alexametrics
23.7 C
Jember
Saturday, 24 September 2022

Pengangguran Bertambah, Perusahaan Bondowoso Rekrutmen Pakai BLK Situbondo

Mobile_AP_Rectangle 1

KLABANG, Radar Ijen – Sejumlah perusahaan mulai berinvestasi di Bondowoso. Salah satunya perusahaan yang bergerak pada bidang peternakan di Kecamatan Klabang. Harapannya tentu saja ada penyerapan tenaga kerja dari Bondowoso. Sayangnya, hal itu akan melayang. Pasalnya, rekrutmen karyawan tidak melalui Balai Latihan Kerja (BLK) Bondowoso, melainkan Situbondo.

BACA JUGA : Berkat Kegigihan Penyidik, Bharada E Ungkap Kejadian yang Terjadi di TKP

Hal tersebut diketahui dalam rapat antara Pemkab Bondowoso dengan perwakilan perusahaan pemotongan hewan unggas, PT Charoen Pokphand, di Wisma Wabup Bondowoso, kemarin (10/8). Pembahasan utamanya adalah berkaitan dengan rekrutmen pekerja yang diduga menyerap dari luar daerah.

Mobile_AP_Rectangle 2

Wakil Bupati Bondowoso Irwan Bachtiar Rahmat mengaku sudah pernah mendapatkan keluhan terkait adanya perusahaan peternakan tersebut. Baik dari masyarakat maupun dari musyawarah pimpinan kecamatan (muspika).

Selain itu, dia juga mengaku menerima informasi bahwa perusahaan tersebut diduga merekrut banyak tenaga kerja dari luar daerah. Termasuk dari Kabupaten Situbondo dan Jember. “Informasi yang masuk kepada saya juga, Pokphand bekerja sama dengan BLK Situbondo, untuk rekrutmen tenaga kerjanya,” katanya.

Ketua DPC PDIP Bondowoso itu juga menuturkan, setelah menyampaikan kepada pihak perusahaan, akhirnya PT Charoen Pokphand melakukan permintaan maaf. Serta mengaku tidak mengetahui keberadaan BLK Bondowoso. Akhirnya, mereka memutuskan untuk bekerja sama dengan BLK dari luar daerah. “Sekarang bekerja sama dengan BLK Bondowoso. Karena dipihakketigakan oleh Pokphand,” terangnya.

Kepala DPMPTSP dan Naker Kabupaten Bondowoso Nunung Setianingsih mengatakan, launching perusahaan masih menunggu izin operasional dari Provinsi Jatim karena belum turun. “Rencananya bulan Agustus. Tapi, Agustus diprediksi belum bisa turun. Mungkin September,” paparnya.

Sementara itu, Manager PT Charoen Pokphand Heru ketika dikonfirmasi sejumlah awak media masih irit bicara dan terkesan terburu-buru. Pihaknya hanya mengaku siap menampung tenaga kerja lokal sebesar 80 persen lebih. “Dampak lingkungan aman, kami punya WWTP (Wastewater Treatment Plant, Red),” pungkasnya sambil terburu-buru masuk ke dalam mobilnya.

Kondisi tersebut tentu saja mengurangi potensi penyerapan tenaga kerja Bondowoso. Apalagi, sepanjang 2021 angka pengangguran di Bondowoso mengalami peningkatan. Bahkan, selama tiga tahun terakhir, tingkat pengangguran di Bondowoso tak kunjung turun. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Bondowoso, tahun 2019 sebanyak 13.797 orang menganggur. Tahun 2020 pun bukannya turun. Justru naik cukup pesat mencapai angka 19.473 orang. Sementara, pada tahun 2021 lalu kembali naik menjadi 20.835 orang.

