alexametrics
26.5 C
Jember
Tuesday, 17 May 2022

Jelang Idul Adha, Peternak Kambing Lesu

Pemintaan Anjlok, Imbas PPKM Darurat

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sepekan menjelang Idul Adha 1442 Hijriah, biasanya menjadi puncak penjualan hewan kurban. Baik sapi maupun kambing. Namun, karena pandemi dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat, peternak kambing di Bondowoso justru mengeluh pasar lesu.

Hal ini diakui oleh pemilik usaha ternak SeTandhuk Duwek (STD) Farm Dedi Faizal Ali. Menurutnya, tahun lalu, sepekan sebelum Idul Adha, penjualan bisa mencapai 10-15 ekor dalam sehari. “Tapi, kalau sekarang maksimal lima ekor setiap hari. Ya karena pandemi Covid-19 dan PPKM darurat ini. Pasar hewan juga tidak buka,” ungkapnya, kemarin (13/7).

Meski demikian, harga cenderung naik dibandingkan hari-hari biasa dengan selisih Rp 200 ribu per ekor. Namun, karena daya beli masyarakat menurun, kondisinya sepi dan justru lebih ramai tahun lalu. Biasanya, kata dia, sepekan menjelang hari-H Idul Adha menjadi puncak permintaan kambing. “Hari ini harusnya ramai,” ujarnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia menuturkan, untuk harga kambing di Bondowoso menjelang Idul Adha cukup variatif. Terendah harga Rp 1,6 juta dan paling tinggi bisa mencapai 3,5 juta. “Tergantung gemuk atau berat kambingnya,” pungkasnya.

Sementara itu, untuk pemasaran pihaknya harus memanfaatkan media sosial. Baik Facebook, WhatsApp, Instagram, maupun beberapa platform media sosial yang lain. Pemanfaatan media sosial tersebut karena pembelinya ada yang berasal dari luar daerah, seperti Jember dan Situbondo. Hal itu juga diakuinya cukup efektif. “Bahkan, cek ternaknya ada yang menggunakan video call. Jadi, pembeli memilih dulu, baru dijemput. Semoga setelah PPKM darurat ini bisa kami antar,” harapnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sepekan menjelang Idul Adha 1442 Hijriah, biasanya menjadi puncak penjualan hewan kurban. Baik sapi maupun kambing. Namun, karena pandemi dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat, peternak kambing di Bondowoso justru mengeluh pasar lesu.

Hal ini diakui oleh pemilik usaha ternak SeTandhuk Duwek (STD) Farm Dedi Faizal Ali. Menurutnya, tahun lalu, sepekan sebelum Idul Adha, penjualan bisa mencapai 10-15 ekor dalam sehari. “Tapi, kalau sekarang maksimal lima ekor setiap hari. Ya karena pandemi Covid-19 dan PPKM darurat ini. Pasar hewan juga tidak buka,” ungkapnya, kemarin (13/7).

Meski demikian, harga cenderung naik dibandingkan hari-hari biasa dengan selisih Rp 200 ribu per ekor. Namun, karena daya beli masyarakat menurun, kondisinya sepi dan justru lebih ramai tahun lalu. Biasanya, kata dia, sepekan menjelang hari-H Idul Adha menjadi puncak permintaan kambing. “Hari ini harusnya ramai,” ujarnya.

Dia menuturkan, untuk harga kambing di Bondowoso menjelang Idul Adha cukup variatif. Terendah harga Rp 1,6 juta dan paling tinggi bisa mencapai 3,5 juta. “Tergantung gemuk atau berat kambingnya,” pungkasnya.

Sementara itu, untuk pemasaran pihaknya harus memanfaatkan media sosial. Baik Facebook, WhatsApp, Instagram, maupun beberapa platform media sosial yang lain. Pemanfaatan media sosial tersebut karena pembelinya ada yang berasal dari luar daerah, seperti Jember dan Situbondo. Hal itu juga diakuinya cukup efektif. “Bahkan, cek ternaknya ada yang menggunakan video call. Jadi, pembeli memilih dulu, baru dijemput. Semoga setelah PPKM darurat ini bisa kami antar,” harapnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sepekan menjelang Idul Adha 1442 Hijriah, biasanya menjadi puncak penjualan hewan kurban. Baik sapi maupun kambing. Namun, karena pandemi dan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat, peternak kambing di Bondowoso justru mengeluh pasar lesu.

Hal ini diakui oleh pemilik usaha ternak SeTandhuk Duwek (STD) Farm Dedi Faizal Ali. Menurutnya, tahun lalu, sepekan sebelum Idul Adha, penjualan bisa mencapai 10-15 ekor dalam sehari. “Tapi, kalau sekarang maksimal lima ekor setiap hari. Ya karena pandemi Covid-19 dan PPKM darurat ini. Pasar hewan juga tidak buka,” ungkapnya, kemarin (13/7).

Meski demikian, harga cenderung naik dibandingkan hari-hari biasa dengan selisih Rp 200 ribu per ekor. Namun, karena daya beli masyarakat menurun, kondisinya sepi dan justru lebih ramai tahun lalu. Biasanya, kata dia, sepekan menjelang hari-H Idul Adha menjadi puncak permintaan kambing. “Hari ini harusnya ramai,” ujarnya.

Dia menuturkan, untuk harga kambing di Bondowoso menjelang Idul Adha cukup variatif. Terendah harga Rp 1,6 juta dan paling tinggi bisa mencapai 3,5 juta. “Tergantung gemuk atau berat kambingnya,” pungkasnya.

Sementara itu, untuk pemasaran pihaknya harus memanfaatkan media sosial. Baik Facebook, WhatsApp, Instagram, maupun beberapa platform media sosial yang lain. Pemanfaatan media sosial tersebut karena pembelinya ada yang berasal dari luar daerah, seperti Jember dan Situbondo. Hal itu juga diakuinya cukup efektif. “Bahkan, cek ternaknya ada yang menggunakan video call. Jadi, pembeli memilih dulu, baru dijemput. Semoga setelah PPKM darurat ini bisa kami antar,” harapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/