alexametrics
23.9 C
Jember
Thursday, 26 May 2022

Budi Daya ele sampai Lalat Tentara Hitam

Kiprah KH Toha Cetak Santri-Pengusaha Pimpinan Pondok Pesantren Al-Islah, Bondowoso, KH Toha Yusuf Zakariya ternyata tak hanya membekali para santri pandai ilmu agama. Namun, juga melatih para santri ponpes menjadi pengusaha yang tangguh.

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – KH Toha Yusuf Zakariya, atau yang kerap disapa Kiai Toha, sadar bahwa setelah lulus nanti para santri harus bisa survive, bersaing, dan berdaya di bidang ekonomi.

Sebab, bagi dia, berdakwah tidaklah cukup hanya berbekal ilmu agama, tetapi harus disertai dengan kecukupan ekonomi. Terlebih, dia tak ingin santri-santrinya menjadi pribadi yang menggantungkan hidup dengan meminta kepada orang lain.

Tentu pelajaran jadi pengusaha, bagi santri Ponpes Al-Islah bukan hanya teori. Sebab, pesantren terbesar di Bondowoso ini punya beberapa unit usaha yang dikelola langsung oleh para santri. Dia mengajak dan menunjukkan langsung salah satu unit usaha milik pesantren. Yakni peternakan ikan lele yang lokasinya tak jauh dari pesantren.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dirinya mengatakan, pada dasarnya, di samping sebagai lembaga pendidikan, Al-Islah adalah pondok pesantren pelatihan. “Karena pondok pesantren pelatihan, maka di Al-Islah itu ada PSPUP alias Pesantren Singkat Pelatihan Usaha Produktif,” jelasnya.

Melalui PSPUP itu, kata dia, pesantren mencetak para santri entrepreneur. Yakni dengan menciptakan skill baru dan membuat santri punya life skill di segala bidang usaha.

“Di antaranya ada bidang menjahit, urusan peternakan, pertanian, dan bidang perikanan,” paparnya, saat dikonfirmasi di sela-sela mengecek usaha ternak lele.

Di Al-Islah sudah ada beberapa unit usaha. Di antaranya bioflok peternakan ikan lele, cold storage atau gudang pendingin ikan, proses pembangunan sentra kuliner ikan, pertanian, dan peternakan kambing.

Sementara untuk bioflok budi daya ikan lele, awalnya ada 8 kolam, tetapi kini sudah jadi 22 kolam. “Kami targetkan nanti bisa jadi 100 bioflok,” imbuhnya.

Menurut dia, untuk setiap kolam terdapat 4.500 ikan lele dan panen setiap tiga bulan sekali. Itu pun sudah ada off-taker-nya atau pembelinya. Per kolam bisa menghasilkan uang jutaan rupiah. “Harganya per kilogram Rp 16.000,” urainya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – KH Toha Yusuf Zakariya, atau yang kerap disapa Kiai Toha, sadar bahwa setelah lulus nanti para santri harus bisa survive, bersaing, dan berdaya di bidang ekonomi.

Sebab, bagi dia, berdakwah tidaklah cukup hanya berbekal ilmu agama, tetapi harus disertai dengan kecukupan ekonomi. Terlebih, dia tak ingin santri-santrinya menjadi pribadi yang menggantungkan hidup dengan meminta kepada orang lain.

Tentu pelajaran jadi pengusaha, bagi santri Ponpes Al-Islah bukan hanya teori. Sebab, pesantren terbesar di Bondowoso ini punya beberapa unit usaha yang dikelola langsung oleh para santri. Dia mengajak dan menunjukkan langsung salah satu unit usaha milik pesantren. Yakni peternakan ikan lele yang lokasinya tak jauh dari pesantren.

Dirinya mengatakan, pada dasarnya, di samping sebagai lembaga pendidikan, Al-Islah adalah pondok pesantren pelatihan. “Karena pondok pesantren pelatihan, maka di Al-Islah itu ada PSPUP alias Pesantren Singkat Pelatihan Usaha Produktif,” jelasnya.

Melalui PSPUP itu, kata dia, pesantren mencetak para santri entrepreneur. Yakni dengan menciptakan skill baru dan membuat santri punya life skill di segala bidang usaha.

“Di antaranya ada bidang menjahit, urusan peternakan, pertanian, dan bidang perikanan,” paparnya, saat dikonfirmasi di sela-sela mengecek usaha ternak lele.

Di Al-Islah sudah ada beberapa unit usaha. Di antaranya bioflok peternakan ikan lele, cold storage atau gudang pendingin ikan, proses pembangunan sentra kuliner ikan, pertanian, dan peternakan kambing.

Sementara untuk bioflok budi daya ikan lele, awalnya ada 8 kolam, tetapi kini sudah jadi 22 kolam. “Kami targetkan nanti bisa jadi 100 bioflok,” imbuhnya.

Menurut dia, untuk setiap kolam terdapat 4.500 ikan lele dan panen setiap tiga bulan sekali. Itu pun sudah ada off-taker-nya atau pembelinya. Per kolam bisa menghasilkan uang jutaan rupiah. “Harganya per kilogram Rp 16.000,” urainya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – KH Toha Yusuf Zakariya, atau yang kerap disapa Kiai Toha, sadar bahwa setelah lulus nanti para santri harus bisa survive, bersaing, dan berdaya di bidang ekonomi.

Sebab, bagi dia, berdakwah tidaklah cukup hanya berbekal ilmu agama, tetapi harus disertai dengan kecukupan ekonomi. Terlebih, dia tak ingin santri-santrinya menjadi pribadi yang menggantungkan hidup dengan meminta kepada orang lain.

Tentu pelajaran jadi pengusaha, bagi santri Ponpes Al-Islah bukan hanya teori. Sebab, pesantren terbesar di Bondowoso ini punya beberapa unit usaha yang dikelola langsung oleh para santri. Dia mengajak dan menunjukkan langsung salah satu unit usaha milik pesantren. Yakni peternakan ikan lele yang lokasinya tak jauh dari pesantren.

Dirinya mengatakan, pada dasarnya, di samping sebagai lembaga pendidikan, Al-Islah adalah pondok pesantren pelatihan. “Karena pondok pesantren pelatihan, maka di Al-Islah itu ada PSPUP alias Pesantren Singkat Pelatihan Usaha Produktif,” jelasnya.

Melalui PSPUP itu, kata dia, pesantren mencetak para santri entrepreneur. Yakni dengan menciptakan skill baru dan membuat santri punya life skill di segala bidang usaha.

“Di antaranya ada bidang menjahit, urusan peternakan, pertanian, dan bidang perikanan,” paparnya, saat dikonfirmasi di sela-sela mengecek usaha ternak lele.

Di Al-Islah sudah ada beberapa unit usaha. Di antaranya bioflok peternakan ikan lele, cold storage atau gudang pendingin ikan, proses pembangunan sentra kuliner ikan, pertanian, dan peternakan kambing.

Sementara untuk bioflok budi daya ikan lele, awalnya ada 8 kolam, tetapi kini sudah jadi 22 kolam. “Kami targetkan nanti bisa jadi 100 bioflok,” imbuhnya.

Menurut dia, untuk setiap kolam terdapat 4.500 ikan lele dan panen setiap tiga bulan sekali. Itu pun sudah ada off-taker-nya atau pembelinya. Per kolam bisa menghasilkan uang jutaan rupiah. “Harganya per kilogram Rp 16.000,” urainya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/