29.5 C
Jember
Tuesday, 28 March 2023

Jumlah Pengangguran Meningkat

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Jumlah pengangguran di Kabupaten Bondowoso terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten, peningkatan jumlah pengangguran tersebut mencapai 6,99 persen dari tahun sebelumnya.

Baca Juga : Melesat, Ekonomi Digital Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara

Total jumlah pengangguran di Bondowoso pada tahun 2021 mencapai 20.835 orang, bila dibandingkan tahun sebelumnya ada peningkatan hingga 1.362 orang. Bertambahnya jumlah pengangguran juga berbanding lurus dengan bertambahnya tingkat pengangguran terbuka. Pengangguran terbuka juga mengalami peningkatan dari 4,13 persen pada tahun 2020 menjadi 4,46 persen di tahun 2021.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu, dan Ketenagakerjaan (DPMPTSP Naker) Bondowoso Nunung Setianingsih mengatakan, peningkatan tersebut karena situasi pandemi Covid-19. Terlebih, pada masa tersebut tingkat produksi perusahaan mengalami pengurangan. Membuat perusahaan memilih untuk melakukan pengurangan karyawan. “Pada masa pandemi, pekerja maupun pengusaha semua kondisinya prihatin,” katanya.

Berdasarkan laporan yang dirinya terima, karyawan terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) perusahaan di Bondowoso sebenarnya sedikit. Walaupun demikian, waktu bekerjanya mengalami pengurangan. “Pekerja itu diatur jam kerjanya, jadi tidak di-PHK. Selain itu, ada yang dirumahkan sementara. Kemudian, dengan perjanjian mereka akan dipanggil lagi,” imbuhnya.

Selain itu, Nunung juga menyebut, secara keseluruhan ada 800 lebih perusahaan yang terdata di DPMPTSP Naker. Jumlah itu baik perusahaan skala kecil maupun skala besar. Pihaknya mengaku sudah melakukan monitoring dan evaluasi (monev) ke beberapa perusahaan untuk mengetahui kondisi karyawan. Hal itu dilakukan mengingat pandemi Covid-19 sudah mulai melandai. “Kami ingin memastikan pekerja yang dirumahkan kembali dipanggil bekerja atau tidak. Begitu pula, apakah sudah kembali normal,” terangnya.

Lebih lanjut, Nunung juga menuturkan, untuk mengurangi jumlah pengangguran, pihaknya juga melakukan pelatihan kerja kepada mereka yang baru lulus sekolah dan sudah masuk usia kerja. Pelatihan itu merupakan intervensi dari dana pusat. “Tahun ini sudah dilaksanakan kerja sama dengan BLK (Balai Latihan Kerja) Banyuwangi, yang dananya dari APBN,” paparnya. Sementara itu, untuk BLK di Bondowoso, pada Maret lalu sudah ada 90 orang yang ikut program pelatihan. (ham/c2/dwi)

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Jumlah pengangguran di Kabupaten Bondowoso terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten, peningkatan jumlah pengangguran tersebut mencapai 6,99 persen dari tahun sebelumnya.

Baca Juga : Melesat, Ekonomi Digital Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara

Total jumlah pengangguran di Bondowoso pada tahun 2021 mencapai 20.835 orang, bila dibandingkan tahun sebelumnya ada peningkatan hingga 1.362 orang. Bertambahnya jumlah pengangguran juga berbanding lurus dengan bertambahnya tingkat pengangguran terbuka. Pengangguran terbuka juga mengalami peningkatan dari 4,13 persen pada tahun 2020 menjadi 4,46 persen di tahun 2021.

Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu, dan Ketenagakerjaan (DPMPTSP Naker) Bondowoso Nunung Setianingsih mengatakan, peningkatan tersebut karena situasi pandemi Covid-19. Terlebih, pada masa tersebut tingkat produksi perusahaan mengalami pengurangan. Membuat perusahaan memilih untuk melakukan pengurangan karyawan. “Pada masa pandemi, pekerja maupun pengusaha semua kondisinya prihatin,” katanya.

Berdasarkan laporan yang dirinya terima, karyawan terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) perusahaan di Bondowoso sebenarnya sedikit. Walaupun demikian, waktu bekerjanya mengalami pengurangan. “Pekerja itu diatur jam kerjanya, jadi tidak di-PHK. Selain itu, ada yang dirumahkan sementara. Kemudian, dengan perjanjian mereka akan dipanggil lagi,” imbuhnya.

