alexametrics
23.2 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Abaikan Kesehatan demi Ekonomi

Work from home (WFH) tak berlaku bagi mereka. Yakni para pemulung sampah. Bagaimana mau WFH, sementara pekerjaannya harus mengais sampah. Jawa Pos Radar Ijen sempat berbincang dengan mereka, kemarin.

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER. ID – Tahun sudah berganti. Akan tetapi, penyebaran Covid-19 belum juga usai. Justru meningkat. Tak luput jumlah kematian akibat terpapar virus ini juga meningkat. Bahkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai diterapkan kembali diberbagai daerah di Jawa-Bali saat ini.

Beberapa pekerjaan dilaksanakan work from home (WFH). Namun, lapisan masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan tak mengenalnya.  Seperti pemulung sampah di tempat pembuangan sampah (TPS) misalnya. Mereka adalah pekerja yang harus bekerja secara langsung di TPS untuk menghidupi keluarganya.

Tempat pembuangan sampah tempat mereka mencari nafkah jelas bukan tempat yang aman di tengah pandemi. Namun bagi pemulung, tidak ada pilihan lain selain tetap mencari pundi-pundi rupiah untuk menyambung hidup.

Mobile_AP_Rectangle 2

Buhar, salah seorang pemulung di TPS Tamansari, mengatakan, dirinya menjadi pemulung karena sulitnya lapangan pekerjaan. Sementara, dia menjadi tulang punggung keluarga. “Daripada mencuri atau ngambil punya orang kan mending kayak gini,” terangnya.

Hasil barang yang dikumpulkan dari TPS dijual untuk menghidupi istri dan anaknya. Buhar mengaku, ada unsur keterpaksaan dalam melakukan pekerjaan ini, “Aslinya saya gak mau kayak gini. tapi ya gimana sekarang sulit cari uang,” terangnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER. ID – Tahun sudah berganti. Akan tetapi, penyebaran Covid-19 belum juga usai. Justru meningkat. Tak luput jumlah kematian akibat terpapar virus ini juga meningkat. Bahkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai diterapkan kembali diberbagai daerah di Jawa-Bali saat ini.

Beberapa pekerjaan dilaksanakan work from home (WFH). Namun, lapisan masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan tak mengenalnya.  Seperti pemulung sampah di tempat pembuangan sampah (TPS) misalnya. Mereka adalah pekerja yang harus bekerja secara langsung di TPS untuk menghidupi keluarganya.

Tempat pembuangan sampah tempat mereka mencari nafkah jelas bukan tempat yang aman di tengah pandemi. Namun bagi pemulung, tidak ada pilihan lain selain tetap mencari pundi-pundi rupiah untuk menyambung hidup.

Buhar, salah seorang pemulung di TPS Tamansari, mengatakan, dirinya menjadi pemulung karena sulitnya lapangan pekerjaan. Sementara, dia menjadi tulang punggung keluarga. “Daripada mencuri atau ngambil punya orang kan mending kayak gini,” terangnya.

Hasil barang yang dikumpulkan dari TPS dijual untuk menghidupi istri dan anaknya. Buhar mengaku, ada unsur keterpaksaan dalam melakukan pekerjaan ini, “Aslinya saya gak mau kayak gini. tapi ya gimana sekarang sulit cari uang,” terangnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER. ID – Tahun sudah berganti. Akan tetapi, penyebaran Covid-19 belum juga usai. Justru meningkat. Tak luput jumlah kematian akibat terpapar virus ini juga meningkat. Bahkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) mulai diterapkan kembali diberbagai daerah di Jawa-Bali saat ini.

Beberapa pekerjaan dilaksanakan work from home (WFH). Namun, lapisan masyarakat yang berada di bawah garis kemiskinan tak mengenalnya.  Seperti pemulung sampah di tempat pembuangan sampah (TPS) misalnya. Mereka adalah pekerja yang harus bekerja secara langsung di TPS untuk menghidupi keluarganya.

Tempat pembuangan sampah tempat mereka mencari nafkah jelas bukan tempat yang aman di tengah pandemi. Namun bagi pemulung, tidak ada pilihan lain selain tetap mencari pundi-pundi rupiah untuk menyambung hidup.

Buhar, salah seorang pemulung di TPS Tamansari, mengatakan, dirinya menjadi pemulung karena sulitnya lapangan pekerjaan. Sementara, dia menjadi tulang punggung keluarga. “Daripada mencuri atau ngambil punya orang kan mending kayak gini,” terangnya.

Hasil barang yang dikumpulkan dari TPS dijual untuk menghidupi istri dan anaknya. Buhar mengaku, ada unsur keterpaksaan dalam melakukan pekerjaan ini, “Aslinya saya gak mau kayak gini. tapi ya gimana sekarang sulit cari uang,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/