alexametrics
24.4 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Cara Kreatif Pak Bejo Penjual Mi Ayam di Bondowoso untuk Menarik Pelanggan

Ada banyak cara yang dilakukan pelaku usaha untuk memikat pelanggan. Seperti yang dilakukan oleh pria yang biasa disapa Pak Bejo ini. Ia menjual mi ayam dengan berbagai jargon. Ini digunakan untuk mengundang rasa penasaran hingga konsumen tertarik membeli dagangannya.

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – “Cukup bayar dengan … senyuman”, tulisan itu terpampang jelas pada sebuah rombong milik penjual mi ayam di Bondowoso. Di atas tulisan dengan huruf kapital itu terdapat kalimat “Mi Ayam Anti Galau”. Hal itu ternyata memang sengaja dilakukan oleh pria yang mengaku namanya Pak Bejo ini. Ia berharap, dengan kreasi tersebut dia bisa menarik rasa penasaran dan rasa ingin membeli setiap orang yang melihatnya.

Ternyata Pak Bejo sudah memulai usahanya lebih dua dekade lalu. Tepatnya sejak 1996 silam. Pada awal merintis usahanya, ia mengaku sempat berjualan keliling dari satu tempat ke tempat lain. Bahkan, ia juga menyusuri gang-gang kecil di perkampungan daerah kota. Hal tersebut dilakukan selama 15 tahun sejak awal merintis usahanya.

Setelah 15 tahun berlalu, ia kemudian memutuskan untuk berjualan di sebelah utara Alun-Alun RBA Ki Ronggo, Bondowoso. Karena beberapa alasan, ia kemudian pindah ke tempat lain yang masih di sekitar alun-alun. Ia pindah ke samping Gedung Olahraga (Gelora) Pelita, Bondowoso. “Di dekat SMP 1 (alun-alun sebelah utara, Red), saya sering diusir oleh satpol PP,” katanya

Mobile_AP_Rectangle 2

Setelah adanya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) beberapa waktu lalu, ia terpaksa harus memindahkan tempat jualannya ke pertigaan Jalan Diponegoro, Kelurahan Kotakulon, Bondowoso. Hal tersebut karena alun-alun ditutup selama 24 jam, dan akses jalan menuju tempatnya berjualan juga ditutup total.

Pandemi Covid-19 memang berdampak pada para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Terlebih, diterapkannya PPKM kian menambah sulitnya pedagang kecil untuk melanjutkan usahanya. Daya beli masyarakat yang menurun juga menjadi salah satu faktor lesunya roda perekonomian. Di tengah sulitnya kondisi saat ini, hanya orang-orang yang pantang menyerah dan kreatif yang mampu bertahan di tengah badai krisis.

Hal ini ternyata menjadi perhatian Pak Bejo. Ia kemudian membuat kalimat-kalimat nyeleneh di rombongnya. Bahkan, ia juga kerap mengganti dengan kata-kata lain. Tentu dengan memperhatikan situasi dan kondisi di sekitarnya. Bukan kata-kata dan jargon saja yang diganti. Saat pertengahan pandemi kemarin, ia juga mengganti nama rombongnya menjadi “Mi Ayam Anti Corona”.

Kemudian, selang beberapa waktu, ia mengganti nama rombongnya menjadi “Mi Ayam Anti Galau”. Dilengkapi dengan jargon yang berbeda pula. Menurutnya, nama dan tagline itu diberikan agar membuat orang-orang penasaran.

Benar saja, jargon itu membuat sejumlah orang penasaran. Terlebih tulisannya “cukup bayar dengan … senyuman“. Tentu bagi sebagian orang akan membuat mereka bertanya apakah mi ayam ini gratis dan membayar hanya cukup dengan tersenyum atau bagaimana? Tulisan di rombong itu tentu menimbulkan banyak spekulasi. Mulai dari apakah ini diberikan untuk orang tertentu, atau diberikan secara cuma-cuma kepada semua orang, yang penting mau tersenyum.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – “Cukup bayar dengan … senyuman”, tulisan itu terpampang jelas pada sebuah rombong milik penjual mi ayam di Bondowoso. Di atas tulisan dengan huruf kapital itu terdapat kalimat “Mi Ayam Anti Galau”. Hal itu ternyata memang sengaja dilakukan oleh pria yang mengaku namanya Pak Bejo ini. Ia berharap, dengan kreasi tersebut dia bisa menarik rasa penasaran dan rasa ingin membeli setiap orang yang melihatnya.

Ternyata Pak Bejo sudah memulai usahanya lebih dua dekade lalu. Tepatnya sejak 1996 silam. Pada awal merintis usahanya, ia mengaku sempat berjualan keliling dari satu tempat ke tempat lain. Bahkan, ia juga menyusuri gang-gang kecil di perkampungan daerah kota. Hal tersebut dilakukan selama 15 tahun sejak awal merintis usahanya.

Setelah 15 tahun berlalu, ia kemudian memutuskan untuk berjualan di sebelah utara Alun-Alun RBA Ki Ronggo, Bondowoso. Karena beberapa alasan, ia kemudian pindah ke tempat lain yang masih di sekitar alun-alun. Ia pindah ke samping Gedung Olahraga (Gelora) Pelita, Bondowoso. “Di dekat SMP 1 (alun-alun sebelah utara, Red), saya sering diusir oleh satpol PP,” katanya

Setelah adanya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) beberapa waktu lalu, ia terpaksa harus memindahkan tempat jualannya ke pertigaan Jalan Diponegoro, Kelurahan Kotakulon, Bondowoso. Hal tersebut karena alun-alun ditutup selama 24 jam, dan akses jalan menuju tempatnya berjualan juga ditutup total.

Pandemi Covid-19 memang berdampak pada para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Terlebih, diterapkannya PPKM kian menambah sulitnya pedagang kecil untuk melanjutkan usahanya. Daya beli masyarakat yang menurun juga menjadi salah satu faktor lesunya roda perekonomian. Di tengah sulitnya kondisi saat ini, hanya orang-orang yang pantang menyerah dan kreatif yang mampu bertahan di tengah badai krisis.

Hal ini ternyata menjadi perhatian Pak Bejo. Ia kemudian membuat kalimat-kalimat nyeleneh di rombongnya. Bahkan, ia juga kerap mengganti dengan kata-kata lain. Tentu dengan memperhatikan situasi dan kondisi di sekitarnya. Bukan kata-kata dan jargon saja yang diganti. Saat pertengahan pandemi kemarin, ia juga mengganti nama rombongnya menjadi “Mi Ayam Anti Corona”.

Kemudian, selang beberapa waktu, ia mengganti nama rombongnya menjadi “Mi Ayam Anti Galau”. Dilengkapi dengan jargon yang berbeda pula. Menurutnya, nama dan tagline itu diberikan agar membuat orang-orang penasaran.

Benar saja, jargon itu membuat sejumlah orang penasaran. Terlebih tulisannya “cukup bayar dengan … senyuman“. Tentu bagi sebagian orang akan membuat mereka bertanya apakah mi ayam ini gratis dan membayar hanya cukup dengan tersenyum atau bagaimana? Tulisan di rombong itu tentu menimbulkan banyak spekulasi. Mulai dari apakah ini diberikan untuk orang tertentu, atau diberikan secara cuma-cuma kepada semua orang, yang penting mau tersenyum.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – “Cukup bayar dengan … senyuman”, tulisan itu terpampang jelas pada sebuah rombong milik penjual mi ayam di Bondowoso. Di atas tulisan dengan huruf kapital itu terdapat kalimat “Mi Ayam Anti Galau”. Hal itu ternyata memang sengaja dilakukan oleh pria yang mengaku namanya Pak Bejo ini. Ia berharap, dengan kreasi tersebut dia bisa menarik rasa penasaran dan rasa ingin membeli setiap orang yang melihatnya.

Ternyata Pak Bejo sudah memulai usahanya lebih dua dekade lalu. Tepatnya sejak 1996 silam. Pada awal merintis usahanya, ia mengaku sempat berjualan keliling dari satu tempat ke tempat lain. Bahkan, ia juga menyusuri gang-gang kecil di perkampungan daerah kota. Hal tersebut dilakukan selama 15 tahun sejak awal merintis usahanya.

Setelah 15 tahun berlalu, ia kemudian memutuskan untuk berjualan di sebelah utara Alun-Alun RBA Ki Ronggo, Bondowoso. Karena beberapa alasan, ia kemudian pindah ke tempat lain yang masih di sekitar alun-alun. Ia pindah ke samping Gedung Olahraga (Gelora) Pelita, Bondowoso. “Di dekat SMP 1 (alun-alun sebelah utara, Red), saya sering diusir oleh satpol PP,” katanya

Setelah adanya pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) beberapa waktu lalu, ia terpaksa harus memindahkan tempat jualannya ke pertigaan Jalan Diponegoro, Kelurahan Kotakulon, Bondowoso. Hal tersebut karena alun-alun ditutup selama 24 jam, dan akses jalan menuju tempatnya berjualan juga ditutup total.

Pandemi Covid-19 memang berdampak pada para pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Terlebih, diterapkannya PPKM kian menambah sulitnya pedagang kecil untuk melanjutkan usahanya. Daya beli masyarakat yang menurun juga menjadi salah satu faktor lesunya roda perekonomian. Di tengah sulitnya kondisi saat ini, hanya orang-orang yang pantang menyerah dan kreatif yang mampu bertahan di tengah badai krisis.

Hal ini ternyata menjadi perhatian Pak Bejo. Ia kemudian membuat kalimat-kalimat nyeleneh di rombongnya. Bahkan, ia juga kerap mengganti dengan kata-kata lain. Tentu dengan memperhatikan situasi dan kondisi di sekitarnya. Bukan kata-kata dan jargon saja yang diganti. Saat pertengahan pandemi kemarin, ia juga mengganti nama rombongnya menjadi “Mi Ayam Anti Corona”.

Kemudian, selang beberapa waktu, ia mengganti nama rombongnya menjadi “Mi Ayam Anti Galau”. Dilengkapi dengan jargon yang berbeda pula. Menurutnya, nama dan tagline itu diberikan agar membuat orang-orang penasaran.

Benar saja, jargon itu membuat sejumlah orang penasaran. Terlebih tulisannya “cukup bayar dengan … senyuman“. Tentu bagi sebagian orang akan membuat mereka bertanya apakah mi ayam ini gratis dan membayar hanya cukup dengan tersenyum atau bagaimana? Tulisan di rombong itu tentu menimbulkan banyak spekulasi. Mulai dari apakah ini diberikan untuk orang tertentu, atau diberikan secara cuma-cuma kepada semua orang, yang penting mau tersenyum.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/