alexametrics
30.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Beli dari Petani, Dibagikan Warga Sukarela

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Berton-ton ubi Cilembu menumpuk di gudang produksi milik Endang Rahmah, warga Dusun Karanggilih, Desa Pancoran, Kecamatan Kota.

Ubi sebanyak itu dbeli dengan harga mulai Rp 2.500 per kilogram dari para petani dengan tujuan membantu. Diketahui, harga ubi merosot tajam, tak terkecuali ubi Cilembu (ubi madu). Harga ubi Cilembu Rp 500 – Rp 700 per kilogram. Sedangkan saat normal, bisa mencapai Rp 4 ribu – Rp 5 ribu per kilogram.

Kondisi itu diperparah dengan sepinya pembeli atau tengkulak. Padahal, musim panen telah tiba. Lantas, apa yang dilakukan Rahma setelah membeli ubi Cilembu dari para petani?

Mobile_AP_Rectangle 2

Rupanya, ubi Cilembu itu dibagikan kepada warga sekitar. Setidaknya, sudah ada sekitar 2 ribu KK yang menerima ubi darinya. Tampaknya, perempuan berusia 34 tahun tersebut tak memikirkan uang yang sudah dikeluarkan untuk membantu para petani.

Seharusnya, Rahma bisa menambal pengeluaran dengan menjual kembali ubi itu. “Saya juga membagikannya ke panti asuhan, panti jompo, dan pesantren di Bondowoso,” katanya.

Selain itu, Rahma juga membolehkan para warga yang mau mengambil ubi Cilembu di ruang produksi mebelnya. Tak pelak, warga pun berbondong-bondong datang ke sana.

“Saya ingin berbagi ubi dengan masyarakat sekitar. Ubi itu bisa dimakan sebagai camilan bersama keluarga nantinya. Saya tak mematok harga, warga boleh mengambil seperlunya. Tak jarang pula ada warga yang memberikan uang kepada saya,” paparnya.

Sebenarnya, Rahma sempat kebingungan untuk menghabiskan ubi Cilembu. Sebab, meski telah dibagikan warga, ubi Cilembu masih banyak tersimpan di ruang produksi. Alumnus Pendidikan Matematika Universitas Bondowoso tersebut akhirnya memposting foto tumpukan ubi Cilembu beserta keterangan di media sosial Facebook.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Berton-ton ubi Cilembu menumpuk di gudang produksi milik Endang Rahmah, warga Dusun Karanggilih, Desa Pancoran, Kecamatan Kota.

Ubi sebanyak itu dbeli dengan harga mulai Rp 2.500 per kilogram dari para petani dengan tujuan membantu. Diketahui, harga ubi merosot tajam, tak terkecuali ubi Cilembu (ubi madu). Harga ubi Cilembu Rp 500 – Rp 700 per kilogram. Sedangkan saat normal, bisa mencapai Rp 4 ribu – Rp 5 ribu per kilogram.

Kondisi itu diperparah dengan sepinya pembeli atau tengkulak. Padahal, musim panen telah tiba. Lantas, apa yang dilakukan Rahma setelah membeli ubi Cilembu dari para petani?

Rupanya, ubi Cilembu itu dibagikan kepada warga sekitar. Setidaknya, sudah ada sekitar 2 ribu KK yang menerima ubi darinya. Tampaknya, perempuan berusia 34 tahun tersebut tak memikirkan uang yang sudah dikeluarkan untuk membantu para petani.

Seharusnya, Rahma bisa menambal pengeluaran dengan menjual kembali ubi itu. “Saya juga membagikannya ke panti asuhan, panti jompo, dan pesantren di Bondowoso,” katanya.

Selain itu, Rahma juga membolehkan para warga yang mau mengambil ubi Cilembu di ruang produksi mebelnya. Tak pelak, warga pun berbondong-bondong datang ke sana.

“Saya ingin berbagi ubi dengan masyarakat sekitar. Ubi itu bisa dimakan sebagai camilan bersama keluarga nantinya. Saya tak mematok harga, warga boleh mengambil seperlunya. Tak jarang pula ada warga yang memberikan uang kepada saya,” paparnya.

Sebenarnya, Rahma sempat kebingungan untuk menghabiskan ubi Cilembu. Sebab, meski telah dibagikan warga, ubi Cilembu masih banyak tersimpan di ruang produksi. Alumnus Pendidikan Matematika Universitas Bondowoso tersebut akhirnya memposting foto tumpukan ubi Cilembu beserta keterangan di media sosial Facebook.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Berton-ton ubi Cilembu menumpuk di gudang produksi milik Endang Rahmah, warga Dusun Karanggilih, Desa Pancoran, Kecamatan Kota.

Ubi sebanyak itu dbeli dengan harga mulai Rp 2.500 per kilogram dari para petani dengan tujuan membantu. Diketahui, harga ubi merosot tajam, tak terkecuali ubi Cilembu (ubi madu). Harga ubi Cilembu Rp 500 – Rp 700 per kilogram. Sedangkan saat normal, bisa mencapai Rp 4 ribu – Rp 5 ribu per kilogram.

Kondisi itu diperparah dengan sepinya pembeli atau tengkulak. Padahal, musim panen telah tiba. Lantas, apa yang dilakukan Rahma setelah membeli ubi Cilembu dari para petani?

Rupanya, ubi Cilembu itu dibagikan kepada warga sekitar. Setidaknya, sudah ada sekitar 2 ribu KK yang menerima ubi darinya. Tampaknya, perempuan berusia 34 tahun tersebut tak memikirkan uang yang sudah dikeluarkan untuk membantu para petani.

Seharusnya, Rahma bisa menambal pengeluaran dengan menjual kembali ubi itu. “Saya juga membagikannya ke panti asuhan, panti jompo, dan pesantren di Bondowoso,” katanya.

Selain itu, Rahma juga membolehkan para warga yang mau mengambil ubi Cilembu di ruang produksi mebelnya. Tak pelak, warga pun berbondong-bondong datang ke sana.

“Saya ingin berbagi ubi dengan masyarakat sekitar. Ubi itu bisa dimakan sebagai camilan bersama keluarga nantinya. Saya tak mematok harga, warga boleh mengambil seperlunya. Tak jarang pula ada warga yang memberikan uang kepada saya,” paparnya.

Sebenarnya, Rahma sempat kebingungan untuk menghabiskan ubi Cilembu. Sebab, meski telah dibagikan warga, ubi Cilembu masih banyak tersimpan di ruang produksi. Alumnus Pendidikan Matematika Universitas Bondowoso tersebut akhirnya memposting foto tumpukan ubi Cilembu beserta keterangan di media sosial Facebook.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/