21.8 C
Jember
Friday, 9 June 2023

Menghidupkan Kembali Bondowoso Republik Kopi

Ketika mendengar istilah BRK, maka secara tidak langsung pikiran kita akan tertuju pada Bondowoso. BRK merupakan kepanjangan dari Bondowoso Republik Kopi yang sudah dikenal luas oleh masyarakat, bahkan secara nasional. Sayangnya, sejak beberapa tahun terakhir BRK sudah mulai redup. Bagaimana upaya Pemkab untuk membuatnya bersinar lagi?

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tinggal nama saja, rasanya ini yang dialami BRK. Mengingat hampir dua tahun terakhir tidak ada aktivitas yang bergerak dalam bidang perkopian. Bahkan, pada tahun ini juga masih terancam tidak ada event. Rencananya akan dibahas dalam perubahan anggaran kabupaten (PAK) dengan mempertimbangkan kondisi pandemi Covid-19.

BACA JUGA : Panen Berkurang, Harga Kopi Dunia Melejit

Kepala Badan Perencanaan, Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (BP4D) Bondowoso Farida mengatakan, BRK sebenarnya memang harus tetap ada. Mengingat hal tersebut merupakan kekayaan atau brand yang dimiliki oleh kabupaten yang tidak memiliki laut ini. Selain itu, brand ini sudah secara resmi mendapatkan sertifikat hak kekayaan intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan HAM.

Mobile_AP_Rectangle 2

Walaupun demikian, perempuan yang sebelumnya menjabat Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Bondowoso itu membenarkan, dalam beberapa tahun terakhir, khususnya saat pandemi Covid-19 melanda, tidak ada event yang berkaitan dengan perkopian. Oleh sebab itu, pihaknya menginginkan untuk ke depan brand ini dapat kembali bersinar seperti semula. “Tahun ini kalau pandeminya sudah turun, di PAK akan memprogram event apa yang berkaitan dengan kopi,” katanya.

Hal tersebut dianggap sebagai upaya untuk menghidupkan atau membuat BRK bersinar seperti sedia kala. Sebab, bagi Farida, BRK bukan hanya sebatas sebutan, melainkan ikon dan ciri khas yang harus dipertahankan. Terlebih beberapa jenis kopi di Bondowoso sudah mendapatkan sertifikat HKI.

Untuk menghidupkan BRK kembali, lanjut Farida, dibutuhkan kesinambungan antarinstansi terkait. Mengingat brand ini memang harus dikelola bersama, sehingga output yang diinginkan dapat tercapai.

Lebih lanjut, perempuan ini juga menegaskan, jika pandemi sudah berakhir, pihaknya berencana akan menata kembali hal-hal yang dibutuhkan untuk membuat BRK bersinar. Salah satunya membuat event yang dapat menunjukan bahwa Bondowoso memang sesuai dengan brand-nya. (ham/c2)

 

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tinggal nama saja, rasanya ini yang dialami BRK. Mengingat hampir dua tahun terakhir tidak ada aktivitas yang bergerak dalam bidang perkopian. Bahkan, pada tahun ini juga masih terancam tidak ada event. Rencananya akan dibahas dalam perubahan anggaran kabupaten (PAK) dengan mempertimbangkan kondisi pandemi Covid-19.

BACA JUGA : Panen Berkurang, Harga Kopi Dunia Melejit

Kepala Badan Perencanaan, Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (BP4D) Bondowoso Farida mengatakan, BRK sebenarnya memang harus tetap ada. Mengingat hal tersebut merupakan kekayaan atau brand yang dimiliki oleh kabupaten yang tidak memiliki laut ini. Selain itu, brand ini sudah secara resmi mendapatkan sertifikat hak kekayaan intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan HAM.

Walaupun demikian, perempuan yang sebelumnya menjabat Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Bondowoso itu membenarkan, dalam beberapa tahun terakhir, khususnya saat pandemi Covid-19 melanda, tidak ada event yang berkaitan dengan perkopian. Oleh sebab itu, pihaknya menginginkan untuk ke depan brand ini dapat kembali bersinar seperti semula. “Tahun ini kalau pandeminya sudah turun, di PAK akan memprogram event apa yang berkaitan dengan kopi,” katanya.

Hal tersebut dianggap sebagai upaya untuk menghidupkan atau membuat BRK bersinar seperti sedia kala. Sebab, bagi Farida, BRK bukan hanya sebatas sebutan, melainkan ikon dan ciri khas yang harus dipertahankan. Terlebih beberapa jenis kopi di Bondowoso sudah mendapatkan sertifikat HKI.

Untuk menghidupkan BRK kembali, lanjut Farida, dibutuhkan kesinambungan antarinstansi terkait. Mengingat brand ini memang harus dikelola bersama, sehingga output yang diinginkan dapat tercapai.

Lebih lanjut, perempuan ini juga menegaskan, jika pandemi sudah berakhir, pihaknya berencana akan menata kembali hal-hal yang dibutuhkan untuk membuat BRK bersinar. Salah satunya membuat event yang dapat menunjukan bahwa Bondowoso memang sesuai dengan brand-nya. (ham/c2)

 

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tinggal nama saja, rasanya ini yang dialami BRK. Mengingat hampir dua tahun terakhir tidak ada aktivitas yang bergerak dalam bidang perkopian. Bahkan, pada tahun ini juga masih terancam tidak ada event. Rencananya akan dibahas dalam perubahan anggaran kabupaten (PAK) dengan mempertimbangkan kondisi pandemi Covid-19.

BACA JUGA : Panen Berkurang, Harga Kopi Dunia Melejit

Kepala Badan Perencanaan, Pembangunan, Penelitian, dan Pengembangan Daerah (BP4D) Bondowoso Farida mengatakan, BRK sebenarnya memang harus tetap ada. Mengingat hal tersebut merupakan kekayaan atau brand yang dimiliki oleh kabupaten yang tidak memiliki laut ini. Selain itu, brand ini sudah secara resmi mendapatkan sertifikat hak kekayaan intelektual (HKI) dari Kementerian Hukum dan HAM.

Walaupun demikian, perempuan yang sebelumnya menjabat Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) Bondowoso itu membenarkan, dalam beberapa tahun terakhir, khususnya saat pandemi Covid-19 melanda, tidak ada event yang berkaitan dengan perkopian. Oleh sebab itu, pihaknya menginginkan untuk ke depan brand ini dapat kembali bersinar seperti semula. “Tahun ini kalau pandeminya sudah turun, di PAK akan memprogram event apa yang berkaitan dengan kopi,” katanya.

Hal tersebut dianggap sebagai upaya untuk menghidupkan atau membuat BRK bersinar seperti sedia kala. Sebab, bagi Farida, BRK bukan hanya sebatas sebutan, melainkan ikon dan ciri khas yang harus dipertahankan. Terlebih beberapa jenis kopi di Bondowoso sudah mendapatkan sertifikat HKI.

Untuk menghidupkan BRK kembali, lanjut Farida, dibutuhkan kesinambungan antarinstansi terkait. Mengingat brand ini memang harus dikelola bersama, sehingga output yang diinginkan dapat tercapai.

Lebih lanjut, perempuan ini juga menegaskan, jika pandemi sudah berakhir, pihaknya berencana akan menata kembali hal-hal yang dibutuhkan untuk membuat BRK bersinar. Salah satunya membuat event yang dapat menunjukan bahwa Bondowoso memang sesuai dengan brand-nya. (ham/c2)

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca