alexametrics
23.4 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Alih Fungsi Lahan Pertanian Masih Sangat Minim

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Alih fungsi lahan pertanian di Bondowoso terbilang sangat minim. Data dari Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso menunjukkan, Bondowoso mengalami konversi lahan paling tinggi tahun 2017 silam, yakni sebanyak 32,66 hektare. Terdiri atas 17,9 hektare lahan sawah (irigasi teknis) dan 14,74 hektare lahan kering (nonirigasi). Sementara, konversi lahan yang paling sedikit yakni pada tahun 2019 sebanyak 11,41 hektare. Terdiri atas 3,39 hektare lahan sawah irigasi teknis dan 8,03 hektare lahan kering nonirigasi.

Hal tersebut dikonfirmasi oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso Hendri Widotono kepada Jawa Pos Radar Ijen. “Kategorinya masih kecil. Bahkan terbilang sangat kecil persentasenya,” beber Hendri.

Lebih lanjut, menurut Hendri, dalam Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) Bondowoso sudah dijelaskan bahwa lahan pertanian berkelanjutan tersebut sudah dipetakan. “Artinya, lahan mana yang tidak boleh untuk kawasan industri dan mana lahan yang memang paten untuk pertanian. Kawasannya sudah jelas,” urainya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Apabila seseorang ingin mengambil lahan tersebut, maka wajib mengganti enam kali lipat dengan lahan lainnya. “Hal itu sudah jelas dilindungi oleh undang-undang dan dikuatkan lagi oleh peraturan daerah,” imbuh Hendri.

Bahkan, lahan khusus untuk pertanian, si pemilik lahan pun tak boleh membangun gedung rumah atau bangunan lainnya. “Kalau mau dijual ke orang atau pihak lain, ya, dalam bentuk lahan,” lanjutnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Alih fungsi lahan pertanian di Bondowoso terbilang sangat minim. Data dari Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso menunjukkan, Bondowoso mengalami konversi lahan paling tinggi tahun 2017 silam, yakni sebanyak 32,66 hektare. Terdiri atas 17,9 hektare lahan sawah (irigasi teknis) dan 14,74 hektare lahan kering (nonirigasi). Sementara, konversi lahan yang paling sedikit yakni pada tahun 2019 sebanyak 11,41 hektare. Terdiri atas 3,39 hektare lahan sawah irigasi teknis dan 8,03 hektare lahan kering nonirigasi.

Hal tersebut dikonfirmasi oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso Hendri Widotono kepada Jawa Pos Radar Ijen. “Kategorinya masih kecil. Bahkan terbilang sangat kecil persentasenya,” beber Hendri.

Lebih lanjut, menurut Hendri, dalam Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) Bondowoso sudah dijelaskan bahwa lahan pertanian berkelanjutan tersebut sudah dipetakan. “Artinya, lahan mana yang tidak boleh untuk kawasan industri dan mana lahan yang memang paten untuk pertanian. Kawasannya sudah jelas,” urainya.

Apabila seseorang ingin mengambil lahan tersebut, maka wajib mengganti enam kali lipat dengan lahan lainnya. “Hal itu sudah jelas dilindungi oleh undang-undang dan dikuatkan lagi oleh peraturan daerah,” imbuh Hendri.

Bahkan, lahan khusus untuk pertanian, si pemilik lahan pun tak boleh membangun gedung rumah atau bangunan lainnya. “Kalau mau dijual ke orang atau pihak lain, ya, dalam bentuk lahan,” lanjutnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Alih fungsi lahan pertanian di Bondowoso terbilang sangat minim. Data dari Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso menunjukkan, Bondowoso mengalami konversi lahan paling tinggi tahun 2017 silam, yakni sebanyak 32,66 hektare. Terdiri atas 17,9 hektare lahan sawah (irigasi teknis) dan 14,74 hektare lahan kering (nonirigasi). Sementara, konversi lahan yang paling sedikit yakni pada tahun 2019 sebanyak 11,41 hektare. Terdiri atas 3,39 hektare lahan sawah irigasi teknis dan 8,03 hektare lahan kering nonirigasi.

Hal tersebut dikonfirmasi oleh Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bondowoso Hendri Widotono kepada Jawa Pos Radar Ijen. “Kategorinya masih kecil. Bahkan terbilang sangat kecil persentasenya,” beber Hendri.

Lebih lanjut, menurut Hendri, dalam Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) Bondowoso sudah dijelaskan bahwa lahan pertanian berkelanjutan tersebut sudah dipetakan. “Artinya, lahan mana yang tidak boleh untuk kawasan industri dan mana lahan yang memang paten untuk pertanian. Kawasannya sudah jelas,” urainya.

Apabila seseorang ingin mengambil lahan tersebut, maka wajib mengganti enam kali lipat dengan lahan lainnya. “Hal itu sudah jelas dilindungi oleh undang-undang dan dikuatkan lagi oleh peraturan daerah,” imbuh Hendri.

Bahkan, lahan khusus untuk pertanian, si pemilik lahan pun tak boleh membangun gedung rumah atau bangunan lainnya. “Kalau mau dijual ke orang atau pihak lain, ya, dalam bentuk lahan,” lanjutnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/