alexametrics
23 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Anak dan Perempuan Perlu Kesadaran Reproduksi

Mobile_AP_Rectangle 1

BADEAN, Radar Ijen – Tindak kekerasan seksual terhadap anak di bawah usia kembali terjadi di Bondowoso. Bahkan baru-baru ini seorang bapak dengan tega menyetubuhi putri kandungnya yang masih 16 tahun.  Kejadian tersebut memantik perhatian aktivis perempuan, bahwa perlu antisipasi untuk meningkatkan kesadaran hak reproduksi bagi anak.

BACA JUGA : Keterlaluan! Seorang Ayah di Bondowoso Cabuli Anak Sendiri

Direktur LSM Edelweis Murti Jasmani mengatakan, pada sektor apa pun tidak ada yang membenarkan adanya pelecehan seksual oleh seorang ayah kepada anak. Baik itu aturan, budaya, apalagi norma. “Semodern dan semaju apa pun zamannya, itu tidak ada,” tegasnya kepada Jawa Pos Radar Ijen, kemarin (11/5).

Mobile_AP_Rectangle 2

Dirinya menuturkan, tindakan tersebut harus diasesmen terkait kondisi bapaknya. Adakah pengaruh konsumsi obat-obatan, sehingga dengan gamblang dan tega menyetubuhi anaknya sendiri. “Bagaimana relasi dalam internal kekeluargaan itu sendiri, bagaimana hubungan anak dengan orang tua,” ucapnya.

Dirinya menambahkan, mengetahui hubungan anak dan orang tua menjadi penting. Menurutnya, tindakan itu berbanding terbalik dengan kultur yang ada di desa. “Kultur desa memiliki ciri khas kekerabatan yang sangat tinggi dan kuat. Namun, masih saja terjadi tindakan pelecehan seksual. Padahal sudah diketahui, kultur desa itu kekerabatannya sangat dekat sekali,” terangnya.

- Advertisement -

BADEAN, Radar Ijen – Tindak kekerasan seksual terhadap anak di bawah usia kembali terjadi di Bondowoso. Bahkan baru-baru ini seorang bapak dengan tega menyetubuhi putri kandungnya yang masih 16 tahun.  Kejadian tersebut memantik perhatian aktivis perempuan, bahwa perlu antisipasi untuk meningkatkan kesadaran hak reproduksi bagi anak.

BACA JUGA : Keterlaluan! Seorang Ayah di Bondowoso Cabuli Anak Sendiri

Direktur LSM Edelweis Murti Jasmani mengatakan, pada sektor apa pun tidak ada yang membenarkan adanya pelecehan seksual oleh seorang ayah kepada anak. Baik itu aturan, budaya, apalagi norma. “Semodern dan semaju apa pun zamannya, itu tidak ada,” tegasnya kepada Jawa Pos Radar Ijen, kemarin (11/5).

Dirinya menuturkan, tindakan tersebut harus diasesmen terkait kondisi bapaknya. Adakah pengaruh konsumsi obat-obatan, sehingga dengan gamblang dan tega menyetubuhi anaknya sendiri. “Bagaimana relasi dalam internal kekeluargaan itu sendiri, bagaimana hubungan anak dengan orang tua,” ucapnya.

Dirinya menambahkan, mengetahui hubungan anak dan orang tua menjadi penting. Menurutnya, tindakan itu berbanding terbalik dengan kultur yang ada di desa. “Kultur desa memiliki ciri khas kekerabatan yang sangat tinggi dan kuat. Namun, masih saja terjadi tindakan pelecehan seksual. Padahal sudah diketahui, kultur desa itu kekerabatannya sangat dekat sekali,” terangnya.

BADEAN, Radar Ijen – Tindak kekerasan seksual terhadap anak di bawah usia kembali terjadi di Bondowoso. Bahkan baru-baru ini seorang bapak dengan tega menyetubuhi putri kandungnya yang masih 16 tahun.  Kejadian tersebut memantik perhatian aktivis perempuan, bahwa perlu antisipasi untuk meningkatkan kesadaran hak reproduksi bagi anak.

BACA JUGA : Keterlaluan! Seorang Ayah di Bondowoso Cabuli Anak Sendiri

Direktur LSM Edelweis Murti Jasmani mengatakan, pada sektor apa pun tidak ada yang membenarkan adanya pelecehan seksual oleh seorang ayah kepada anak. Baik itu aturan, budaya, apalagi norma. “Semodern dan semaju apa pun zamannya, itu tidak ada,” tegasnya kepada Jawa Pos Radar Ijen, kemarin (11/5).

Dirinya menuturkan, tindakan tersebut harus diasesmen terkait kondisi bapaknya. Adakah pengaruh konsumsi obat-obatan, sehingga dengan gamblang dan tega menyetubuhi anaknya sendiri. “Bagaimana relasi dalam internal kekeluargaan itu sendiri, bagaimana hubungan anak dengan orang tua,” ucapnya.

Dirinya menambahkan, mengetahui hubungan anak dan orang tua menjadi penting. Menurutnya, tindakan itu berbanding terbalik dengan kultur yang ada di desa. “Kultur desa memiliki ciri khas kekerabatan yang sangat tinggi dan kuat. Namun, masih saja terjadi tindakan pelecehan seksual. Padahal sudah diketahui, kultur desa itu kekerabatannya sangat dekat sekali,” terangnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/