alexametrics
24.3 C
Jember
Saturday, 24 September 2022

Drop Air Bersih, Kekeringan Mulai Mengintai Daerah Bondowoso

Mobile_AP_Rectangle 1

KLABANG, Radar Ijen – Kekurangan air bersih kembali terjadi di setiap musim kemarau. Solusi jangka panjang yang diberikan tidak kunjung menyelesaikan seratus persen kekeringan di Bondowoso. Akhirnya solusi jangka pendek dirasa paling jitu, yaitu drop air bersih di sejumlah titik seperti yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso.

BACA JUGA : Lapor Polisi Gara-Gara Perusahaan Dirugikan Rp 1 Miliar

Daerah yang didrop air bersih oleh BPBD, pada Selasa 9 Agustus tersebut mulai dari Kecamatan Klabang dan Tegalampel. Sekretaris BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo menerangkan, droping air di kawasan tersebut dilakukan karena masuk dalam wilayah rawan kekeringan. Selain itu, juga terdapat permintaan air bersih, dari pemerintah desa dan kecamatan setempat.

Mobile_AP_Rectangle 2

Air bersih yang dikirim, lanjutnya, mencapai 10 ribu liter dan Dibawa menggunakan dua truk tangki air dengan kapasitas masing-masing 5 ribu liter. Air itu diperuntukkan bagi 60 kepala keluargayang ada di wilayah setempat. “Kami dropping langsung ke lokasi,” katanya.

Pihaknya juga menuturkan, akan terus mendropping air ke kawasan lainnya secara berkala. Utamanya, kawasan yang masuk daerah rawan kekeringan. Terlebih setelah adanya surat dari Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) tentang Informasi prakiraan kondisi iklim Jatim pada Agustus – Oktober 2022. Dalam surat itu, Bondowoso diperkirakan menjadi salah satu kawasan dengan curah hujan rendah selama bulan Agustus ini. “Kalau berdasarkan surat itu, puncak musim kemarau di Jatim diperkirakan dominan terjadi pada bulan Agustus,” imbuhnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen, beberapa kecamatan yang terjadi kekeringan. Diantaranya Kecamatan Tegalampel, Binakal, Botolinggo, Cermee, Curahdami, Grujugan, Ijen, Maesan, Pakem, Sukosari, Sumber Wringin, Tapen, dan Tlogosari.

Dikonfirmasi terkait rencana jangka panjang, dalam mengatasi kekeringan. Kristianto menjelaskan, sudah membuat sumur bor dengan metode geolistrik titik-titik rawan bencana. Pembangunan yang mulai dilakukan sejak tahun 2021 lalu itu, diharapkan ini bisa dimanfaatkan airnya secara permanen oleh warga. “Ke depan sudah diwacanakan ke dewan (DPRD Bondowoso, Red) terkait pemanenan air hujan di daerah yang jauh dari sumber air dan tidak ada instalasi air bersih,” pungkasnya. (Ham/dwi)

 

- Advertisement -

KLABANG, Radar Ijen – Kekurangan air bersih kembali terjadi di setiap musim kemarau. Solusi jangka panjang yang diberikan tidak kunjung menyelesaikan seratus persen kekeringan di Bondowoso. Akhirnya solusi jangka pendek dirasa paling jitu, yaitu drop air bersih di sejumlah titik seperti yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso.

BACA JUGA : Lapor Polisi Gara-Gara Perusahaan Dirugikan Rp 1 Miliar

Daerah yang didrop air bersih oleh BPBD, pada Selasa 9 Agustus tersebut mulai dari Kecamatan Klabang dan Tegalampel. Sekretaris BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo menerangkan, droping air di kawasan tersebut dilakukan karena masuk dalam wilayah rawan kekeringan. Selain itu, juga terdapat permintaan air bersih, dari pemerintah desa dan kecamatan setempat.

Air bersih yang dikirim, lanjutnya, mencapai 10 ribu liter dan Dibawa menggunakan dua truk tangki air dengan kapasitas masing-masing 5 ribu liter. Air itu diperuntukkan bagi 60 kepala keluargayang ada di wilayah setempat. “Kami dropping langsung ke lokasi,” katanya.

Pihaknya juga menuturkan, akan terus mendropping air ke kawasan lainnya secara berkala. Utamanya, kawasan yang masuk daerah rawan kekeringan. Terlebih setelah adanya surat dari Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) tentang Informasi prakiraan kondisi iklim Jatim pada Agustus – Oktober 2022. Dalam surat itu, Bondowoso diperkirakan menjadi salah satu kawasan dengan curah hujan rendah selama bulan Agustus ini. “Kalau berdasarkan surat itu, puncak musim kemarau di Jatim diperkirakan dominan terjadi pada bulan Agustus,” imbuhnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen, beberapa kecamatan yang terjadi kekeringan. Diantaranya Kecamatan Tegalampel, Binakal, Botolinggo, Cermee, Curahdami, Grujugan, Ijen, Maesan, Pakem, Sukosari, Sumber Wringin, Tapen, dan Tlogosari.

Dikonfirmasi terkait rencana jangka panjang, dalam mengatasi kekeringan. Kristianto menjelaskan, sudah membuat sumur bor dengan metode geolistrik titik-titik rawan bencana. Pembangunan yang mulai dilakukan sejak tahun 2021 lalu itu, diharapkan ini bisa dimanfaatkan airnya secara permanen oleh warga. “Ke depan sudah diwacanakan ke dewan (DPRD Bondowoso, Red) terkait pemanenan air hujan di daerah yang jauh dari sumber air dan tidak ada instalasi air bersih,” pungkasnya. (Ham/dwi)

 

KLABANG, Radar Ijen – Kekurangan air bersih kembali terjadi di setiap musim kemarau. Solusi jangka panjang yang diberikan tidak kunjung menyelesaikan seratus persen kekeringan di Bondowoso. Akhirnya solusi jangka pendek dirasa paling jitu, yaitu drop air bersih di sejumlah titik seperti yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bondowoso.

BACA JUGA : Lapor Polisi Gara-Gara Perusahaan Dirugikan Rp 1 Miliar

Daerah yang didrop air bersih oleh BPBD, pada Selasa 9 Agustus tersebut mulai dari Kecamatan Klabang dan Tegalampel. Sekretaris BPBD Bondowoso, Kristianto Putro Prasojo menerangkan, droping air di kawasan tersebut dilakukan karena masuk dalam wilayah rawan kekeringan. Selain itu, juga terdapat permintaan air bersih, dari pemerintah desa dan kecamatan setempat.

Air bersih yang dikirim, lanjutnya, mencapai 10 ribu liter dan Dibawa menggunakan dua truk tangki air dengan kapasitas masing-masing 5 ribu liter. Air itu diperuntukkan bagi 60 kepala keluargayang ada di wilayah setempat. “Kami dropping langsung ke lokasi,” katanya.

Pihaknya juga menuturkan, akan terus mendropping air ke kawasan lainnya secara berkala. Utamanya, kawasan yang masuk daerah rawan kekeringan. Terlebih setelah adanya surat dari Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika (BMKG) tentang Informasi prakiraan kondisi iklim Jatim pada Agustus – Oktober 2022. Dalam surat itu, Bondowoso diperkirakan menjadi salah satu kawasan dengan curah hujan rendah selama bulan Agustus ini. “Kalau berdasarkan surat itu, puncak musim kemarau di Jatim diperkirakan dominan terjadi pada bulan Agustus,” imbuhnya.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Ijen, beberapa kecamatan yang terjadi kekeringan. Diantaranya Kecamatan Tegalampel, Binakal, Botolinggo, Cermee, Curahdami, Grujugan, Ijen, Maesan, Pakem, Sukosari, Sumber Wringin, Tapen, dan Tlogosari.

Dikonfirmasi terkait rencana jangka panjang, dalam mengatasi kekeringan. Kristianto menjelaskan, sudah membuat sumur bor dengan metode geolistrik titik-titik rawan bencana. Pembangunan yang mulai dilakukan sejak tahun 2021 lalu itu, diharapkan ini bisa dimanfaatkan airnya secara permanen oleh warga. “Ke depan sudah diwacanakan ke dewan (DPRD Bondowoso, Red) terkait pemanenan air hujan di daerah yang jauh dari sumber air dan tidak ada instalasi air bersih,” pungkasnya. (Ham/dwi)

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/