alexametrics
30.8 C
Jember
Sunday, 14 August 2022

Usia 19 Tahun Sudah Empat Kali Menikah

Pernikahan dini di Bondowoso membutuhkan perhatian serius. Terlebih lagi, jumlah permohonan dispensasi menikah angkanya mencapai ratusan. Lantas, bagaimana mengatasi pernikahan dini ini?

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Honest Dody Molasy, seorang peneliti dari Universitas Jember, ketika memberikan sambutan dalam acara sosialisasi pendampingan alumni grant scheme Ags program sekoper PKH, di pendapa Bupati Bondowoso, Selasa, (24/5) kemarin, membuka sebuah tabir. Yaitu tentang pernikahan dini yang harus ditangani serius. Terlebih, pada masa pandemi Covid-19, jumlahnya mengalami peningkatan. Pada 2021 lalu saja, terdapat 803 permohonan dispensasi nikah di pengadilan agama (PA) setempat.

Berdasarkan hasil penelitian Honest Dody Molasy, diketahui angka pernikahan anak di Bondowoso dan Jember mengalami peningkatan.  Mirisnya, salah satu hasil penelitian di Kota Tape itu menunjukkan, terdapat seorang anak sejak berusia 12 tahun sudah menjalani pernikahan.

Bahkan, saat ini di usianya yang baru menginjak 19 tahun, anak tersebut sudah menjalani pernikahan sebanyak empat kali. “Empat kali pernikahannya tersebut, yang pertama menikah siri atau tidak melalui KUA. Pernikahan kedua atau ketiga, saya sedikit lupa, sekitar umur 16-an,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Fakta lain yang berhasil ditemukan adalah pada pernikahan di usia 16 tahun tersebut. Dokumen kependudukan yang dimilikinya dipalsukan, usianya dibuat lebih tua. Hal itu dilakukan agar dapat menikah tanpa mengajukan dispensasi nikah. “Harusnya usia 12, dinaikkan jadi usia 20  misalnya,” ucapnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Honest Dody Molasy, seorang peneliti dari Universitas Jember, ketika memberikan sambutan dalam acara sosialisasi pendampingan alumni grant scheme Ags program sekoper PKH, di pendapa Bupati Bondowoso, Selasa, (24/5) kemarin, membuka sebuah tabir. Yaitu tentang pernikahan dini yang harus ditangani serius. Terlebih, pada masa pandemi Covid-19, jumlahnya mengalami peningkatan. Pada 2021 lalu saja, terdapat 803 permohonan dispensasi nikah di pengadilan agama (PA) setempat.

Berdasarkan hasil penelitian Honest Dody Molasy, diketahui angka pernikahan anak di Bondowoso dan Jember mengalami peningkatan.  Mirisnya, salah satu hasil penelitian di Kota Tape itu menunjukkan, terdapat seorang anak sejak berusia 12 tahun sudah menjalani pernikahan.

Bahkan, saat ini di usianya yang baru menginjak 19 tahun, anak tersebut sudah menjalani pernikahan sebanyak empat kali. “Empat kali pernikahannya tersebut, yang pertama menikah siri atau tidak melalui KUA. Pernikahan kedua atau ketiga, saya sedikit lupa, sekitar umur 16-an,” jelasnya.

Fakta lain yang berhasil ditemukan adalah pada pernikahan di usia 16 tahun tersebut. Dokumen kependudukan yang dimilikinya dipalsukan, usianya dibuat lebih tua. Hal itu dilakukan agar dapat menikah tanpa mengajukan dispensasi nikah. “Harusnya usia 12, dinaikkan jadi usia 20  misalnya,” ucapnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Honest Dody Molasy, seorang peneliti dari Universitas Jember, ketika memberikan sambutan dalam acara sosialisasi pendampingan alumni grant scheme Ags program sekoper PKH, di pendapa Bupati Bondowoso, Selasa, (24/5) kemarin, membuka sebuah tabir. Yaitu tentang pernikahan dini yang harus ditangani serius. Terlebih, pada masa pandemi Covid-19, jumlahnya mengalami peningkatan. Pada 2021 lalu saja, terdapat 803 permohonan dispensasi nikah di pengadilan agama (PA) setempat.

Berdasarkan hasil penelitian Honest Dody Molasy, diketahui angka pernikahan anak di Bondowoso dan Jember mengalami peningkatan.  Mirisnya, salah satu hasil penelitian di Kota Tape itu menunjukkan, terdapat seorang anak sejak berusia 12 tahun sudah menjalani pernikahan.

Bahkan, saat ini di usianya yang baru menginjak 19 tahun, anak tersebut sudah menjalani pernikahan sebanyak empat kali. “Empat kali pernikahannya tersebut, yang pertama menikah siri atau tidak melalui KUA. Pernikahan kedua atau ketiga, saya sedikit lupa, sekitar umur 16-an,” jelasnya.

Fakta lain yang berhasil ditemukan adalah pada pernikahan di usia 16 tahun tersebut. Dokumen kependudukan yang dimilikinya dipalsukan, usianya dibuat lebih tua. Hal itu dilakukan agar dapat menikah tanpa mengajukan dispensasi nikah. “Harusnya usia 12, dinaikkan jadi usia 20  misalnya,” ucapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/