alexametrics
27.8 C
Jember
Sunday, 26 June 2022

Temukan 13 Jenis Kuburan Megalitikum di Bondowoso

Belasan Sarkofagus Ternyata Berbahan Batuan Lokal

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kabupaten Bondowoso memang kaya akan peninggalan benda megalitikum. Benda-benda tersebut tersebar hampir di seluruh wilayah, dari ujung barat hingga ujung timur. Salah satu benda peninggalan itu berbentuk kuburan batu atau sarkofagus.

Ternyata, di Kabupaten Bondowoso ada kurang lebih 13 jenis dan bentuk kuburan megalitikum. Dari sejumlah kuburan itu, semuanya menggunakan bahan-bahan lokal. Seperti batuan andesit dan batuan sedimen yang lokasinya tidak jauh dari lokasi ditemukannya kuburan tersebut.

Kepala Seksi Sejarah dan Purbakala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Bondowoso Hery Kusdarijanto  menyampaikan, benda-benda megalitikum itu sudah dilakukan penelitian sejak zaman terdahulu oleh para peneliti yang ahli di bidangnya. Baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

Mobile_AP_Rectangle 2

“Kabupaten Bondowoso memang kaya akan ragam peninggalan megalitikum, serta tradisi megalitikum. Bisa dilihat dari buku sejarah yang membahas sejarah megalitikum,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai Tim Cagar Budaya Kabupaten Bondowoso ini, kemarin (6/8).

Menurutnya, saat ini pihaknya sudah menemukan 13 kuburan megalitikum yang tersebar di berbagai kecamatan. Bahan dasar pembuatannya di antaranya batu andesit yang berasal dari lava gunung berapi yang meletus. Kemudian, terbentuk atau membeku ketika temperatur lava yang meleleh turun antara 900 hingga 1100 derajat Celsius. “Sehingga mempunyai tingkat kekerasan cukup tinggi. Umumnya berwarna gelap atau hitam,” terangnya.

Menurut para ahli, orang terdahulu mengambil batuan tersebut tidak jauh dari lokasi penemuan kuburan. Paling jauh jaraknya satu kilometer. Kemudian, bahan kedua adalah batuan sedimen. Bahan tersebut merupakan sedimen klasik yang tersusun atas fragmen bersudut besar. Di mana ruang antarfragmennya dapat diisi dengan partikel yang lebih kecil, atau semen berupa mineral yang mengikat batuan secara bersama-sama.

Batuan tersebut ada dua jenis. Ada sedimen dengan permukaannya halus, kemudian ada sedimen dengan benjolan kecil-kecil. Masyarakat lokal biasanya menyebut ada batu gambirnya. Batu itu tidak terlalu kuat. Kemudian, ada juga bahan batu kubur megalitikum terbuat dari batuan andesit yang terkena kekar lembaran. Masyarakat lokal biasanya menyebut batu itu dengan sebutan batu piring.

Disebutkan, kubur megalitikum yang ditemukan oleh pihaknya di Bondowoso, di antaranya sarkofagus atau tempat menyimpan jenazah yang dilengkapi dengan tutup, wadah, dan pintu. Jenazahnya diletakkan di dalam batu tersebut. Kerangka yang ditemukan biasanya akan lebih dari satu. Sarkofagus jenis ini tersebar di wilayah kota, Kecamatan Grujugan, dan Curahdami.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kabupaten Bondowoso memang kaya akan peninggalan benda megalitikum. Benda-benda tersebut tersebar hampir di seluruh wilayah, dari ujung barat hingga ujung timur. Salah satu benda peninggalan itu berbentuk kuburan batu atau sarkofagus.

Ternyata, di Kabupaten Bondowoso ada kurang lebih 13 jenis dan bentuk kuburan megalitikum. Dari sejumlah kuburan itu, semuanya menggunakan bahan-bahan lokal. Seperti batuan andesit dan batuan sedimen yang lokasinya tidak jauh dari lokasi ditemukannya kuburan tersebut.

Kepala Seksi Sejarah dan Purbakala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Bondowoso Hery Kusdarijanto  menyampaikan, benda-benda megalitikum itu sudah dilakukan penelitian sejak zaman terdahulu oleh para peneliti yang ahli di bidangnya. Baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

“Kabupaten Bondowoso memang kaya akan ragam peninggalan megalitikum, serta tradisi megalitikum. Bisa dilihat dari buku sejarah yang membahas sejarah megalitikum,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai Tim Cagar Budaya Kabupaten Bondowoso ini, kemarin (6/8).

Menurutnya, saat ini pihaknya sudah menemukan 13 kuburan megalitikum yang tersebar di berbagai kecamatan. Bahan dasar pembuatannya di antaranya batu andesit yang berasal dari lava gunung berapi yang meletus. Kemudian, terbentuk atau membeku ketika temperatur lava yang meleleh turun antara 900 hingga 1100 derajat Celsius. “Sehingga mempunyai tingkat kekerasan cukup tinggi. Umumnya berwarna gelap atau hitam,” terangnya.

