alexametrics
22.3 C
Jember
Friday, 19 August 2022

Napi Bercocok Tanam, Kenapa Tidak?

Manfaatkan Lahan di Samping Lapas

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Narapidana bisa bercocok tanam alias bertani. Itulah hal menarik yang bisa ditemui di Lapas Kelas II B Bondowoso. Narapidana atau warga binaan pemasyarakatan (WBP) tidak hanya dibekali pembinaan akhlak, namun juga diberikan ilmu bercocok tanam.

Lahan yang dipakai untuk bercocok tanam namanya lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE). Berada di belakang dan di samping gedung Lapas Bondowoso. Saat Jawa Pos Radar Ijen berkunjung, berbagai tanaman siap panen di dua lahan tersebut.

Lahan yang tepat di samping lapas berukuran sekitar 50 meter dengan ditanami buncis, sawi, dan kubis. Sementara, lahan kedua di belakang bangunan lapas berukuran 100 meter dengan tanaman yang sama, hanya ada tambahan pepaya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Mamatrono, Kepala Seksi (kasi) Pembinaan dan Pendidikan (Binadik), mengatakan, lahan SAE untuk WBP itu baru tahun ini direnovasi. Sebab, sebelumnya tak terurus alias terbengkalai. “Akhirnya kami manfaatkan untuk media bercocok tanam. Hasil panennya kami jual di pasar induk, car free day, atau ke warung-warung sekitar,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Ijen.

Di lahan pertanian SAE ada enam orang WBP yang bekerja sehari-harinya. Para narapidana asimilasi tersebut sudah melalui berbagai tahapan dan prosedur sebelum dapat bekerja di luar gedung lapas.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Narapidana bisa bercocok tanam alias bertani. Itulah hal menarik yang bisa ditemui di Lapas Kelas II B Bondowoso. Narapidana atau warga binaan pemasyarakatan (WBP) tidak hanya dibekali pembinaan akhlak, namun juga diberikan ilmu bercocok tanam.

Lahan yang dipakai untuk bercocok tanam namanya lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE). Berada di belakang dan di samping gedung Lapas Bondowoso. Saat Jawa Pos Radar Ijen berkunjung, berbagai tanaman siap panen di dua lahan tersebut.

Lahan yang tepat di samping lapas berukuran sekitar 50 meter dengan ditanami buncis, sawi, dan kubis. Sementara, lahan kedua di belakang bangunan lapas berukuran 100 meter dengan tanaman yang sama, hanya ada tambahan pepaya.

Mamatrono, Kepala Seksi (kasi) Pembinaan dan Pendidikan (Binadik), mengatakan, lahan SAE untuk WBP itu baru tahun ini direnovasi. Sebab, sebelumnya tak terurus alias terbengkalai. “Akhirnya kami manfaatkan untuk media bercocok tanam. Hasil panennya kami jual di pasar induk, car free day, atau ke warung-warung sekitar,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Ijen.

Di lahan pertanian SAE ada enam orang WBP yang bekerja sehari-harinya. Para narapidana asimilasi tersebut sudah melalui berbagai tahapan dan prosedur sebelum dapat bekerja di luar gedung lapas.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Narapidana bisa bercocok tanam alias bertani. Itulah hal menarik yang bisa ditemui di Lapas Kelas II B Bondowoso. Narapidana atau warga binaan pemasyarakatan (WBP) tidak hanya dibekali pembinaan akhlak, namun juga diberikan ilmu bercocok tanam.

Lahan yang dipakai untuk bercocok tanam namanya lahan Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE). Berada di belakang dan di samping gedung Lapas Bondowoso. Saat Jawa Pos Radar Ijen berkunjung, berbagai tanaman siap panen di dua lahan tersebut.

Lahan yang tepat di samping lapas berukuran sekitar 50 meter dengan ditanami buncis, sawi, dan kubis. Sementara, lahan kedua di belakang bangunan lapas berukuran 100 meter dengan tanaman yang sama, hanya ada tambahan pepaya.

Mamatrono, Kepala Seksi (kasi) Pembinaan dan Pendidikan (Binadik), mengatakan, lahan SAE untuk WBP itu baru tahun ini direnovasi. Sebab, sebelumnya tak terurus alias terbengkalai. “Akhirnya kami manfaatkan untuk media bercocok tanam. Hasil panennya kami jual di pasar induk, car free day, atau ke warung-warung sekitar,” bebernya kepada Jawa Pos Radar Ijen.

Di lahan pertanian SAE ada enam orang WBP yang bekerja sehari-harinya. Para narapidana asimilasi tersebut sudah melalui berbagai tahapan dan prosedur sebelum dapat bekerja di luar gedung lapas.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/