alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 5 October 2022

Wereng Menyerang, Petani Bondowoso Kelimpungan

Mobile_AP_Rectangle 1

PEJAGAN, Radar Ijen – Berharap panen padi maksimal, petani asal Desa Pejagan, Kecamatan Jambesari Darussholah, Moh Faizin Bahri, justru hanya bisa gigit jari. Sebab, padinya gagal panen karena serangan hama wereng.

BACA JUGA: Tersambar Petir, Warga Jenggawah Jember Meninggal di Sawah

Faizin mengaku, dalam perawatan padinya tidak ada yang keliru. Setiap pagi dan sore dia selalu pergi ke sawah yang menjadi sumber ekonomi utama bagi keluarganya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sebelum hama menyerang sawahnya, tambah dia, terlebih dahulu sawah yang berdekatan terserang hama wereng. “Padi yang lokasinya di dekat sawah saya itu rusak, karena hama. Tapi, padi sebelah sawah itu memang kurang perawatan, jadi wajar kalau rusak. Padi di sawah saya ini dirawat terus, tapi juga rusak karena hama wereng,” terangnya.

Dia mengaku, tahun lalu hasil padinya cukup bagus. Padahal, perawatannya tidak sebagus tahun ini. “Kemarin saja dirawat ala kadarnya, tapi hasil panen cukup bagus. Sekarang sudah pakai pupuk rutin, tapi kena hama wereng,” imbuhnya.

Faizin menambahkan, sawahnya yang terancam gagal panen tersebut bisa saja tertular dari sawah tetangganya. Selain itu, prediksinya mengapa hama penyakit ini semakin marak, karena musim kemarau yang masih hujan. “Bisa jadi karena cuacanya tidak menentu. Musim kemaraunya masih tetap hujan,” terangnya.

Dia berharap adanya edukasi oleh akademisi ataupun pemerintah terkait tentang mengatasi hama penyakit, hingga cuaca yang tidak menentu. “Cuaca yang tidak menentu begini, kami perlu mengetahui cara mengatasi. Contohnya pakai padi jenis apa yang kuat pada perubahan cuaca dan serangan hama wereng,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Bondowoso Hendri Widotono menyampaikan, pendampingan kepada petani sudah ada pada masing-masing titik. Termasuk memberikan penyuluhan tentang tanaman apa yang cocok hingga mengatasi berbagai hama penyakit.

Menurutnya, pendampingan itu yang akan memberikan arahan jika terdapat masalah saat musim tanam. “Sudah ada pendampingnya, melalui asuransi usaha tani padi,” ucapnya.
Selain itu, kata Hendri, juga sudah ada petugas khusus dari Provinsi Jatim untuk memberikan pendampingan dan penyuluhan kepada petani.

Petugas hama, kata dia, juga turun langsung ke lapangan untuk melakukan deteksi dini, jika ada serangan hama atau penyakit, serta perubahan dan perkembangan tanaman. “Tenaga pengamat hama penyakit tanaman itu yang sudah di lapangan,” pungkasnya. (aln/c2/dwi)

- Advertisement -

PEJAGAN, Radar Ijen – Berharap panen padi maksimal, petani asal Desa Pejagan, Kecamatan Jambesari Darussholah, Moh Faizin Bahri, justru hanya bisa gigit jari. Sebab, padinya gagal panen karena serangan hama wereng.

BACA JUGA: Tersambar Petir, Warga Jenggawah Jember Meninggal di Sawah

Faizin mengaku, dalam perawatan padinya tidak ada yang keliru. Setiap pagi dan sore dia selalu pergi ke sawah yang menjadi sumber ekonomi utama bagi keluarganya.

Sebelum hama menyerang sawahnya, tambah dia, terlebih dahulu sawah yang berdekatan terserang hama wereng. “Padi yang lokasinya di dekat sawah saya itu rusak, karena hama. Tapi, padi sebelah sawah itu memang kurang perawatan, jadi wajar kalau rusak. Padi di sawah saya ini dirawat terus, tapi juga rusak karena hama wereng,” terangnya.

Dia mengaku, tahun lalu hasil padinya cukup bagus. Padahal, perawatannya tidak sebagus tahun ini. “Kemarin saja dirawat ala kadarnya, tapi hasil panen cukup bagus. Sekarang sudah pakai pupuk rutin, tapi kena hama wereng,” imbuhnya.

Faizin menambahkan, sawahnya yang terancam gagal panen tersebut bisa saja tertular dari sawah tetangganya. Selain itu, prediksinya mengapa hama penyakit ini semakin marak, karena musim kemarau yang masih hujan. “Bisa jadi karena cuacanya tidak menentu. Musim kemaraunya masih tetap hujan,” terangnya.

Dia berharap adanya edukasi oleh akademisi ataupun pemerintah terkait tentang mengatasi hama penyakit, hingga cuaca yang tidak menentu. “Cuaca yang tidak menentu begini, kami perlu mengetahui cara mengatasi. Contohnya pakai padi jenis apa yang kuat pada perubahan cuaca dan serangan hama wereng,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Bondowoso Hendri Widotono menyampaikan, pendampingan kepada petani sudah ada pada masing-masing titik. Termasuk memberikan penyuluhan tentang tanaman apa yang cocok hingga mengatasi berbagai hama penyakit.

Menurutnya, pendampingan itu yang akan memberikan arahan jika terdapat masalah saat musim tanam. “Sudah ada pendampingnya, melalui asuransi usaha tani padi,” ucapnya.
Selain itu, kata Hendri, juga sudah ada petugas khusus dari Provinsi Jatim untuk memberikan pendampingan dan penyuluhan kepada petani.

Petugas hama, kata dia, juga turun langsung ke lapangan untuk melakukan deteksi dini, jika ada serangan hama atau penyakit, serta perubahan dan perkembangan tanaman. “Tenaga pengamat hama penyakit tanaman itu yang sudah di lapangan,” pungkasnya. (aln/c2/dwi)

PEJAGAN, Radar Ijen – Berharap panen padi maksimal, petani asal Desa Pejagan, Kecamatan Jambesari Darussholah, Moh Faizin Bahri, justru hanya bisa gigit jari. Sebab, padinya gagal panen karena serangan hama wereng.

BACA JUGA: Tersambar Petir, Warga Jenggawah Jember Meninggal di Sawah

Faizin mengaku, dalam perawatan padinya tidak ada yang keliru. Setiap pagi dan sore dia selalu pergi ke sawah yang menjadi sumber ekonomi utama bagi keluarganya.

Sebelum hama menyerang sawahnya, tambah dia, terlebih dahulu sawah yang berdekatan terserang hama wereng. “Padi yang lokasinya di dekat sawah saya itu rusak, karena hama. Tapi, padi sebelah sawah itu memang kurang perawatan, jadi wajar kalau rusak. Padi di sawah saya ini dirawat terus, tapi juga rusak karena hama wereng,” terangnya.

Dia mengaku, tahun lalu hasil padinya cukup bagus. Padahal, perawatannya tidak sebagus tahun ini. “Kemarin saja dirawat ala kadarnya, tapi hasil panen cukup bagus. Sekarang sudah pakai pupuk rutin, tapi kena hama wereng,” imbuhnya.

Faizin menambahkan, sawahnya yang terancam gagal panen tersebut bisa saja tertular dari sawah tetangganya. Selain itu, prediksinya mengapa hama penyakit ini semakin marak, karena musim kemarau yang masih hujan. “Bisa jadi karena cuacanya tidak menentu. Musim kemaraunya masih tetap hujan,” terangnya.

Dia berharap adanya edukasi oleh akademisi ataupun pemerintah terkait tentang mengatasi hama penyakit, hingga cuaca yang tidak menentu. “Cuaca yang tidak menentu begini, kami perlu mengetahui cara mengatasi. Contohnya pakai padi jenis apa yang kuat pada perubahan cuaca dan serangan hama wereng,” tuturnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian (Disperta) Bondowoso Hendri Widotono menyampaikan, pendampingan kepada petani sudah ada pada masing-masing titik. Termasuk memberikan penyuluhan tentang tanaman apa yang cocok hingga mengatasi berbagai hama penyakit.

Menurutnya, pendampingan itu yang akan memberikan arahan jika terdapat masalah saat musim tanam. “Sudah ada pendampingnya, melalui asuransi usaha tani padi,” ucapnya.
Selain itu, kata Hendri, juga sudah ada petugas khusus dari Provinsi Jatim untuk memberikan pendampingan dan penyuluhan kepada petani.

Petugas hama, kata dia, juga turun langsung ke lapangan untuk melakukan deteksi dini, jika ada serangan hama atau penyakit, serta perubahan dan perkembangan tanaman. “Tenaga pengamat hama penyakit tanaman itu yang sudah di lapangan,” pungkasnya. (aln/c2/dwi)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/