alexametrics
30.5 C
Jember
Wednesday, 18 May 2022

Transaksi Anjlok Akibat PPKM Darurat

Pemilik Kafe dan PKL Tagih Kompensasi Pemkab

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat, menyebabkan kegiatan ekonomi tersendat. Hal inilah yang tengah dialami sejumlah pemilik kafe dan pedagang kaki lima (PKL) di Bondowoso. Transaksi mereka anjlok dan sebagian di antara mereka sampai harus merumahkan karyawan.

Pantauan di lapangan, Shaf, salah satu kafe di Jalan Letjend DI Panjaitan, Tamansari, berusaha tetap buka. Tetapi, tampak sangat sepi. Hanya ada satu dua orang yang datang membeli minuman. Itu pun dibawa pulang. Sementara itu, sejumlah PKL di Alun-Alun Ki Ronggo Bondowoso harus libur berjualan. Sebab, alun-alun ditutup total.

Pemilik kafe Shaf, Pringgo Cahyo, mengatakan, penerapan PPKM darurat justru lebih terasa dampaknya dibandingkan awal pandemi. “Sekarang meski take away, masyarakat ketakutan juga karena khawatir di-swab. Selain itu, pengunjung juga ingin nongkrong, tapi tidak diperbolehkan. Akibatnya, transaksi anjlok,” paparnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Menurutnya, saat pelaksanaan new normal, kunjungan atau transaksi di kafe miliknya bisa mencapai 100-150 transaksi setiap hari.  Tetapi, saat PPKM darurat ini, turun hingga 90 persen lebih. “Tanggal 3 Juli transaksi masih 10, tetapi turun setiap hari. Kemarin hanya ada enam transaksi,” ungkapnya.

Pringgo terpaksa merumahkan 80 persen karyawannya. Dari 10 karyawan, kini hanya dua orang saja yang masuk setiap hari. Dua orang yang tetap masuk adalah mereka yang punya tanggungan lebih berat di keluarganya. Di antaranya karyawan yang suaminya tidak bisa bekerja karena kecelakaan. “Serta ada yang punya tanggungan tiga anak. Diprioritaskan yang lebih membutuhkan. Sementara, yang dirumahkan tak membantah, tetapi air mata mereka berlinang. Menangis bahasa kalbu paling tinggi. Mau gimana lagi,” jelasnya, (8/7) kemarin.

Hal senada juga diakui manajer Cafe Container Laki-Laki, Steven Leo Agusta Ari Irwan. Sejak PPKM darurat, pendapatan turun hingga 85 persen lebih. Jika biasanya buka dari pukul 08.00 sampai 20.00, pendapatan mencapai Rp 1 juta. Saat ini maksimal hanya Rp 150 ribu. “Kadang malah kurang,” tuturnya.

Ia tidak merumahkan karyawan. Sebab, dia kasihan terhadap keluarga mereka yang mengharapkan rezeki dari kerja mereka di kafe tersebut. “Entah pakai pola apa saja. Semoga ada rezeki, supaya minimal kami masih bisa menjadi harapan mengisi perut karyawan,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban PKL Alun-Alun Bondowoso Mujiati mengatakan, PKL tidak bisa beraktivitas sama sekali. Apalagi jalan ditutup total. “Tidak bisa ngapa-ngapain sama sekali,” ucapnya.

Jika harus jualan di tempat lain, pelanggannya belum mengetahui. Apalagi pedagang di alun-alun menjual kuliner dan harus membawa peralatan. “Jadi ribet jika tidak ada lokasi tetap,” akunya.

Meski para PKL memaksa berjualan, pihaknya memastikan tidak akan menutup biaya operasionalnya. Sebab, mendorong gerobak juga bayar. Ditambah tak ada pelanggan. “Kalau dihitung tidak nutut. Tapi, para PKL tetap berjualan biar ada transaksi. Sebenarnya bukan penurunan, tapi mati total,” paparnya. Sekalipun diterapkan take away, kata dia, tidak maksimal. Sebab, banyak pelanggan yang inginnya nongkrong.

