alexametrics
26.5 C
Jember
Sunday, 25 September 2022

Minim Anggaran Akibat Dua Tahun Pandemi

BLK Belum Bisa Berbicara Banyak

Mobile_AP_Rectangle 1

DABASAH, Radar Ijen – Keberadaan Balai Latihan Kerja (BLK) tentu akan membantu masyarakat dalam mendapatkan kemampuan kerja hingga memiliki skill. Sehingga mereka punya modal agar mudah diterima bekerja ataupun membuka lapangan pekerjaan sendiri. Sayangnya, dengan keberadaan BLK Bondowoso, selama dua tahun pandemi Covid-19 masih minim kegiatan pelatihan.

BACA JUGA: Suami di Jember Bacok Leher Istrinya Pakai Pisau Pemotong Daging

Karena pandemi Covid-19, BLK Bondowoso tidak dapat melakukan penyerapan terlalu banyak. Sebab, sejumlah perusahaan melakukan efisiensi terhadap karyawannya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kepala DPMPTSP dan Naker Bondowoso Nunung Setianingsih menjelaskan, secara keseluruhan BLK Bondowoso memang masih sama, antara sebelum dan setelah adanya pandemi Covid-19. Namun, menang selama masa itu, angka pengangguran di Kota Tape pada 2021 lalu mengalami peningkatan. Hal itu, menurutnya, karena banyak perusahaan yang melakukan efisiensi, mulai dari karyawan, produksi, hingga lainnya.

Selain itu, Nunung juga menjelaskan, untuk melakukan kegiatan harus menyesuaikan dengan kemampuan anggaran. Sebab, anggaran diprioritaskan untuk kegiatan penanggulangan Covid-19. Karenanya, tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan BLK Bondowoso. “Maka yang selama ini kami lakukan adalah bekerja sama dengan BLK Banyuwangi,” katanya.

Kerja sama tersebut dilakukan karena BLK Banyuwangi memiliki anggaran dari APBN Pusat. Selain itu, ada kesepakatan untuk melakukan pelatihan di Bondowoso. Dengan pelaksana, instruktur, serta peserta atau objek pelatihan juga berasal dari Bumi Ki Ronggo. “Itu suatu keuntungan sekali buat Bondowoso,” tegasnya.

Dikonfirmasi terkait serapan tenaga kerja dari hasil pelatihan melalui BLK, dia tidak menyebutkan secara pasti berapa jumlahnya. Hanya mengungkapkan bahwa tidak terlalu banyak masyarakat yang dilatih. Sebab, menyesuaikan dengan anggaran yang dimiliki. Meski demikian, pihaknya mengaku sudah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan. “Nantinya bisa merekrut karyawan dari warga yang pernah dilatih di BLK,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Nunung juga menegaskan akan melakukan pembenahan pada fasilitas, sarana, dan prasarana yang ada di BLK Bondowoso. Khususnya yang sudah rusak atau tidak layak dipakai.

Hal itu dilakukan untuk memberikan pelatihan maksimal kepada masyarakat. Beberapa sarana yang sudah ada di antaranya kompetensi bengkel, menjahit, las, dan lain sebagainya. “Kalau ada masyarakat yang ingin belajar menjadi youtuber, ini kan butuh perangkat. Kami belum punya itu, tapi kami berupaya memenuhi sarana dan prasarana seperti itu (jadi youtuber, Red),” pungkasnya. (ham/c2/dwi)

- Advertisement -

DABASAH, Radar Ijen – Keberadaan Balai Latihan Kerja (BLK) tentu akan membantu masyarakat dalam mendapatkan kemampuan kerja hingga memiliki skill. Sehingga mereka punya modal agar mudah diterima bekerja ataupun membuka lapangan pekerjaan sendiri. Sayangnya, dengan keberadaan BLK Bondowoso, selama dua tahun pandemi Covid-19 masih minim kegiatan pelatihan.

BACA JUGA: Suami di Jember Bacok Leher Istrinya Pakai Pisau Pemotong Daging

Karena pandemi Covid-19, BLK Bondowoso tidak dapat melakukan penyerapan terlalu banyak. Sebab, sejumlah perusahaan melakukan efisiensi terhadap karyawannya.

Kepala DPMPTSP dan Naker Bondowoso Nunung Setianingsih menjelaskan, secara keseluruhan BLK Bondowoso memang masih sama, antara sebelum dan setelah adanya pandemi Covid-19. Namun, menang selama masa itu, angka pengangguran di Kota Tape pada 2021 lalu mengalami peningkatan. Hal itu, menurutnya, karena banyak perusahaan yang melakukan efisiensi, mulai dari karyawan, produksi, hingga lainnya.

Selain itu, Nunung juga menjelaskan, untuk melakukan kegiatan harus menyesuaikan dengan kemampuan anggaran. Sebab, anggaran diprioritaskan untuk kegiatan penanggulangan Covid-19. Karenanya, tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan BLK Bondowoso. “Maka yang selama ini kami lakukan adalah bekerja sama dengan BLK Banyuwangi,” katanya.

Kerja sama tersebut dilakukan karena BLK Banyuwangi memiliki anggaran dari APBN Pusat. Selain itu, ada kesepakatan untuk melakukan pelatihan di Bondowoso. Dengan pelaksana, instruktur, serta peserta atau objek pelatihan juga berasal dari Bumi Ki Ronggo. “Itu suatu keuntungan sekali buat Bondowoso,” tegasnya.

Dikonfirmasi terkait serapan tenaga kerja dari hasil pelatihan melalui BLK, dia tidak menyebutkan secara pasti berapa jumlahnya. Hanya mengungkapkan bahwa tidak terlalu banyak masyarakat yang dilatih. Sebab, menyesuaikan dengan anggaran yang dimiliki. Meski demikian, pihaknya mengaku sudah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan. “Nantinya bisa merekrut karyawan dari warga yang pernah dilatih di BLK,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Nunung juga menegaskan akan melakukan pembenahan pada fasilitas, sarana, dan prasarana yang ada di BLK Bondowoso. Khususnya yang sudah rusak atau tidak layak dipakai.

Hal itu dilakukan untuk memberikan pelatihan maksimal kepada masyarakat. Beberapa sarana yang sudah ada di antaranya kompetensi bengkel, menjahit, las, dan lain sebagainya. “Kalau ada masyarakat yang ingin belajar menjadi youtuber, ini kan butuh perangkat. Kami belum punya itu, tapi kami berupaya memenuhi sarana dan prasarana seperti itu (jadi youtuber, Red),” pungkasnya. (ham/c2/dwi)

DABASAH, Radar Ijen – Keberadaan Balai Latihan Kerja (BLK) tentu akan membantu masyarakat dalam mendapatkan kemampuan kerja hingga memiliki skill. Sehingga mereka punya modal agar mudah diterima bekerja ataupun membuka lapangan pekerjaan sendiri. Sayangnya, dengan keberadaan BLK Bondowoso, selama dua tahun pandemi Covid-19 masih minim kegiatan pelatihan.

BACA JUGA: Suami di Jember Bacok Leher Istrinya Pakai Pisau Pemotong Daging

Karena pandemi Covid-19, BLK Bondowoso tidak dapat melakukan penyerapan terlalu banyak. Sebab, sejumlah perusahaan melakukan efisiensi terhadap karyawannya.

Kepala DPMPTSP dan Naker Bondowoso Nunung Setianingsih menjelaskan, secara keseluruhan BLK Bondowoso memang masih sama, antara sebelum dan setelah adanya pandemi Covid-19. Namun, menang selama masa itu, angka pengangguran di Kota Tape pada 2021 lalu mengalami peningkatan. Hal itu, menurutnya, karena banyak perusahaan yang melakukan efisiensi, mulai dari karyawan, produksi, hingga lainnya.

Selain itu, Nunung juga menjelaskan, untuk melakukan kegiatan harus menyesuaikan dengan kemampuan anggaran. Sebab, anggaran diprioritaskan untuk kegiatan penanggulangan Covid-19. Karenanya, tidak banyak kegiatan yang bisa dilakukan BLK Bondowoso. “Maka yang selama ini kami lakukan adalah bekerja sama dengan BLK Banyuwangi,” katanya.

Kerja sama tersebut dilakukan karena BLK Banyuwangi memiliki anggaran dari APBN Pusat. Selain itu, ada kesepakatan untuk melakukan pelatihan di Bondowoso. Dengan pelaksana, instruktur, serta peserta atau objek pelatihan juga berasal dari Bumi Ki Ronggo. “Itu suatu keuntungan sekali buat Bondowoso,” tegasnya.

Dikonfirmasi terkait serapan tenaga kerja dari hasil pelatihan melalui BLK, dia tidak menyebutkan secara pasti berapa jumlahnya. Hanya mengungkapkan bahwa tidak terlalu banyak masyarakat yang dilatih. Sebab, menyesuaikan dengan anggaran yang dimiliki. Meski demikian, pihaknya mengaku sudah bekerja sama dengan sejumlah perusahaan. “Nantinya bisa merekrut karyawan dari warga yang pernah dilatih di BLK,” imbuhnya.

Lebih lanjut, Nunung juga menegaskan akan melakukan pembenahan pada fasilitas, sarana, dan prasarana yang ada di BLK Bondowoso. Khususnya yang sudah rusak atau tidak layak dipakai.

Hal itu dilakukan untuk memberikan pelatihan maksimal kepada masyarakat. Beberapa sarana yang sudah ada di antaranya kompetensi bengkel, menjahit, las, dan lain sebagainya. “Kalau ada masyarakat yang ingin belajar menjadi youtuber, ini kan butuh perangkat. Kami belum punya itu, tapi kami berupaya memenuhi sarana dan prasarana seperti itu (jadi youtuber, Red),” pungkasnya. (ham/c2/dwi)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/