alexametrics
23.6 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Tujuh Kelurahan Jadi Pilot Project, Canangkan Gerakan Sapu Berse

Mobile_AP_Rectangle 1

DABASAH, Radar Ijen – Tanggal 21 Februari biasa diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Dalam rangka menyambut peringatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bondowoso meluncurkan program pengelolaan sampah terpadu, Sampah Permukiman Bersih Sehat (Sapu Berse), kemarin (14/2) pagi. Sebanyak tujuh kecamatan di wilayah Bondowoso dicanangkan sebagai pilot project, sebelum nantinya diterapkan untuk seluruh kelurahan dan desa.

Bupati Bondowoso Salwa Arifin menyampaikan, peringatan HPSN mengambil tema Kelola Sampah, Kurangi Emisi, Bangun Proklim (Program Kampung Iklim). Tema tersebut dinilai selaras dengan program Pemkab Bondowoso, yakni Sapu Berse, dalam memotivasi dan membangun kepedulian masyarakat untuk mengoptimalkan pengelolaan sampah. “Sehingga tercipta lingkungan yang bersih dan sehat, serta masyarakat yang sehat dan berkualitas,” katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bondowoso Agung Aris Sungkowo menuturkan, penyumbang sampah terbanyak di Bondowoso berasal dari pemukiman warga. Hal itu menjadi salah satu alasan diresmikannya Program Sapu Berse. Salah satu kegiatan di dalamnya adalah memberikan pelatihan kepada relawan pengangkut sampah ke tempat pembuangan sampah (TPS), terkait pemilahan sampah yang dihasilkan oleh permukiman. “Jadi, mereka tidak membuang sampah sia-sia. Ketika sampah itu punya nilai ekonomis, bisa dimanfaatkan untuk dijual,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebagai langkah awal, Agung menjadikan tujuh kelurahan di Bondowoso, yang terdiri atas Kelurahan Dabasah, Kelurahan Tamansari, Kelurahan Badean, Kelurahan Kota Kulon, Kelurahan Blindungan, Kelurahan Kademangan, dan Kelurahan Nangkaan, sebagai percontohan bagi kelurahan lain nantinya. “Sedangkan untuk desa, nanti kami akan menggandeng kepala desa. Karena masih banyak desa yang belum memiliki TPS,” imbuhnya.

Tujuh kecamatan tersebut semuanya masih berada di wilayah Kecamatan Bondowoso. Agung juga menuturkan, sampah memang terbanyak dikeluarkan di wilayah kota, mengingat banyaknya perumahan. Sementara, jenis sampah terbanyak adalah sampah organik. Mengalahkan sampah plastik yang hampir 40 persen dari sampah yang dihasilkan setiap hari. Sedangkan sampah organik hampir mencapai 60 persen, dari 60 ton sampah yang dihasilkan setiap hari. “Sampah terbanyak nomor satu rumah tangga, nomor dua pasar,” bebernya.

- Advertisement -

DABASAH, Radar Ijen – Tanggal 21 Februari biasa diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Dalam rangka menyambut peringatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bondowoso meluncurkan program pengelolaan sampah terpadu, Sampah Permukiman Bersih Sehat (Sapu Berse), kemarin (14/2) pagi. Sebanyak tujuh kecamatan di wilayah Bondowoso dicanangkan sebagai pilot project, sebelum nantinya diterapkan untuk seluruh kelurahan dan desa.

Bupati Bondowoso Salwa Arifin menyampaikan, peringatan HPSN mengambil tema Kelola Sampah, Kurangi Emisi, Bangun Proklim (Program Kampung Iklim). Tema tersebut dinilai selaras dengan program Pemkab Bondowoso, yakni Sapu Berse, dalam memotivasi dan membangun kepedulian masyarakat untuk mengoptimalkan pengelolaan sampah. “Sehingga tercipta lingkungan yang bersih dan sehat, serta masyarakat yang sehat dan berkualitas,” katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bondowoso Agung Aris Sungkowo menuturkan, penyumbang sampah terbanyak di Bondowoso berasal dari pemukiman warga. Hal itu menjadi salah satu alasan diresmikannya Program Sapu Berse. Salah satu kegiatan di dalamnya adalah memberikan pelatihan kepada relawan pengangkut sampah ke tempat pembuangan sampah (TPS), terkait pemilahan sampah yang dihasilkan oleh permukiman. “Jadi, mereka tidak membuang sampah sia-sia. Ketika sampah itu punya nilai ekonomis, bisa dimanfaatkan untuk dijual,” ujarnya.

Sebagai langkah awal, Agung menjadikan tujuh kelurahan di Bondowoso, yang terdiri atas Kelurahan Dabasah, Kelurahan Tamansari, Kelurahan Badean, Kelurahan Kota Kulon, Kelurahan Blindungan, Kelurahan Kademangan, dan Kelurahan Nangkaan, sebagai percontohan bagi kelurahan lain nantinya. “Sedangkan untuk desa, nanti kami akan menggandeng kepala desa. Karena masih banyak desa yang belum memiliki TPS,” imbuhnya.

Tujuh kecamatan tersebut semuanya masih berada di wilayah Kecamatan Bondowoso. Agung juga menuturkan, sampah memang terbanyak dikeluarkan di wilayah kota, mengingat banyaknya perumahan. Sementara, jenis sampah terbanyak adalah sampah organik. Mengalahkan sampah plastik yang hampir 40 persen dari sampah yang dihasilkan setiap hari. Sedangkan sampah organik hampir mencapai 60 persen, dari 60 ton sampah yang dihasilkan setiap hari. “Sampah terbanyak nomor satu rumah tangga, nomor dua pasar,” bebernya.

DABASAH, Radar Ijen – Tanggal 21 Februari biasa diperingati sebagai Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN). Dalam rangka menyambut peringatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bondowoso meluncurkan program pengelolaan sampah terpadu, Sampah Permukiman Bersih Sehat (Sapu Berse), kemarin (14/2) pagi. Sebanyak tujuh kecamatan di wilayah Bondowoso dicanangkan sebagai pilot project, sebelum nantinya diterapkan untuk seluruh kelurahan dan desa.

Bupati Bondowoso Salwa Arifin menyampaikan, peringatan HPSN mengambil tema Kelola Sampah, Kurangi Emisi, Bangun Proklim (Program Kampung Iklim). Tema tersebut dinilai selaras dengan program Pemkab Bondowoso, yakni Sapu Berse, dalam memotivasi dan membangun kepedulian masyarakat untuk mengoptimalkan pengelolaan sampah. “Sehingga tercipta lingkungan yang bersih dan sehat, serta masyarakat yang sehat dan berkualitas,” katanya.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Bondowoso Agung Aris Sungkowo menuturkan, penyumbang sampah terbanyak di Bondowoso berasal dari pemukiman warga. Hal itu menjadi salah satu alasan diresmikannya Program Sapu Berse. Salah satu kegiatan di dalamnya adalah memberikan pelatihan kepada relawan pengangkut sampah ke tempat pembuangan sampah (TPS), terkait pemilahan sampah yang dihasilkan oleh permukiman. “Jadi, mereka tidak membuang sampah sia-sia. Ketika sampah itu punya nilai ekonomis, bisa dimanfaatkan untuk dijual,” ujarnya.

Sebagai langkah awal, Agung menjadikan tujuh kelurahan di Bondowoso, yang terdiri atas Kelurahan Dabasah, Kelurahan Tamansari, Kelurahan Badean, Kelurahan Kota Kulon, Kelurahan Blindungan, Kelurahan Kademangan, dan Kelurahan Nangkaan, sebagai percontohan bagi kelurahan lain nantinya. “Sedangkan untuk desa, nanti kami akan menggandeng kepala desa. Karena masih banyak desa yang belum memiliki TPS,” imbuhnya.

Tujuh kecamatan tersebut semuanya masih berada di wilayah Kecamatan Bondowoso. Agung juga menuturkan, sampah memang terbanyak dikeluarkan di wilayah kota, mengingat banyaknya perumahan. Sementara, jenis sampah terbanyak adalah sampah organik. Mengalahkan sampah plastik yang hampir 40 persen dari sampah yang dihasilkan setiap hari. Sedangkan sampah organik hampir mencapai 60 persen, dari 60 ton sampah yang dihasilkan setiap hari. “Sampah terbanyak nomor satu rumah tangga, nomor dua pasar,” bebernya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/