 

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat, menyebabkan kegiatan ekonomi tersendat. Hal inilah yang tengah dialami sejumlah pemilik kafe dan pedagang kaki lima (PKL) di Bondowoso. Transaksi mereka anjlok dan sebagian di antara mereka sampai harus merumahkan karyawan.

Pantauan di lapangan, Shaf, salah satu kafe di Jalan Letjend DI Panjaitan, Tamansari, berusaha tetap buka. Tetapi, tampak sangat sepi. Hanya ada satu dua orang yang datang membeli minuman. Itu pun dibawa pulang. Sementara itu, sejumlah PKL di Alun-Alun Ki Ronggo Bondowoso harus libur berjualan. Sebab, alun-alun ditutup total.

Pemilik kafe Shaf, Pringgo Cahyo, mengatakan, penerapan PPKM darurat justru lebih terasa dampaknya dibandingkan awal pandemi. “Sekarang meski take away, masyarakat ketakutan juga karena khawatir di-swab. Selain itu, pengunjung juga ingin nongkrong, tapi tidak diperbolehkan. Akibatnya, transaksi anjlok,” paparnya.

Menurutnya, saat pelaksanaan new normal, kunjungan atau transaksi di kafe miliknya bisa mencapai 100-150 transaksi setiap hari.  Tetapi, saat PPKM darurat ini, turun hingga 90 persen lebih. “Tanggal 3 Juli transaksi masih 10, tetapi turun setiap hari. Kemarin hanya ada enam transaksi,” ungkapnya.

Pringgo terpaksa merumahkan 80 persen karyawannya. Dari 10 karyawan, kini hanya dua orang saja yang masuk setiap hari. Dua orang yang tetap masuk adalah mereka yang punya tanggungan lebih berat di keluarganya. Di antaranya karyawan yang suaminya tidak bisa bekerja karena kecelakaan. “Serta ada yang punya tanggungan tiga anak. Diprioritaskan yang lebih membutuhkan. Sementara, yang dirumahkan tak membantah, tetapi air mata mereka berlinang. Menangis bahasa kalbu paling tinggi. Mau gimana lagi,” jelasnya, (8/7) kemarin.

Hal senada juga diakui manajer Cafe Container Laki-Laki, Steven Leo Agusta Ari Irwan. Sejak PPKM darurat, pendapatan turun hingga 85 persen lebih. Jika biasanya buka dari pukul 08.00 sampai 20.00, pendapatan mencapai Rp 1 juta. Saat ini maksimal hanya Rp 150 ribu. “Kadang malah kurang,” tuturnya.

Ia tidak merumahkan karyawan. Sebab, dia kasihan terhadap keluarga mereka yang mengharapkan rezeki dari kerja mereka di kafe tersebut. “Entah pakai pola apa saja. Semoga ada rezeki, supaya minimal kami masih bisa menjadi harapan mengisi perut karyawan,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban PKL Alun-Alun Bondowoso Mujiati mengatakan, PKL tidak bisa beraktivitas sama sekali. Apalagi jalan ditutup total. “Tidak bisa ngapa-ngapain sama sekali,” ucapnya.

Jika harus jualan di tempat lain, pelanggannya belum mengetahui. Apalagi pedagang di alun-alun menjual kuliner dan harus membawa peralatan. “Jadi ribet jika tidak ada lokasi tetap,” akunya.

Meski para PKL memaksa berjualan, pihaknya memastikan tidak akan menutup biaya operasionalnya. Sebab, mendorong gerobak juga bayar. Ditambah tak ada pelanggan. “Kalau dihitung tidak nutut. Tapi, para PKL tetap berjualan biar ada transaksi. Sebenarnya bukan penurunan, tapi mati total,” paparnya. Sekalipun diterapkan take away, kata dia, tidak maksimal. Sebab, banyak pelanggan yang inginnya nongkrong.