Selain itu, Nunung juga menyebut, secara keseluruhan ada 800 lebih perusahaan yang terdata di DPMPTSP Naker. Jumlah itu baik perusahaan skala kecil maupun skala besar. Pihaknya mengaku sudah melakukan monitoring dan evaluasi (monev) ke beberapa perusahaan untuk mengetahui kondisi karyawan. Hal itu dilakukan mengingat pandemi Covid-19 sudah mulai melandai. “Kami ingin memastikan pekerja yang dirumahkan kembali dipanggil bekerja atau tidak. Begitu pula, apakah sudah kembali normal,” terangnya.

Lebih lanjut, Nunung juga menuturkan, untuk mengurangi jumlah pengangguran, pihaknya juga melakukan pelatihan kerja kepada mereka yang baru lulus sekolah dan sudah masuk usia kerja. Pelatihan itu merupakan intervensi dari dana pusat. “Tahun ini sudah dilaksanakan kerja sama dengan BLK (Balai Latihan Kerja) Banyuwangi, yang dananya dari APBN,” paparnya. Sementara itu, untuk BLK di Bondowoso, pada Maret lalu sudah ada 90 orang yang ikut program pelatihan. (ham/c2/dwi)

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Jumlah pengangguran di Kabupaten Bondowoso terus mengalami peningkatan dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten, peningkatan jumlah pengangguran tersebut mencapai 6,99 persen dari tahun sebelumnya.

Baca Juga : Melesat, Ekonomi Digital Indonesia Tertinggi di Asia Tenggara

Total jumlah pengangguran di Bondowoso pada tahun 2021 mencapai 20.835 orang, bila dibandingkan tahun sebelumnya ada peningkatan hingga 1.362 orang. Bertambahnya jumlah pengangguran juga berbanding lurus dengan bertambahnya tingkat pengangguran terbuka. Pengangguran terbuka juga mengalami peningkatan dari 4,13 persen pada tahun 2020 menjadi 4,46 persen di tahun 2021.

Kepala Dinas Penanaman Modal, Pelayanan Terpadu Satu Pintu, dan Ketenagakerjaan (DPMPTSP Naker) Bondowoso Nunung Setianingsih mengatakan, peningkatan tersebut karena situasi pandemi Covid-19. Terlebih, pada masa tersebut tingkat produksi perusahaan mengalami pengurangan. Membuat perusahaan memilih untuk melakukan pengurangan karyawan. “Pada masa pandemi, pekerja maupun pengusaha semua kondisinya prihatin,” katanya.

Berdasarkan laporan yang dirinya terima, karyawan terdampak pemutusan hubungan kerja (PHK) perusahaan di Bondowoso sebenarnya sedikit. Walaupun demikian, waktu bekerjanya mengalami pengurangan. “Pekerja itu diatur jam kerjanya, jadi tidak di-PHK. Selain itu, ada yang dirumahkan sementara. Kemudian, dengan perjanjian mereka akan dipanggil lagi,” imbuhnya.

Selain itu, Nunung juga menyebut, secara keseluruhan ada 800 lebih perusahaan yang terdata di DPMPTSP Naker. Jumlah itu baik perusahaan skala kecil maupun skala besar. Pihaknya mengaku sudah melakukan monitoring dan evaluasi (monev) ke beberapa perusahaan untuk mengetahui kondisi karyawan. Hal itu dilakukan mengingat pandemi Covid-19 sudah mulai melandai. “Kami ingin memastikan pekerja yang dirumahkan kembali dipanggil bekerja atau tidak. Begitu pula, apakah sudah kembali normal,” terangnya.

Lebih lanjut, Nunung juga menuturkan, untuk mengurangi jumlah pengangguran, pihaknya juga melakukan pelatihan kerja kepada mereka yang baru lulus sekolah dan sudah masuk usia kerja. Pelatihan itu merupakan intervensi dari dana pusat. “Tahun ini sudah dilaksanakan kerja sama dengan BLK (Balai Latihan Kerja) Banyuwangi, yang dananya dari APBN,” paparnya. Sementara itu, untuk BLK di Bondowoso, pada Maret lalu sudah ada 90 orang yang ikut program pelatihan. (ham/c2/dwi)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca