alexametrics
27.1 C
Jember
Wednesday, 5 October 2022

Gas Metana dari 5 Ratus Ribu Ton Sampah per Hari, Rusak Lapisan Ozon Bumi

Mobile_AP_Rectangle 1

DABASAH, Radar Ijen – Selain berbau tidak sedap, tumpukan sampah juga dapat memengaruhi hasil pertanian masyarakat. Bahkan, jika berada di wilayah laut, hasil tangkapan ikan nelayan juga bisa menurun.

BACA JUGA : Motif Penembakan Brigadir J Belum Terungkap? Apakah Ada Skenario Lagi

Hal tersebut dikatakan oleh Slamet Riyadi, Direktur Yayasan Hijau Madani. Menurutnya, tumpukan sampah dapat memengaruhi perubahan iklim. Hingga membuat petani sulit memprediksi cuaca atau musim tanam. Selain itu, para nelayan makin kesulitan mencari ikan karena angin tak menentu. “Tubuh manusia makin ringkih karena perubahan suhu udara yang begitu cepat,” imbuhnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia juga menjelaskan, setiap seribu ton sampah berpotensi menghasilkan 2,8 kilogram gas metana. Gas tersebut dinilai dapat merusak lapisan ozon bumi. Sebab, termasuk gas rumah kaca yang dapat mengakibatkan perubahan iklim. “Efek yang ditimbulkan gas metana itu sampai 30 kali lipat dari karbondioksida,” terangnya.

Melihat kondisi tersebut, Slamet menganggap, tidak tertutup kemungkinan tumpukan sampah di Kota Tape juga berpengaruh terhadap produktivitas pertanian di wilayah setempat. Terlebih, berdasarkan data yang mereka terima, dalam sehari sampah yang dikirim ke TPA mencapai 60 ton per hari.  Dalam satu tahun bisa mencapai 21.600 ton. “Potensi gas metana yang disumbangkan sampah itu tentu menambah pemanasan global,” katanya.

Lebih lanjut, dia juga memperkirakan gas metana yang disumbangkan oleh masyarakat Bondowoso seluruhnya bisa lebih dari itu. Sebab, diperkirakan setiap orang menghasilkan sampah 0,7 kilogram per hari. Sementara, jumlah penduduk mencapai 776.151 jiwa. Karena itu, total potensi sampahnya diperkirakan mencapai 543 ribu ton lebih per hari. “Itu potensi sampah di seluruh Bondowoso,” pungkasnya. (ham/c2/dwi)

 

- Advertisement -

DABASAH, Radar Ijen – Selain berbau tidak sedap, tumpukan sampah juga dapat memengaruhi hasil pertanian masyarakat. Bahkan, jika berada di wilayah laut, hasil tangkapan ikan nelayan juga bisa menurun.

BACA JUGA : Motif Penembakan Brigadir J Belum Terungkap? Apakah Ada Skenario Lagi

Hal tersebut dikatakan oleh Slamet Riyadi, Direktur Yayasan Hijau Madani. Menurutnya, tumpukan sampah dapat memengaruhi perubahan iklim. Hingga membuat petani sulit memprediksi cuaca atau musim tanam. Selain itu, para nelayan makin kesulitan mencari ikan karena angin tak menentu. “Tubuh manusia makin ringkih karena perubahan suhu udara yang begitu cepat,” imbuhnya.

Dia juga menjelaskan, setiap seribu ton sampah berpotensi menghasilkan 2,8 kilogram gas metana. Gas tersebut dinilai dapat merusak lapisan ozon bumi. Sebab, termasuk gas rumah kaca yang dapat mengakibatkan perubahan iklim. “Efek yang ditimbulkan gas metana itu sampai 30 kali lipat dari karbondioksida,” terangnya.

Melihat kondisi tersebut, Slamet menganggap, tidak tertutup kemungkinan tumpukan sampah di Kota Tape juga berpengaruh terhadap produktivitas pertanian di wilayah setempat. Terlebih, berdasarkan data yang mereka terima, dalam sehari sampah yang dikirim ke TPA mencapai 60 ton per hari.  Dalam satu tahun bisa mencapai 21.600 ton. “Potensi gas metana yang disumbangkan sampah itu tentu menambah pemanasan global,” katanya.

Lebih lanjut, dia juga memperkirakan gas metana yang disumbangkan oleh masyarakat Bondowoso seluruhnya bisa lebih dari itu. Sebab, diperkirakan setiap orang menghasilkan sampah 0,7 kilogram per hari. Sementara, jumlah penduduk mencapai 776.151 jiwa. Karena itu, total potensi sampahnya diperkirakan mencapai 543 ribu ton lebih per hari. “Itu potensi sampah di seluruh Bondowoso,” pungkasnya. (ham/c2/dwi)

 

DABASAH, Radar Ijen – Selain berbau tidak sedap, tumpukan sampah juga dapat memengaruhi hasil pertanian masyarakat. Bahkan, jika berada di wilayah laut, hasil tangkapan ikan nelayan juga bisa menurun.

BACA JUGA : Motif Penembakan Brigadir J Belum Terungkap? Apakah Ada Skenario Lagi

Hal tersebut dikatakan oleh Slamet Riyadi, Direktur Yayasan Hijau Madani. Menurutnya, tumpukan sampah dapat memengaruhi perubahan iklim. Hingga membuat petani sulit memprediksi cuaca atau musim tanam. Selain itu, para nelayan makin kesulitan mencari ikan karena angin tak menentu. “Tubuh manusia makin ringkih karena perubahan suhu udara yang begitu cepat,” imbuhnya.

Dia juga menjelaskan, setiap seribu ton sampah berpotensi menghasilkan 2,8 kilogram gas metana. Gas tersebut dinilai dapat merusak lapisan ozon bumi. Sebab, termasuk gas rumah kaca yang dapat mengakibatkan perubahan iklim. “Efek yang ditimbulkan gas metana itu sampai 30 kali lipat dari karbondioksida,” terangnya.

Melihat kondisi tersebut, Slamet menganggap, tidak tertutup kemungkinan tumpukan sampah di Kota Tape juga berpengaruh terhadap produktivitas pertanian di wilayah setempat. Terlebih, berdasarkan data yang mereka terima, dalam sehari sampah yang dikirim ke TPA mencapai 60 ton per hari.  Dalam satu tahun bisa mencapai 21.600 ton. “Potensi gas metana yang disumbangkan sampah itu tentu menambah pemanasan global,” katanya.

Lebih lanjut, dia juga memperkirakan gas metana yang disumbangkan oleh masyarakat Bondowoso seluruhnya bisa lebih dari itu. Sebab, diperkirakan setiap orang menghasilkan sampah 0,7 kilogram per hari. Sementara, jumlah penduduk mencapai 776.151 jiwa. Karena itu, total potensi sampahnya diperkirakan mencapai 543 ribu ton lebih per hari. “Itu potensi sampah di seluruh Bondowoso,” pungkasnya. (ham/c2/dwi)

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/