 

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) darurat, menyebabkan kegiatan ekonomi tersendat. Hal inilah yang tengah dialami sejumlah pemilik kafe dan pedagang kaki lima (PKL) di Bondowoso. Transaksi mereka anjlok dan sebagian di antara mereka sampai harus merumahkan karyawan.

Pantauan di lapangan, Shaf, salah satu kafe di Jalan Letjend DI Panjaitan, Tamansari, berusaha tetap buka. Tetapi, tampak sangat sepi. Hanya ada satu dua orang yang datang membeli minuman. Itu pun dibawa pulang. Sementara itu, sejumlah PKL di Alun-Alun Ki Ronggo Bondowoso harus libur berjualan. Sebab, alun-alun ditutup total.

Pemilik kafe Shaf, Pringgo Cahyo, mengatakan, penerapan PPKM darurat justru lebih terasa dampaknya dibandingkan awal pandemi. “Sekarang meski take away, masyarakat ketakutan juga karena khawatir di-swab. Selain itu, pengunjung juga ingin nongkrong, tapi tidak diperbolehkan. Akibatnya, transaksi anjlok,” paparnya.

Menurutnya, saat pelaksanaan new normal, kunjungan atau transaksi di kafe miliknya bisa mencapai 100-150 transaksi setiap hari.  Tetapi, saat PPKM darurat ini, turun hingga 90 persen lebih. “Tanggal 3 Juli transaksi masih 10, tetapi turun setiap hari. Kemarin hanya ada enam transaksi,” ungkapnya.

Pringgo terpaksa merumahkan 80 persen karyawannya. Dari 10 karyawan, kini hanya dua orang saja yang masuk setiap hari. Dua orang yang tetap masuk adalah mereka yang punya tanggungan lebih berat di keluarganya. Di antaranya karyawan yang suaminya tidak bisa bekerja karena kecelakaan. “Serta ada yang punya tanggungan tiga anak. Diprioritaskan yang lebih membutuhkan. Sementara, yang dirumahkan tak membantah, tetapi air mata mereka berlinang. Menangis bahasa kalbu paling tinggi. Mau gimana lagi,” jelasnya, (8/7) kemarin.

Hal senada juga diakui manajer Cafe Container Laki-Laki, Steven Leo Agusta Ari Irwan. Sejak PPKM darurat, pendapatan turun hingga 85 persen lebih. Jika biasanya buka dari pukul 08.00 sampai 20.00, pendapatan mencapai Rp 1 juta. Saat ini maksimal hanya Rp 150 ribu. “Kadang malah kurang,” tuturnya.

Ia tidak merumahkan karyawan. Sebab, dia kasihan terhadap keluarga mereka yang mengharapkan rezeki dari kerja mereka di kafe tersebut. “Entah pakai pola apa saja. Semoga ada rezeki, supaya minimal kami masih bisa menjadi harapan mengisi perut karyawan,” jelasnya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban PKL Alun-Alun Bondowoso Mujiati mengatakan, PKL tidak bisa beraktivitas sama sekali. Apalagi jalan ditutup total. “Tidak bisa ngapa-ngapain sama sekali,” ucapnya.

Jika harus jualan di tempat lain, pelanggannya belum mengetahui. Apalagi pedagang di alun-alun menjual kuliner dan harus membawa peralatan. “Jadi ribet jika tidak ada lokasi tetap,” akunya.

Meski para PKL memaksa berjualan, pihaknya memastikan tidak akan menutup biaya operasionalnya. Sebab, mendorong gerobak juga bayar. Ditambah tak ada pelanggan. “Kalau dihitung tidak nutut. Tapi, para PKL tetap berjualan biar ada transaksi. Sebenarnya bukan penurunan, tapi mati total,” paparnya. Sekalipun diterapkan take away, kata dia, tidak maksimal. Sebab, banyak pelanggan yang inginnya nongkrong.

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/