alexametrics
27.8 C
Jember
Tuesday, 24 May 2022

Pandemi, 225 Pasangan Nikah Dini

Sepanjang Januari-Maret 2021

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Angka pernikahan anak atau pernikahan dini yang terjadi di Kabupaten Bondowoso masih tergolong cukup tinggi. Bahkan, ketika tahun 2021 masih menjadi tahun pandemi Covid-19, kasus pernikahan dini masih tinggi. Hal itu berdasarkan data pengajuan dispensasi perkawinan di Pengadilan Agama (PA) Bondowoso. Selama Januari sampai Maret 2021, total ada 225 pasangan nikah usia dini yang mengajukan dispensasi perkawinan.

Data yang diterima Jawa Pos Radar Ijen, pada Januari ada 52 pasangan yang mengajukan dispensasi perkawinan. Berikutnya, Februari 67 pasangan dan Maret 106 pasangan. Data ini menunjukkan adanya kenaikan setiap bulannya.

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DPPKB) Bondowoso membenarkan adanya potensi pernikahan dini di Bondowoso yang cukup tinggi. Persentasenya dari pernikahan normal, mencapai 30 persen. Namun, angka tersebut masih terus diupayakan untuk ditekan jumlahnya melalui pihak-pihak terkait.

Mobile_AP_Rectangle 2

Kepala Dinas DPPKB dr Agus Suwardjito menjelaskan, yang disebut dengan pernikahan anak atau pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan oleh anak yang masih berusia 18 tahun ke bawah. “Berdasarkan anjuran dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pernikahan yang dianjurkan dan ideal adalah usia perempuan minimal 21 tahun dan pria 25 tahun,” jelasnya.

Sementara, berdasarkan UU Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, batas usia perkawinan pria dan wanita berusia minimal 19 tahun.

Dijelaskan, ditinjau dari berbagai sudut pandang, pernikahan dini memang merugikan. Termasuk kesiapan organ reproduksi dari wanita belum siap saat belum berusia 19 tahun. Ketika hal ini dipaksakan, maka akan menimbulkan kejadian yang tidak diinginkan. “Kalau dipaksakan nanti sebelum usia 19 tahun, itu yang terjadi termasuk stunting, angka kematian ibu dan bayi akan muncul di sana,” tegasnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Angka pernikahan anak atau pernikahan dini yang terjadi di Kabupaten Bondowoso masih tergolong cukup tinggi. Bahkan, ketika tahun 2021 masih menjadi tahun pandemi Covid-19, kasus pernikahan dini masih tinggi. Hal itu berdasarkan data pengajuan dispensasi perkawinan di Pengadilan Agama (PA) Bondowoso. Selama Januari sampai Maret 2021, total ada 225 pasangan nikah usia dini yang mengajukan dispensasi perkawinan.

Data yang diterima Jawa Pos Radar Ijen, pada Januari ada 52 pasangan yang mengajukan dispensasi perkawinan. Berikutnya, Februari 67 pasangan dan Maret 106 pasangan. Data ini menunjukkan adanya kenaikan setiap bulannya.

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DPPKB) Bondowoso membenarkan adanya potensi pernikahan dini di Bondowoso yang cukup tinggi. Persentasenya dari pernikahan normal, mencapai 30 persen. Namun, angka tersebut masih terus diupayakan untuk ditekan jumlahnya melalui pihak-pihak terkait.

Kepala Dinas DPPKB dr Agus Suwardjito menjelaskan, yang disebut dengan pernikahan anak atau pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan oleh anak yang masih berusia 18 tahun ke bawah. “Berdasarkan anjuran dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pernikahan yang dianjurkan dan ideal adalah usia perempuan minimal 21 tahun dan pria 25 tahun,” jelasnya.

Sementara, berdasarkan UU Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, batas usia perkawinan pria dan wanita berusia minimal 19 tahun.

Dijelaskan, ditinjau dari berbagai sudut pandang, pernikahan dini memang merugikan. Termasuk kesiapan organ reproduksi dari wanita belum siap saat belum berusia 19 tahun. Ketika hal ini dipaksakan, maka akan menimbulkan kejadian yang tidak diinginkan. “Kalau dipaksakan nanti sebelum usia 19 tahun, itu yang terjadi termasuk stunting, angka kematian ibu dan bayi akan muncul di sana,” tegasnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Angka pernikahan anak atau pernikahan dini yang terjadi di Kabupaten Bondowoso masih tergolong cukup tinggi. Bahkan, ketika tahun 2021 masih menjadi tahun pandemi Covid-19, kasus pernikahan dini masih tinggi. Hal itu berdasarkan data pengajuan dispensasi perkawinan di Pengadilan Agama (PA) Bondowoso. Selama Januari sampai Maret 2021, total ada 225 pasangan nikah usia dini yang mengajukan dispensasi perkawinan.

Data yang diterima Jawa Pos Radar Ijen, pada Januari ada 52 pasangan yang mengajukan dispensasi perkawinan. Berikutnya, Februari 67 pasangan dan Maret 106 pasangan. Data ini menunjukkan adanya kenaikan setiap bulannya.

Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DPPKB) Bondowoso membenarkan adanya potensi pernikahan dini di Bondowoso yang cukup tinggi. Persentasenya dari pernikahan normal, mencapai 30 persen. Namun, angka tersebut masih terus diupayakan untuk ditekan jumlahnya melalui pihak-pihak terkait.

Kepala Dinas DPPKB dr Agus Suwardjito menjelaskan, yang disebut dengan pernikahan anak atau pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan oleh anak yang masih berusia 18 tahun ke bawah. “Berdasarkan anjuran dari Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pernikahan yang dianjurkan dan ideal adalah usia perempuan minimal 21 tahun dan pria 25 tahun,” jelasnya.

Sementara, berdasarkan UU Nomor 16 Tahun 2019 tentang Perubahan UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, batas usia perkawinan pria dan wanita berusia minimal 19 tahun.

Dijelaskan, ditinjau dari berbagai sudut pandang, pernikahan dini memang merugikan. Termasuk kesiapan organ reproduksi dari wanita belum siap saat belum berusia 19 tahun. Ketika hal ini dipaksakan, maka akan menimbulkan kejadian yang tidak diinginkan. “Kalau dipaksakan nanti sebelum usia 19 tahun, itu yang terjadi termasuk stunting, angka kematian ibu dan bayi akan muncul di sana,” tegasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/