alexametrics
30.1 C
Jember
Friday, 27 May 2022

Rawat Buah Kopi, Bersihkan dari Gulma

Bulan April Panen Awal Kopi

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Bondowoso masih terkenal dengan komoditas kopinya. Kopi arabika masih menjadi magnet tersendiri. Ribuan hektare lahan kebun kopi tersebar luas di Bondowoso.

Kebanyakan kebun kopi itu berada di dataran tinggi. Seperti di Kecamatan Ijen, Sumberwringin, dan Sukosari. Kini, perawatan kebun kopi pun masih dalam tahap menjaga tanamannya agar tetap bagus buahnya. Sebab, bulan Maret ini buah kopi masih berwarna hijau. Belum waktunya untuk panen.

“Panen dimulai pada bulan April dan akan mencapai puncaknya pada sekitar Agustus atau September,” ujar Suyitno, salah seorang petani kopi di Kecamatan Sukosari.

Mobile_AP_Rectangle 2

Buah kopi siap panen berwarna merah. Ketika puncak panen, ribuan hektare lahan kebun yang dia kelola bisa mempekerjakan puluhan pekerja. “Kalau puncak panen, bisa sekitar delapan hari untuk memetik buah kopi dari batangnya,” imbuh pria yang akrab disapa Pak Yit ini.

Dia menambahkan, pengelolaan kebun kopi sekarang ini adalah olah tanah dan memperhatikan pemupukan. “Juga perlakuan khususnya pembersihan dari gulma,” ungkap dia.

Lebih jauh, Suyitno mengaku bahwa kebun kopi ini tak hanya semata-mata untuk meraup keuntungan. Tujuan menanam kopi bagi dirinya, yakni memfungsikan hutan sebagai hutan konservasi, dengan ditanami kopi.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Bondowoso masih terkenal dengan komoditas kopinya. Kopi arabika masih menjadi magnet tersendiri. Ribuan hektare lahan kebun kopi tersebar luas di Bondowoso.

Kebanyakan kebun kopi itu berada di dataran tinggi. Seperti di Kecamatan Ijen, Sumberwringin, dan Sukosari. Kini, perawatan kebun kopi pun masih dalam tahap menjaga tanamannya agar tetap bagus buahnya. Sebab, bulan Maret ini buah kopi masih berwarna hijau. Belum waktunya untuk panen.

“Panen dimulai pada bulan April dan akan mencapai puncaknya pada sekitar Agustus atau September,” ujar Suyitno, salah seorang petani kopi di Kecamatan Sukosari.

Buah kopi siap panen berwarna merah. Ketika puncak panen, ribuan hektare lahan kebun yang dia kelola bisa mempekerjakan puluhan pekerja. “Kalau puncak panen, bisa sekitar delapan hari untuk memetik buah kopi dari batangnya,” imbuh pria yang akrab disapa Pak Yit ini.

Dia menambahkan, pengelolaan kebun kopi sekarang ini adalah olah tanah dan memperhatikan pemupukan. “Juga perlakuan khususnya pembersihan dari gulma,” ungkap dia.

Lebih jauh, Suyitno mengaku bahwa kebun kopi ini tak hanya semata-mata untuk meraup keuntungan. Tujuan menanam kopi bagi dirinya, yakni memfungsikan hutan sebagai hutan konservasi, dengan ditanami kopi.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Bondowoso masih terkenal dengan komoditas kopinya. Kopi arabika masih menjadi magnet tersendiri. Ribuan hektare lahan kebun kopi tersebar luas di Bondowoso.

Kebanyakan kebun kopi itu berada di dataran tinggi. Seperti di Kecamatan Ijen, Sumberwringin, dan Sukosari. Kini, perawatan kebun kopi pun masih dalam tahap menjaga tanamannya agar tetap bagus buahnya. Sebab, bulan Maret ini buah kopi masih berwarna hijau. Belum waktunya untuk panen.

“Panen dimulai pada bulan April dan akan mencapai puncaknya pada sekitar Agustus atau September,” ujar Suyitno, salah seorang petani kopi di Kecamatan Sukosari.

Buah kopi siap panen berwarna merah. Ketika puncak panen, ribuan hektare lahan kebun yang dia kelola bisa mempekerjakan puluhan pekerja. “Kalau puncak panen, bisa sekitar delapan hari untuk memetik buah kopi dari batangnya,” imbuh pria yang akrab disapa Pak Yit ini.

Dia menambahkan, pengelolaan kebun kopi sekarang ini adalah olah tanah dan memperhatikan pemupukan. “Juga perlakuan khususnya pembersihan dari gulma,” ungkap dia.

Lebih jauh, Suyitno mengaku bahwa kebun kopi ini tak hanya semata-mata untuk meraup keuntungan. Tujuan menanam kopi bagi dirinya, yakni memfungsikan hutan sebagai hutan konservasi, dengan ditanami kopi.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/