Menurut para ahli, orang terdahulu mengambil batuan tersebut tidak jauh dari lokasi penemuan kuburan. Paling jauh jaraknya satu kilometer. Kemudian, bahan kedua adalah batuan sedimen. Bahan tersebut merupakan sedimen klasik yang tersusun atas fragmen bersudut besar. Di mana ruang antarfragmennya dapat diisi dengan partikel yang lebih kecil, atau semen berupa mineral yang mengikat batuan secara bersama-sama.

Batuan tersebut ada dua jenis. Ada sedimen dengan permukaannya halus, kemudian ada sedimen dengan benjolan kecil-kecil. Masyarakat lokal biasanya menyebut ada batu gambirnya. Batu itu tidak terlalu kuat. Kemudian, ada juga bahan batu kubur megalitikum terbuat dari batuan andesit yang terkena kekar lembaran. Masyarakat lokal biasanya menyebut batu itu dengan sebutan batu piring.

Disebutkan, kubur megalitikum yang ditemukan oleh pihaknya di Bondowoso, di antaranya sarkofagus atau tempat menyimpan jenazah yang dilengkapi dengan tutup, wadah, dan pintu. Jenazahnya diletakkan di dalam batu tersebut. Kerangka yang ditemukan biasanya akan lebih dari satu. Sarkofagus jenis ini tersebar di wilayah kota, Kecamatan Grujugan, dan Curahdami.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kabupaten Bondowoso memang kaya akan peninggalan benda megalitikum. Benda-benda tersebut tersebar hampir di seluruh wilayah, dari ujung barat hingga ujung timur. Salah satu benda peninggalan itu berbentuk kuburan batu atau sarkofagus.

Ternyata, di Kabupaten Bondowoso ada kurang lebih 13 jenis dan bentuk kuburan megalitikum. Dari sejumlah kuburan itu, semuanya menggunakan bahan-bahan lokal. Seperti batuan andesit dan batuan sedimen yang lokasinya tidak jauh dari lokasi ditemukannya kuburan tersebut.

Kepala Seksi Sejarah dan Purbakala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Bondowoso Hery Kusdarijanto  menyampaikan, benda-benda megalitikum itu sudah dilakukan penelitian sejak zaman terdahulu oleh para peneliti yang ahli di bidangnya. Baik dari dalam negeri maupun luar negeri.

“Kabupaten Bondowoso memang kaya akan ragam peninggalan megalitikum, serta tradisi megalitikum. Bisa dilihat dari buku sejarah yang membahas sejarah megalitikum,” ungkap pria yang juga menjabat sebagai Tim Cagar Budaya Kabupaten Bondowoso ini, kemarin (6/8).

Menurutnya, saat ini pihaknya sudah menemukan 13 kuburan megalitikum yang tersebar di berbagai kecamatan. Bahan dasar pembuatannya di antaranya batu andesit yang berasal dari lava gunung berapi yang meletus. Kemudian, terbentuk atau membeku ketika temperatur lava yang meleleh turun antara 900 hingga 1100 derajat Celsius. “Sehingga mempunyai tingkat kekerasan cukup tinggi. Umumnya berwarna gelap atau hitam,” terangnya.

Menurut para ahli, orang terdahulu mengambil batuan tersebut tidak jauh dari lokasi penemuan kuburan. Paling jauh jaraknya satu kilometer. Kemudian, bahan kedua adalah batuan sedimen. Bahan tersebut merupakan sedimen klasik yang tersusun atas fragmen bersudut besar. Di mana ruang antarfragmennya dapat diisi dengan partikel yang lebih kecil, atau semen berupa mineral yang mengikat batuan secara bersama-sama.

Batuan tersebut ada dua jenis. Ada sedimen dengan permukaannya halus, kemudian ada sedimen dengan benjolan kecil-kecil. Masyarakat lokal biasanya menyebut ada batu gambirnya. Batu itu tidak terlalu kuat. Kemudian, ada juga bahan batu kubur megalitikum terbuat dari batuan andesit yang terkena kekar lembaran. Masyarakat lokal biasanya menyebut batu itu dengan sebutan batu piring.

Disebutkan, kubur megalitikum yang ditemukan oleh pihaknya di Bondowoso, di antaranya sarkofagus atau tempat menyimpan jenazah yang dilengkapi dengan tutup, wadah, dan pintu. Jenazahnya diletakkan di dalam batu tersebut. Kerangka yang ditemukan biasanya akan lebih dari satu. Sarkofagus jenis ini tersebar di wilayah kota, Kecamatan Grujugan, dan Curahdami.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/