Selain itu, angka bekerja juga mengalami penurunan selama tiga tahun terakhir. Tahun 2019 orang yang memiliki pekerjaan di angka 453.025 orang. Tahun 2020 turun menjadi 452.545 orang. Tahun kemarin 2021, angka itu kembali menurun menjadi 446.653 orang. Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) 2019 sampai 2021 juga turun. Tahun 2019 yakni 76 persen, 2020 sebesar 75 persen, dan tahun 2021 lagi menjadi 74 persen. (ham/c2/dwi)

 

- Advertisement -

KLABANG, Radar Ijen – Sejumlah perusahaan mulai berinvestasi di Bondowoso. Salah satunya perusahaan yang bergerak pada bidang peternakan di Kecamatan Klabang. Harapannya tentu saja ada penyerapan tenaga kerja dari Bondowoso. Sayangnya, hal itu akan melayang. Pasalnya, rekrutmen karyawan tidak melalui Balai Latihan Kerja (BLK) Bondowoso, melainkan Situbondo.

BACA JUGA : Berkat Kegigihan Penyidik, Bharada E Ungkap Kejadian yang Terjadi di TKP

Hal tersebut diketahui dalam rapat antara Pemkab Bondowoso dengan perwakilan perusahaan pemotongan hewan unggas, PT Charoen Pokphand, di Wisma Wabup Bondowoso, kemarin (10/8). Pembahasan utamanya adalah berkaitan dengan rekrutmen pekerja yang diduga menyerap dari luar daerah.

Wakil Bupati Bondowoso Irwan Bachtiar Rahmat mengaku sudah pernah mendapatkan keluhan terkait adanya perusahaan peternakan tersebut. Baik dari masyarakat maupun dari musyawarah pimpinan kecamatan (muspika).

Selain itu, dia juga mengaku menerima informasi bahwa perusahaan tersebut diduga merekrut banyak tenaga kerja dari luar daerah. Termasuk dari Kabupaten Situbondo dan Jember. “Informasi yang masuk kepada saya juga, Pokphand bekerja sama dengan BLK Situbondo, untuk rekrutmen tenaga kerjanya,” katanya.

Ketua DPC PDIP Bondowoso itu juga menuturkan, setelah menyampaikan kepada pihak perusahaan, akhirnya PT Charoen Pokphand melakukan permintaan maaf. Serta mengaku tidak mengetahui keberadaan BLK Bondowoso. Akhirnya, mereka memutuskan untuk bekerja sama dengan BLK dari luar daerah. “Sekarang bekerja sama dengan BLK Bondowoso. Karena dipihakketigakan oleh Pokphand,” terangnya.

Kepala DPMPTSP dan Naker Kabupaten Bondowoso Nunung Setianingsih mengatakan, launching perusahaan masih menunggu izin operasional dari Provinsi Jatim karena belum turun. “Rencananya bulan Agustus. Tapi, Agustus diprediksi belum bisa turun. Mungkin September,” paparnya.

Sementara itu, Manager PT Charoen Pokphand Heru ketika dikonfirmasi sejumlah awak media masih irit bicara dan terkesan terburu-buru. Pihaknya hanya mengaku siap menampung tenaga kerja lokal sebesar 80 persen lebih. “Dampak lingkungan aman, kami punya WWTP (Wastewater Treatment Plant, Red),” pungkasnya sambil terburu-buru masuk ke dalam mobilnya.

Kondisi tersebut tentu saja mengurangi potensi penyerapan tenaga kerja Bondowoso. Apalagi, sepanjang 2021 angka pengangguran di Bondowoso mengalami peningkatan. Bahkan, selama tiga tahun terakhir, tingkat pengangguran di Bondowoso tak kunjung turun. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Bondowoso, tahun 2019 sebanyak 13.797 orang menganggur. Tahun 2020 pun bukannya turun. Justru naik cukup pesat mencapai angka 19.473 orang. Sementara, pada tahun 2021 lalu kembali naik menjadi 20.835 orang.

