alexametrics
24.1 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Pendapatan Merosot, Kuantitas Produksi Tetap

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Merosotnya pendapatan akibat pandemi Covid-19 memang dirasakan oleh hampir semua pelaku usaha. Termasuk para pelaku usaha pandai besi yang ada di Desa Binakal, Kecamatan Binakal. Seperti yang dialami oleh Hadi, 50, salah seorang pandai besi yang ada di desa tersebut.

Dia mengaku, selama masa pandemi jumlah garapan yang dijual sangat menurun drastis dibandingkan sebelum adanya pandemi. Walaupun demikian, ternyata dirinya sama sekali tidak mengurangi jumlah barang yang diproduksi setiap pekannya.

Nggak bisa kalau sekarang, mau kerja seperti apa pun tetap. Karena kondisinya seperti ini, mobilitas masyarakat kan dibatasi selama ini. Akhirnya, untuk penjualan juga terbatas,” ungkapnya ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Jember, Kamis (12/8).

Mobile_AP_Rectangle 2

Tidak selesai di situ, harga bahan-bahan mentah untuk pembuatan barang yang dia produksi justru makin naik. Untuk satu kilogram bahan baku pembuatan, dia biasanya mendapatkan dengan harga Rp 10 ribu. Sementara, setiap satu kilogram bahan mentah bisa menghasilkan tiga buah sabit.

Hadi alias Pak Dayu juga mengatakan, setiap empat hari dalam satu pekan, biasanya dia bisa membuat empat kodi sabit. Per kodi biasanya bisa dijual dengan harga Rp 400 ribu. “Kalau dulu empat kodi itu biasanya laku semua dalam satu minggunya,” ujarnya.

Sebelum pandemi, biasanya sudah ada tengkulak yang menjadi langganannya. Baik langsung dijemput ke tempat produksi atau diantarkan olehnya. “Saya kan biasanya jualan dengan jumlah banyak. Kalau jual satuan lama lakunya,” paparnya.

Disebutkan, di desanya kurang lebih ada 30 orang yang menjadi pandai besi. Selama masa pandemi, banyak dari mereka yang menghentikan usahanya karena kesulitan menjual barang hasil produksinya. Sebagian lainnya memilih tetap memproduksi, walaupun harus terpaksa mengurangi jumlah barang yang dibuatnya setiap hari. “Ada juga yang membenarkan dan merapikan barang-barang yang dibuat sebelumnya,” katanya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Merosotnya pendapatan akibat pandemi Covid-19 memang dirasakan oleh hampir semua pelaku usaha. Termasuk para pelaku usaha pandai besi yang ada di Desa Binakal, Kecamatan Binakal. Seperti yang dialami oleh Hadi, 50, salah seorang pandai besi yang ada di desa tersebut.

Dia mengaku, selama masa pandemi jumlah garapan yang dijual sangat menurun drastis dibandingkan sebelum adanya pandemi. Walaupun demikian, ternyata dirinya sama sekali tidak mengurangi jumlah barang yang diproduksi setiap pekannya.

Nggak bisa kalau sekarang, mau kerja seperti apa pun tetap. Karena kondisinya seperti ini, mobilitas masyarakat kan dibatasi selama ini. Akhirnya, untuk penjualan juga terbatas,” ungkapnya ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Jember, Kamis (12/8).

Tidak selesai di situ, harga bahan-bahan mentah untuk pembuatan barang yang dia produksi justru makin naik. Untuk satu kilogram bahan baku pembuatan, dia biasanya mendapatkan dengan harga Rp 10 ribu. Sementara, setiap satu kilogram bahan mentah bisa menghasilkan tiga buah sabit.

Hadi alias Pak Dayu juga mengatakan, setiap empat hari dalam satu pekan, biasanya dia bisa membuat empat kodi sabit. Per kodi biasanya bisa dijual dengan harga Rp 400 ribu. “Kalau dulu empat kodi itu biasanya laku semua dalam satu minggunya,” ujarnya.

Sebelum pandemi, biasanya sudah ada tengkulak yang menjadi langganannya. Baik langsung dijemput ke tempat produksi atau diantarkan olehnya. “Saya kan biasanya jualan dengan jumlah banyak. Kalau jual satuan lama lakunya,” paparnya.

Disebutkan, di desanya kurang lebih ada 30 orang yang menjadi pandai besi. Selama masa pandemi, banyak dari mereka yang menghentikan usahanya karena kesulitan menjual barang hasil produksinya. Sebagian lainnya memilih tetap memproduksi, walaupun harus terpaksa mengurangi jumlah barang yang dibuatnya setiap hari. “Ada juga yang membenarkan dan merapikan barang-barang yang dibuat sebelumnya,” katanya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Merosotnya pendapatan akibat pandemi Covid-19 memang dirasakan oleh hampir semua pelaku usaha. Termasuk para pelaku usaha pandai besi yang ada di Desa Binakal, Kecamatan Binakal. Seperti yang dialami oleh Hadi, 50, salah seorang pandai besi yang ada di desa tersebut.

Dia mengaku, selama masa pandemi jumlah garapan yang dijual sangat menurun drastis dibandingkan sebelum adanya pandemi. Walaupun demikian, ternyata dirinya sama sekali tidak mengurangi jumlah barang yang diproduksi setiap pekannya.

Nggak bisa kalau sekarang, mau kerja seperti apa pun tetap. Karena kondisinya seperti ini, mobilitas masyarakat kan dibatasi selama ini. Akhirnya, untuk penjualan juga terbatas,” ungkapnya ketika dikonfirmasi Jawa Pos Radar Jember, Kamis (12/8).

Tidak selesai di situ, harga bahan-bahan mentah untuk pembuatan barang yang dia produksi justru makin naik. Untuk satu kilogram bahan baku pembuatan, dia biasanya mendapatkan dengan harga Rp 10 ribu. Sementara, setiap satu kilogram bahan mentah bisa menghasilkan tiga buah sabit.

Hadi alias Pak Dayu juga mengatakan, setiap empat hari dalam satu pekan, biasanya dia bisa membuat empat kodi sabit. Per kodi biasanya bisa dijual dengan harga Rp 400 ribu. “Kalau dulu empat kodi itu biasanya laku semua dalam satu minggunya,” ujarnya.

Sebelum pandemi, biasanya sudah ada tengkulak yang menjadi langganannya. Baik langsung dijemput ke tempat produksi atau diantarkan olehnya. “Saya kan biasanya jualan dengan jumlah banyak. Kalau jual satuan lama lakunya,” paparnya.

Disebutkan, di desanya kurang lebih ada 30 orang yang menjadi pandai besi. Selama masa pandemi, banyak dari mereka yang menghentikan usahanya karena kesulitan menjual barang hasil produksinya. Sebagian lainnya memilih tetap memproduksi, walaupun harus terpaksa mengurangi jumlah barang yang dibuatnya setiap hari. “Ada juga yang membenarkan dan merapikan barang-barang yang dibuat sebelumnya,” katanya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/