alexametrics
32 C
Jember
Saturday, 28 May 2022

Wisata Mulai Dibuka, Hotel di Bondowoso Masih Sepi Pengunjung

Kenaikan Okupansi Belum Signifikan

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Meski sejumlah kawasan wisata di Bondowoso mulai dibuka, namun okupansi atau tingkat hunian kamar (THK) hotel berbintang di Bondowoso pada awal Oktober ini masih rendah. Masih pada angka 10 persen akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan.

Kini status PPKM Bondowoso masih berada di level 3. Meskipun kasus positif Covid-19 di Bondowoso sudah landai, tetapi capaian vaksinasi di Kota Tape masih rendah. Bahkan berada dalam lima terbawah capaian vaksinasi terendah di Jawa Timur.

Suntoko, manajer pemasaran salah satu hotel berbintang di Bondowoso, mengakui jika peningkatan okupansi hunian hotel belum signifikan. “Dari 62 kamar yang tersedia di hotel kami, dalam sehari hanya mencapai lima sampai sepuluh kamar saja,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Ijen.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selama penerapan PPKM di Bondowoso, lanjut dia, dampaknya sangat dirasakan oleh pengusaha hotel. Menurut dia, walaupun kini wisata sudah dibuka ataupun status Bondowoso pernah berada di PPKM level 1, tetapi belum mendongkrak minat wisatawan domestik atau wisatawan mancanegara untuk kembali ke Kota Tape. “Okupansi di hotel kami belum stabil. Sekarang ini kami perkirakan kenaikannya masih di angka 10 persen saja,” lanjutnya.

Sebelum Juni lalu, kata Suntoko, beberapa kegiatan yang menggunakan aula hotel atau ballroom masih diperbolehkan dengan kapasitas 50 persen. “Kalau sekarang juga bisa, tetapi maksimal hanya 40 orang untuk ruangan meeting selama tiga jam. Kolam renang kami juga tetap buka. Tapi, bukan untuk rekreasi keluarga, melainkan hanya untuk atlet renang saja,” jelas dia.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Meski sejumlah kawasan wisata di Bondowoso mulai dibuka, namun okupansi atau tingkat hunian kamar (THK) hotel berbintang di Bondowoso pada awal Oktober ini masih rendah. Masih pada angka 10 persen akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan.

Kini status PPKM Bondowoso masih berada di level 3. Meskipun kasus positif Covid-19 di Bondowoso sudah landai, tetapi capaian vaksinasi di Kota Tape masih rendah. Bahkan berada dalam lima terbawah capaian vaksinasi terendah di Jawa Timur.

Suntoko, manajer pemasaran salah satu hotel berbintang di Bondowoso, mengakui jika peningkatan okupansi hunian hotel belum signifikan. “Dari 62 kamar yang tersedia di hotel kami, dalam sehari hanya mencapai lima sampai sepuluh kamar saja,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Ijen.

Selama penerapan PPKM di Bondowoso, lanjut dia, dampaknya sangat dirasakan oleh pengusaha hotel. Menurut dia, walaupun kini wisata sudah dibuka ataupun status Bondowoso pernah berada di PPKM level 1, tetapi belum mendongkrak minat wisatawan domestik atau wisatawan mancanegara untuk kembali ke Kota Tape. “Okupansi di hotel kami belum stabil. Sekarang ini kami perkirakan kenaikannya masih di angka 10 persen saja,” lanjutnya.

Sebelum Juni lalu, kata Suntoko, beberapa kegiatan yang menggunakan aula hotel atau ballroom masih diperbolehkan dengan kapasitas 50 persen. “Kalau sekarang juga bisa, tetapi maksimal hanya 40 orang untuk ruangan meeting selama tiga jam. Kolam renang kami juga tetap buka. Tapi, bukan untuk rekreasi keluarga, melainkan hanya untuk atlet renang saja,” jelas dia.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Meski sejumlah kawasan wisata di Bondowoso mulai dibuka, namun okupansi atau tingkat hunian kamar (THK) hotel berbintang di Bondowoso pada awal Oktober ini masih rendah. Masih pada angka 10 persen akibat pandemi Covid-19 yang berkepanjangan.

Kini status PPKM Bondowoso masih berada di level 3. Meskipun kasus positif Covid-19 di Bondowoso sudah landai, tetapi capaian vaksinasi di Kota Tape masih rendah. Bahkan berada dalam lima terbawah capaian vaksinasi terendah di Jawa Timur.

Suntoko, manajer pemasaran salah satu hotel berbintang di Bondowoso, mengakui jika peningkatan okupansi hunian hotel belum signifikan. “Dari 62 kamar yang tersedia di hotel kami, dalam sehari hanya mencapai lima sampai sepuluh kamar saja,” ujarnya kepada Jawa Pos Radar Ijen.

Selama penerapan PPKM di Bondowoso, lanjut dia, dampaknya sangat dirasakan oleh pengusaha hotel. Menurut dia, walaupun kini wisata sudah dibuka ataupun status Bondowoso pernah berada di PPKM level 1, tetapi belum mendongkrak minat wisatawan domestik atau wisatawan mancanegara untuk kembali ke Kota Tape. “Okupansi di hotel kami belum stabil. Sekarang ini kami perkirakan kenaikannya masih di angka 10 persen saja,” lanjutnya.

Sebelum Juni lalu, kata Suntoko, beberapa kegiatan yang menggunakan aula hotel atau ballroom masih diperbolehkan dengan kapasitas 50 persen. “Kalau sekarang juga bisa, tetapi maksimal hanya 40 orang untuk ruangan meeting selama tiga jam. Kolam renang kami juga tetap buka. Tapi, bukan untuk rekreasi keluarga, melainkan hanya untuk atlet renang saja,” jelas dia.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/