alexametrics
23.3 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Pedagang Ngeluruk Pendapa Bupati

Tak Terima Lapaknya Direlokasi

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Puasa hari pertama bagi pedagang pasar sore di Pasar Induk Bondowoso menjadi awal yang berat. Betapa tidak, mereka masih berjibaku memperjuangkan nasibnya. Lantaran lapak dagangannya direlokasi, para pedagang ngeluruk pendapa bupati, kemarin.

Di pendapa, para pedagang ditemui Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag). Para pedagang mengadukan dampak pemindahan lapak jualan mereka. Maksud para pedagang, mereka meminta solusi dari bupati.

Awalnya, para pedagang berupaya untuk menemui Bupati Drs KH Salwa Arifin. Namun, yang ada justru Kepala Diskoperindag Bondowoso Sigit Purnomo. Akhirnya, Sigit mewakili bupati untuk menyelesaikan permasalahan pedagang.

Mobile_AP_Rectangle 2

Pedagang pasar sore mengadu jika pendapatan yang mereka terima merosot tajam setelah ada relokasi. Yakni ketika pedagang tidak lagi boleh berjualan di pinggir jalan menjadi pedagang pasar sore. Pemerintah memindahkan mereka ke lantai dua yang dampaknya sepi pembeli. Karena sepi, empat bulan terakhir para pedagang memilih tidak jualan. “Sudah empat bulan kami kehilangan pekerjaan. Kami bersama teman-teman semua sudah menunggu dan bersabar selama empat bulan,” kata Endang, salah seorang pedagang pasar sore sambil mengucurkan air matanya.

Endang menjelaskan, sejak kebijakan tidak dibolehkannya berjualan di pinggir jalan dibuat, pihaknya sudah mencoba patuh dan menjalankan semua anjuran pemerintah. Tetapi justru rugi. “Mari dilihat CCTV bersama media sebagai saksinya,” pintanya, sebagai bukti sepinya berdagang di lantai dua pasar induk.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Puasa hari pertama bagi pedagang pasar sore di Pasar Induk Bondowoso menjadi awal yang berat. Betapa tidak, mereka masih berjibaku memperjuangkan nasibnya. Lantaran lapak dagangannya direlokasi, para pedagang ngeluruk pendapa bupati, kemarin.

Di pendapa, para pedagang ditemui Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag). Para pedagang mengadukan dampak pemindahan lapak jualan mereka. Maksud para pedagang, mereka meminta solusi dari bupati.

Awalnya, para pedagang berupaya untuk menemui Bupati Drs KH Salwa Arifin. Namun, yang ada justru Kepala Diskoperindag Bondowoso Sigit Purnomo. Akhirnya, Sigit mewakili bupati untuk menyelesaikan permasalahan pedagang.

Pedagang pasar sore mengadu jika pendapatan yang mereka terima merosot tajam setelah ada relokasi. Yakni ketika pedagang tidak lagi boleh berjualan di pinggir jalan menjadi pedagang pasar sore. Pemerintah memindahkan mereka ke lantai dua yang dampaknya sepi pembeli. Karena sepi, empat bulan terakhir para pedagang memilih tidak jualan. “Sudah empat bulan kami kehilangan pekerjaan. Kami bersama teman-teman semua sudah menunggu dan bersabar selama empat bulan,” kata Endang, salah seorang pedagang pasar sore sambil mengucurkan air matanya.

Endang menjelaskan, sejak kebijakan tidak dibolehkannya berjualan di pinggir jalan dibuat, pihaknya sudah mencoba patuh dan menjalankan semua anjuran pemerintah. Tetapi justru rugi. “Mari dilihat CCTV bersama media sebagai saksinya,” pintanya, sebagai bukti sepinya berdagang di lantai dua pasar induk.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Puasa hari pertama bagi pedagang pasar sore di Pasar Induk Bondowoso menjadi awal yang berat. Betapa tidak, mereka masih berjibaku memperjuangkan nasibnya. Lantaran lapak dagangannya direlokasi, para pedagang ngeluruk pendapa bupati, kemarin.

Di pendapa, para pedagang ditemui Kepala Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskoperindag). Para pedagang mengadukan dampak pemindahan lapak jualan mereka. Maksud para pedagang, mereka meminta solusi dari bupati.

Awalnya, para pedagang berupaya untuk menemui Bupati Drs KH Salwa Arifin. Namun, yang ada justru Kepala Diskoperindag Bondowoso Sigit Purnomo. Akhirnya, Sigit mewakili bupati untuk menyelesaikan permasalahan pedagang.

Pedagang pasar sore mengadu jika pendapatan yang mereka terima merosot tajam setelah ada relokasi. Yakni ketika pedagang tidak lagi boleh berjualan di pinggir jalan menjadi pedagang pasar sore. Pemerintah memindahkan mereka ke lantai dua yang dampaknya sepi pembeli. Karena sepi, empat bulan terakhir para pedagang memilih tidak jualan. “Sudah empat bulan kami kehilangan pekerjaan. Kami bersama teman-teman semua sudah menunggu dan bersabar selama empat bulan,” kata Endang, salah seorang pedagang pasar sore sambil mengucurkan air matanya.

Endang menjelaskan, sejak kebijakan tidak dibolehkannya berjualan di pinggir jalan dibuat, pihaknya sudah mencoba patuh dan menjalankan semua anjuran pemerintah. Tetapi justru rugi. “Mari dilihat CCTV bersama media sebagai saksinya,” pintanya, sebagai bukti sepinya berdagang di lantai dua pasar induk.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/