alexametrics
24.9 C
Jember
Saturday, 2 July 2022

Dua Kali Agustusan, Penjual Bendera Sepi Pembeli

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Biasanya, Agustus menjadi bulan yang penuh berkah bagi para penjual bendera. Baik yang ada di pinggir jalan maupun di pertokoan. Namun ternyata, sejak adanya pandemi Covid-19, sudah dua kali peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia para penjual bendera tak merasakan keuntungan dari barang dagangannya. Sebab, pembeli cukup sepi.

Hari, 35, salah seorang penjual bendera yang berada di pinggir Jalan A Yani, Kelurahan Nangkaan, Bondowoso, mengakui, ia sudah berjualan dari akhir Juli. Rencananya akan menutup lapak akhir Agustus nanti. Namun, sejak buka hingga sekarang, dia mengaku masih sepi pembeli. Padahal, kata dia, biasanya paling banyak laku saat pekan pertama Agustus. Kondisi semacam ini diakuinya sudah dua kali, sejak peringatan Hari Kemerdekaan tahun lalu.

“Sudah dua tahun saat agustusan sepi pembeli. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sekarang pembeli bisa berkurang hingga 70 persen,” ujarnya saat ditemui di lapak jualannya, kemarin (8/8).

Mobile_AP_Rectangle 2

Hari juga menjelaskan, dirinya sangat merasakan betul dampak pandemi Covid-19. Salah satunya penurunan omzet. Apalagi setelah penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level empat di Bondowoso. Hal itu berakibat barang dagangannya sedikit yang laku. Jika sebelum pandemi ia biasanya menjual 15 kodi bendera bahkan lebih, untuk saat ini baru bisa menjual tiga kodi saja.

Banyaknya penjualan sebelumnya itu didapatkan dari pesanan warga sekitar. Sebab, biasanya pada bulan Agustus banyak orang mengikuti pawai atau karnaval dengan menggunakan atribut bendera merah putih. Namun, di tengah pandemi ini, semua kegiatan itu dilarang oleh pemerintah, karena dapat menimbulkan kerumunan.

Di sepanjang jalan itu, selain Hari, juga banyak pedagang bendera musiman yang menggelar lapaknya di pinggir jalan. Biasanya, selain menjual bendera, mereka juga menjual umbul-umbul. Ada yang berwarna merah putih polos, serta ada yang bergambar.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Biasanya, Agustus menjadi bulan yang penuh berkah bagi para penjual bendera. Baik yang ada di pinggir jalan maupun di pertokoan. Namun ternyata, sejak adanya pandemi Covid-19, sudah dua kali peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia para penjual bendera tak merasakan keuntungan dari barang dagangannya. Sebab, pembeli cukup sepi.

Hari, 35, salah seorang penjual bendera yang berada di pinggir Jalan A Yani, Kelurahan Nangkaan, Bondowoso, mengakui, ia sudah berjualan dari akhir Juli. Rencananya akan menutup lapak akhir Agustus nanti. Namun, sejak buka hingga sekarang, dia mengaku masih sepi pembeli. Padahal, kata dia, biasanya paling banyak laku saat pekan pertama Agustus. Kondisi semacam ini diakuinya sudah dua kali, sejak peringatan Hari Kemerdekaan tahun lalu.

“Sudah dua tahun saat agustusan sepi pembeli. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sekarang pembeli bisa berkurang hingga 70 persen,” ujarnya saat ditemui di lapak jualannya, kemarin (8/8).

Hari juga menjelaskan, dirinya sangat merasakan betul dampak pandemi Covid-19. Salah satunya penurunan omzet. Apalagi setelah penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level empat di Bondowoso. Hal itu berakibat barang dagangannya sedikit yang laku. Jika sebelum pandemi ia biasanya menjual 15 kodi bendera bahkan lebih, untuk saat ini baru bisa menjual tiga kodi saja.

Banyaknya penjualan sebelumnya itu didapatkan dari pesanan warga sekitar. Sebab, biasanya pada bulan Agustus banyak orang mengikuti pawai atau karnaval dengan menggunakan atribut bendera merah putih. Namun, di tengah pandemi ini, semua kegiatan itu dilarang oleh pemerintah, karena dapat menimbulkan kerumunan.

Di sepanjang jalan itu, selain Hari, juga banyak pedagang bendera musiman yang menggelar lapaknya di pinggir jalan. Biasanya, selain menjual bendera, mereka juga menjual umbul-umbul. Ada yang berwarna merah putih polos, serta ada yang bergambar.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Biasanya, Agustus menjadi bulan yang penuh berkah bagi para penjual bendera. Baik yang ada di pinggir jalan maupun di pertokoan. Namun ternyata, sejak adanya pandemi Covid-19, sudah dua kali peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia para penjual bendera tak merasakan keuntungan dari barang dagangannya. Sebab, pembeli cukup sepi.

Hari, 35, salah seorang penjual bendera yang berada di pinggir Jalan A Yani, Kelurahan Nangkaan, Bondowoso, mengakui, ia sudah berjualan dari akhir Juli. Rencananya akan menutup lapak akhir Agustus nanti. Namun, sejak buka hingga sekarang, dia mengaku masih sepi pembeli. Padahal, kata dia, biasanya paling banyak laku saat pekan pertama Agustus. Kondisi semacam ini diakuinya sudah dua kali, sejak peringatan Hari Kemerdekaan tahun lalu.

“Sudah dua tahun saat agustusan sepi pembeli. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Sekarang pembeli bisa berkurang hingga 70 persen,” ujarnya saat ditemui di lapak jualannya, kemarin (8/8).

Hari juga menjelaskan, dirinya sangat merasakan betul dampak pandemi Covid-19. Salah satunya penurunan omzet. Apalagi setelah penerapan pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) level empat di Bondowoso. Hal itu berakibat barang dagangannya sedikit yang laku. Jika sebelum pandemi ia biasanya menjual 15 kodi bendera bahkan lebih, untuk saat ini baru bisa menjual tiga kodi saja.

Banyaknya penjualan sebelumnya itu didapatkan dari pesanan warga sekitar. Sebab, biasanya pada bulan Agustus banyak orang mengikuti pawai atau karnaval dengan menggunakan atribut bendera merah putih. Namun, di tengah pandemi ini, semua kegiatan itu dilarang oleh pemerintah, karena dapat menimbulkan kerumunan.

Di sepanjang jalan itu, selain Hari, juga banyak pedagang bendera musiman yang menggelar lapaknya di pinggir jalan. Biasanya, selain menjual bendera, mereka juga menjual umbul-umbul. Ada yang berwarna merah putih polos, serta ada yang bergambar.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/