itu kembali langka. Adapun penjualnya tidak memakai patokan harga eceran tertinggi (HET). Dipastikan harganya di atasnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Ijen, ada seorang warga yang mencurahkan situasi saat ini di media sosial. “Kenapa gas elpiji langka? Setelah ada, harganya luar biasa. Siapa yang salah, pemerintah atau rakyat?” tulis sebuah akun Facebook bernama Supa’at Kurniawan di salah satu grup.

Kalaupun gas melon tersedia, ada sebagian warga mendapatkan gas dengan harga Rp 28 ribu. Padahal berdasarkan Peraturan Gubernur Jatim Nomor 6 Tahun 2015, HET LPG 3 kg Rp 16 ribu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Mengomentari problem klasik itu, Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian Pemkab Bondowoso Aris Wasiyanto menjelaskan, kelangkaan gas bersubsidi disebabkan penggunaannya salah sasaran. Masyarakat mampu, pengusaha hotel, hingga peternakan ayam menggunakan gas tersebut untuk kebutuhan usaha mereka. “Mereka yang kaya-kaya memakai tabung 3 kilo. Sebenarnya tidak layak,” katanya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sulit lagi, lagi-lagi sulit. Itulah yang dialami masyarakat ketika mencari gas LPG 3 kg alias gas melon. Barang subsidi itu kembali langka. Adapun penjualnya tidak memakai patokan harga eceran tertinggi (HET). Dipastikan harganya di atasnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Ijen, ada seorang warga yang mencurahkan situasi saat ini di media sosial. “Kenapa gas elpiji langka? Setelah ada, harganya luar biasa. Siapa yang salah, pemerintah atau rakyat?” tulis sebuah akun Facebook bernama Supa’at Kurniawan di salah satu grup.

Kalaupun gas melon tersedia, ada sebagian warga mendapatkan gas dengan harga Rp 28 ribu. Padahal berdasarkan Peraturan Gubernur Jatim Nomor 6 Tahun 2015, HET LPG 3 kg Rp 16 ribu.

Mengomentari problem klasik itu, Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian Pemkab Bondowoso Aris Wasiyanto menjelaskan, kelangkaan gas bersubsidi disebabkan penggunaannya salah sasaran. Masyarakat mampu, pengusaha hotel, hingga peternakan ayam menggunakan gas tersebut untuk kebutuhan usaha mereka. “Mereka yang kaya-kaya memakai tabung 3 kilo. Sebenarnya tidak layak,” katanya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sulit lagi, lagi-lagi sulit. Itulah yang dialami masyarakat ketika mencari gas LPG 3 kg alias gas melon. Barang subsidi itu kembali langka. Adapun penjualnya tidak memakai patokan harga eceran tertinggi (HET). Dipastikan harganya di atasnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Ijen, ada seorang warga yang mencurahkan situasi saat ini di media sosial. “Kenapa gas elpiji langka? Setelah ada, harganya luar biasa. Siapa yang salah, pemerintah atau rakyat?” tulis sebuah akun Facebook bernama Supa’at Kurniawan di salah satu grup.

Kalaupun gas melon tersedia, ada sebagian warga mendapatkan gas dengan harga Rp 28 ribu. Padahal berdasarkan Peraturan Gubernur Jatim Nomor 6 Tahun 2015, HET LPG 3 kg Rp 16 ribu.

Mengomentari problem klasik itu, Kepala Bagian (Kabag) Perekonomian Pemkab Bondowoso Aris Wasiyanto menjelaskan, kelangkaan gas bersubsidi disebabkan penggunaannya salah sasaran. Masyarakat mampu, pengusaha hotel, hingga peternakan ayam menggunakan gas tersebut untuk kebutuhan usaha mereka. “Mereka yang kaya-kaya memakai tabung 3 kilo. Sebenarnya tidak layak,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/