alexametrics
23.2 C
Jember
Thursday, 18 August 2022

Musim Penghujan Berdampak Buruk untuk Kualitas Tembakau

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tembakau menjadi komoditas perkebunan nomor dua paling banyak di Bondowoso. Setelah kopi, tanaman tembakau memang masih banyak dijumpai di Bondowoso. Kini, sebagian petani tembakau mulai panen. Salah satunya Novi, warga Dusun Kerajan II Desa Dawuhan, Kecamatan Grujugan.

Saat ditemui, ia tampak sedang membetulkan tembakau jenis samporis yang tercecer dari atas tempat pengeringan tembakau rajangan. Tembakau yang ia rapikan itu terlihat sudah mulai mengering.

Novi mengaku sudah dua kali memanen tembakau karena memang sudah waktunya dipetik. Pada panen pertama, tembakau miliknya laku dengan harga Rp 22 ribu per kilogram. “Beruntung, sudah ada pedagang yang mau membeli. Harganya lumayan daripada tidak laku sama sekali,” kata pria paruh baya ini.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurutnya, harga tembakau bergantung pada kualitasnya. Biasanya, kata dia, semakin ke atas daunnya, semakin bagus. “Kan semakin tebal daunnya,” imbuhnya.

Kini, sebagaimana di daerah lain, Bondowoso juga sering diguyur hujan. Hal itu menjadi kendala dalam proses pengeringan karena kekurangan panas. Dampaknya, bisa mengakibatkan tembakau rusak. “Kalau panasnya normal, biasanya dijemur selama dua hari,” paparnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, tanamannya tergolong panen lebih awal. Namun, bagi petani yang masa tanamannya belakangan, saat ini masih belum panen.

Novi mengungkapkan, biaya produksi tembakau cukup tinggi. Mulai dari membajak tanah, perawatan, hingga saat panen empat bulan sejak masa tanam. “Saya punya luasan lahan 250 meter persegi. Pupuknya habis dua kuintal. Itu dicampur antara Urea dan ZA. Kalau Rp 3 juta lebih sudah habis. Semoga nanti hasilnya bisa balik modal dan harganya bisa tinggi,” harapnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tembakau menjadi komoditas perkebunan nomor dua paling banyak di Bondowoso. Setelah kopi, tanaman tembakau memang masih banyak dijumpai di Bondowoso. Kini, sebagian petani tembakau mulai panen. Salah satunya Novi, warga Dusun Kerajan II Desa Dawuhan, Kecamatan Grujugan.

Saat ditemui, ia tampak sedang membetulkan tembakau jenis samporis yang tercecer dari atas tempat pengeringan tembakau rajangan. Tembakau yang ia rapikan itu terlihat sudah mulai mengering.

Novi mengaku sudah dua kali memanen tembakau karena memang sudah waktunya dipetik. Pada panen pertama, tembakau miliknya laku dengan harga Rp 22 ribu per kilogram. “Beruntung, sudah ada pedagang yang mau membeli. Harganya lumayan daripada tidak laku sama sekali,” kata pria paruh baya ini.

Menurutnya, harga tembakau bergantung pada kualitasnya. Biasanya, kata dia, semakin ke atas daunnya, semakin bagus. “Kan semakin tebal daunnya,” imbuhnya.

Kini, sebagaimana di daerah lain, Bondowoso juga sering diguyur hujan. Hal itu menjadi kendala dalam proses pengeringan karena kekurangan panas. Dampaknya, bisa mengakibatkan tembakau rusak. “Kalau panasnya normal, biasanya dijemur selama dua hari,” paparnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, tanamannya tergolong panen lebih awal. Namun, bagi petani yang masa tanamannya belakangan, saat ini masih belum panen.

Novi mengungkapkan, biaya produksi tembakau cukup tinggi. Mulai dari membajak tanah, perawatan, hingga saat panen empat bulan sejak masa tanam. “Saya punya luasan lahan 250 meter persegi. Pupuknya habis dua kuintal. Itu dicampur antara Urea dan ZA. Kalau Rp 3 juta lebih sudah habis. Semoga nanti hasilnya bisa balik modal dan harganya bisa tinggi,” harapnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tembakau menjadi komoditas perkebunan nomor dua paling banyak di Bondowoso. Setelah kopi, tanaman tembakau memang masih banyak dijumpai di Bondowoso. Kini, sebagian petani tembakau mulai panen. Salah satunya Novi, warga Dusun Kerajan II Desa Dawuhan, Kecamatan Grujugan.

Saat ditemui, ia tampak sedang membetulkan tembakau jenis samporis yang tercecer dari atas tempat pengeringan tembakau rajangan. Tembakau yang ia rapikan itu terlihat sudah mulai mengering.

Novi mengaku sudah dua kali memanen tembakau karena memang sudah waktunya dipetik. Pada panen pertama, tembakau miliknya laku dengan harga Rp 22 ribu per kilogram. “Beruntung, sudah ada pedagang yang mau membeli. Harganya lumayan daripada tidak laku sama sekali,” kata pria paruh baya ini.

Menurutnya, harga tembakau bergantung pada kualitasnya. Biasanya, kata dia, semakin ke atas daunnya, semakin bagus. “Kan semakin tebal daunnya,” imbuhnya.

Kini, sebagaimana di daerah lain, Bondowoso juga sering diguyur hujan. Hal itu menjadi kendala dalam proses pengeringan karena kekurangan panas. Dampaknya, bisa mengakibatkan tembakau rusak. “Kalau panasnya normal, biasanya dijemur selama dua hari,” paparnya.

Lebih lanjut, dia menjelaskan, tanamannya tergolong panen lebih awal. Namun, bagi petani yang masa tanamannya belakangan, saat ini masih belum panen.

Novi mengungkapkan, biaya produksi tembakau cukup tinggi. Mulai dari membajak tanah, perawatan, hingga saat panen empat bulan sejak masa tanam. “Saya punya luasan lahan 250 meter persegi. Pupuknya habis dua kuintal. Itu dicampur antara Urea dan ZA. Kalau Rp 3 juta lebih sudah habis. Semoga nanti hasilnya bisa balik modal dan harganya bisa tinggi,” harapnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/