Selain itu, angka bekerja juga mengalami penurunan selama tiga tahun terakhir. Tahun 2019 orang yang memiliki pekerjaan di angka 453.025 orang. Tahun 2020 turun menjadi 452.545 orang. Tahun kemarin 2021, angka itu kembali menurun menjadi 446.653 orang. Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) 2019 sampai 2021 juga turun. Tahun 2019 yakni 76 persen, 2020 sebesar 75 persen, dan tahun 2021 lagi menjadi 74 persen. (ham/c2/dwi)

 

KLABANG, Radar Ijen – Sejumlah perusahaan mulai berinvestasi di Bondowoso. Salah satunya perusahaan yang bergerak pada bidang peternakan di Kecamatan Klabang. Harapannya tentu saja ada penyerapan tenaga kerja dari Bondowoso. Sayangnya, hal itu akan melayang. Pasalnya, rekrutmen karyawan tidak melalui Balai Latihan Kerja (BLK) Bondowoso, melainkan Situbondo.

BACA JUGA : Berkat Kegigihan Penyidik, Bharada E Ungkap Kejadian yang Terjadi di TKP

Hal tersebut diketahui dalam rapat antara Pemkab Bondowoso dengan perwakilan perusahaan pemotongan hewan unggas, PT Charoen Pokphand, di Wisma Wabup Bondowoso, kemarin (10/8). Pembahasan utamanya adalah berkaitan dengan rekrutmen pekerja yang diduga menyerap dari luar daerah.

Wakil Bupati Bondowoso Irwan Bachtiar Rahmat mengaku sudah pernah mendapatkan keluhan terkait adanya perusahaan peternakan tersebut. Baik dari masyarakat maupun dari musyawarah pimpinan kecamatan (muspika).

Selain itu, dia juga mengaku menerima informasi bahwa perusahaan tersebut diduga merekrut banyak tenaga kerja dari luar daerah. Termasuk dari Kabupaten Situbondo dan Jember. “Informasi yang masuk kepada saya juga, Pokphand bekerja sama dengan BLK Situbondo, untuk rekrutmen tenaga kerjanya,” katanya.

Ketua DPC PDIP Bondowoso itu juga menuturkan, setelah menyampaikan kepada pihak perusahaan, akhirnya PT Charoen Pokphand melakukan permintaan maaf. Serta mengaku tidak mengetahui keberadaan BLK Bondowoso. Akhirnya, mereka memutuskan untuk bekerja sama dengan BLK dari luar daerah. “Sekarang bekerja sama dengan BLK Bondowoso. Karena dipihakketigakan oleh Pokphand,” terangnya.

Kepala DPMPTSP dan Naker Kabupaten Bondowoso Nunung Setianingsih mengatakan, launching perusahaan masih menunggu izin operasional dari Provinsi Jatim karena belum turun. “Rencananya bulan Agustus. Tapi, Agustus diprediksi belum bisa turun. Mungkin September,” paparnya.

Sementara itu, Manager PT Charoen Pokphand Heru ketika dikonfirmasi sejumlah awak media masih irit bicara dan terkesan terburu-buru. Pihaknya hanya mengaku siap menampung tenaga kerja lokal sebesar 80 persen lebih. “Dampak lingkungan aman, kami punya WWTP (Wastewater Treatment Plant, Red),” pungkasnya sambil terburu-buru masuk ke dalam mobilnya.

Kondisi tersebut tentu saja mengurangi potensi penyerapan tenaga kerja Bondowoso. Apalagi, sepanjang 2021 angka pengangguran di Bondowoso mengalami peningkatan. Bahkan, selama tiga tahun terakhir, tingkat pengangguran di Bondowoso tak kunjung turun. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Bondowoso, tahun 2019 sebanyak 13.797 orang menganggur. Tahun 2020 pun bukannya turun. Justru naik cukup pesat mencapai angka 19.473 orang. Sementara, pada tahun 2021 lalu kembali naik menjadi 20.835 orang.

Selain itu, angka bekerja juga mengalami penurunan selama tiga tahun terakhir. Tahun 2019 orang yang memiliki pekerjaan di angka 453.025 orang. Tahun 2020 turun menjadi 452.545 orang. Tahun kemarin 2021, angka itu kembali menurun menjadi 446.653 orang. Tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) 2019 sampai 2021 juga turun. Tahun 2019 yakni 76 persen, 2020 sebesar 75 persen, dan tahun 2021 lagi menjadi 74 persen. (ham/c2/dwi)

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/