alexametrics
25 C
Jember
Thursday, 19 May 2022

Seperti Kubangan, Stadion Magenda Butuh Direhab

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Beberapa waktu lalu, saat pertandingan Liga Internal Divisi Utama, pertandingan sempat terhenti. Bukan karena hujan lebat yang mengguyur lapangan, tetapi lapangan banjir. Akhirnya, pertandingan ditunda keesokan harinya.

Itulah gambaran Stadion Magenda. Stadion kebanggaan masyarakat Bondowoso yang belakangan ini kondisinya makin memprihatinkan. Lapangan stadion seperti sawah yang digenangi banyak air.

Ketua Askab PSSI Subangkit Adi Putra mengatakan, pihaknya yang juga anggota DPRD sebenarnya selalu mengusulkan rehabilitasi stadion. Namun, anggarannya tidak mencukupi. Memang ada rehab, namun bukan pada inti permasalahan. Yakni pada area lapangannya. “Setiap pemandangan umum saya usulkan untuk rehab. Namun pemerintah daerah belum bisa,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Saat penutupan liga internal itu, ada Asisten III Wawan Setiawan juga. Pihaknya sangat mendukung geliat olahraga. Namun, untuk pembangunan, ada skala prioritas yang telah ditentukan dalam RPJMD. Pihaknya akan memperhatikan sesuai kemampuan daerah.

Catatan Jawa Pos Radar Ijen, saat ini pemerintah melalui Disparpora sudah membenahi beberapa titik di Stadion Magenda. Mulai dari tribune, ticketing, pagar pembatas, hingga gerbang. Namun untuk lapangan, membutuhkan anggaran besar. Sebab, di bawah rumput itu ada drainase untuk penyerapan air.

“Untuk melakukan pembenahan, tidak cukup jika hanya mengambil anggaran pemerintah daerah. Kami membangun komunikasi dengan kementerian pemuda dan olahraga, agar bisa kembali membuat sentuhan di Stadion Magenda,” ujar Harry Patriantono, Kepala Disparora Bondowoso.

Disparpora sempat mendatangkan konsultan teknik pembangunan. Hasilnya, untuk membangun stadion yang layak, dibutuhkan anggaran Rp 25 miliar sampai Rp 30 miliar. Karena itu, pihaknya mencari alokasi dana dari pusat.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Beberapa waktu lalu, saat pertandingan Liga Internal Divisi Utama, pertandingan sempat terhenti. Bukan karena hujan lebat yang mengguyur lapangan, tetapi lapangan banjir. Akhirnya, pertandingan ditunda keesokan harinya.

Itulah gambaran Stadion Magenda. Stadion kebanggaan masyarakat Bondowoso yang belakangan ini kondisinya makin memprihatinkan. Lapangan stadion seperti sawah yang digenangi banyak air.

Ketua Askab PSSI Subangkit Adi Putra mengatakan, pihaknya yang juga anggota DPRD sebenarnya selalu mengusulkan rehabilitasi stadion. Namun, anggarannya tidak mencukupi. Memang ada rehab, namun bukan pada inti permasalahan. Yakni pada area lapangannya. “Setiap pemandangan umum saya usulkan untuk rehab. Namun pemerintah daerah belum bisa,” jelasnya.

Saat penutupan liga internal itu, ada Asisten III Wawan Setiawan juga. Pihaknya sangat mendukung geliat olahraga. Namun, untuk pembangunan, ada skala prioritas yang telah ditentukan dalam RPJMD. Pihaknya akan memperhatikan sesuai kemampuan daerah.

Catatan Jawa Pos Radar Ijen, saat ini pemerintah melalui Disparpora sudah membenahi beberapa titik di Stadion Magenda. Mulai dari tribune, ticketing, pagar pembatas, hingga gerbang. Namun untuk lapangan, membutuhkan anggaran besar. Sebab, di bawah rumput itu ada drainase untuk penyerapan air.

“Untuk melakukan pembenahan, tidak cukup jika hanya mengambil anggaran pemerintah daerah. Kami membangun komunikasi dengan kementerian pemuda dan olahraga, agar bisa kembali membuat sentuhan di Stadion Magenda,” ujar Harry Patriantono, Kepala Disparora Bondowoso.

Disparpora sempat mendatangkan konsultan teknik pembangunan. Hasilnya, untuk membangun stadion yang layak, dibutuhkan anggaran Rp 25 miliar sampai Rp 30 miliar. Karena itu, pihaknya mencari alokasi dana dari pusat.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Beberapa waktu lalu, saat pertandingan Liga Internal Divisi Utama, pertandingan sempat terhenti. Bukan karena hujan lebat yang mengguyur lapangan, tetapi lapangan banjir. Akhirnya, pertandingan ditunda keesokan harinya.

Itulah gambaran Stadion Magenda. Stadion kebanggaan masyarakat Bondowoso yang belakangan ini kondisinya makin memprihatinkan. Lapangan stadion seperti sawah yang digenangi banyak air.

Ketua Askab PSSI Subangkit Adi Putra mengatakan, pihaknya yang juga anggota DPRD sebenarnya selalu mengusulkan rehabilitasi stadion. Namun, anggarannya tidak mencukupi. Memang ada rehab, namun bukan pada inti permasalahan. Yakni pada area lapangannya. “Setiap pemandangan umum saya usulkan untuk rehab. Namun pemerintah daerah belum bisa,” jelasnya.

Saat penutupan liga internal itu, ada Asisten III Wawan Setiawan juga. Pihaknya sangat mendukung geliat olahraga. Namun, untuk pembangunan, ada skala prioritas yang telah ditentukan dalam RPJMD. Pihaknya akan memperhatikan sesuai kemampuan daerah.

Catatan Jawa Pos Radar Ijen, saat ini pemerintah melalui Disparpora sudah membenahi beberapa titik di Stadion Magenda. Mulai dari tribune, ticketing, pagar pembatas, hingga gerbang. Namun untuk lapangan, membutuhkan anggaran besar. Sebab, di bawah rumput itu ada drainase untuk penyerapan air.

“Untuk melakukan pembenahan, tidak cukup jika hanya mengambil anggaran pemerintah daerah. Kami membangun komunikasi dengan kementerian pemuda dan olahraga, agar bisa kembali membuat sentuhan di Stadion Magenda,” ujar Harry Patriantono, Kepala Disparora Bondowoso.

Disparpora sempat mendatangkan konsultan teknik pembangunan. Hasilnya, untuk membangun stadion yang layak, dibutuhkan anggaran Rp 25 miliar sampai Rp 30 miliar. Karena itu, pihaknya mencari alokasi dana dari pusat.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/