22.9 C
Jember
Friday, 31 March 2023

Kini Mentahnya Diborong Tengkulak Luar Kota

Gaungan Bondowoso Republik Kopi (BRK) membiusnya kopi menjadi naik kelas. Pendampingan pemerintah dalam pengolahan kopi dari hulu hingga hilir membuatnya semakin percaya bahwa program itu sangat menjanjikan. Inilah yang membuat pemuda hingga orang dewasa, bergelut di dunia kopi.

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sebuah kedai kopi, dengan latar dan suasana yang cukup menarik, tersaji di Jalan Pelita. Jalan kabupaten yang menghubungkan Nangkaan dengan SMAN 2 Bondowoso, itu menjadi lokasi tersendiri dalam menikmati sajian kopi. Ada kedai kopi yang bernuansa rustic, warkop, hingga ala rumahan.

BACA JUGA : Keluarkan Racun Tubuh Gunakan Buah dan Sayuran

Jawa Pos Radar Ijen mencoba kedai kopi yang dijajakan oleh Nurus Sirri. Kedai kopi yang sederhana tersebut menyimpan cerita manis bagaimana dirinya tergerak usaha di bidang kopi. Pria asal Pamekasan itu merantau ke Bondowoso. Selama bertahun-tahun hidup di Kota Tape tersebut, ada secercah harapan yang membuat Bondowoso ini dikenal luas termasuk ada lapangan usaha baru. Yaitu tentang kopi.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dia mengaku, program yang disediakan langsung oleh pemerintah, mampu menghipnotis dirinya. Dia yakin kopi Bondowoso ini menggila. Tidak hanya petaninya, tapi sektor hilir juga digarap. Pendampingan dan pelatihan itu diadakan, bahkan menyediakan bantuan fasilitas bagi para pengusahanya.

Waktu terus berjalan, dan hari-hari dilewati hingga berganti bulan. Tahun 2016 merupakan dicetuskannya Bondowoso Republik Kopi (BRK), maka dirinya mengambil waktu satu tahun setelah digaungkan. “Tahun 2017 saya buka ini (kedai kopi. Red), waktu itu bersama teman saya,” ungkapnya Nurus Sirri, yang akrab disapa Syamsi itu.

Berkecimpung di dunia kopi dengan semangat BRK pada waktu itu, juga bermunculan pemuda Bondowoso yang cinta kopi. Tidak sekadar menikmati seduhan kopi, ataupun ikut berbisnis kopi. Tapi tahu betul seluk beluk kopi. “Jadi rasanya itu mengetahui semua tentang kopi itu ada rasa kebanggaan bagi pemuda,” paparnya.

Bahkan, Syamsi pada waktu itu kaget pecinta kopi, yang hanya bermodal modal rasanya itu tahu lokasi ketinggian tumbuhnya. Bahkan, kopi arabika Java Ijen Raung yang digaungkan BRK semua paham. “Dari aromanya itu tahu kopinya dari Bondowoso,” jelasnya.

Namun, sekarang kondisi berbalik justru terjadi. Saat ini, para petani kopi, pengolahan hingga pada proses menjadi bubuk pun sudah tidak ada lagi. “Mirisnya lagi, produksi kopi malah dibeli oleh tengkulak luar,” tegasnya. Masih kata Syamsi, baru-baru ini ada tengkulak dari Medan membeli kopi Bondowoso. Potensi yang sangat besar seharusnya dikelola di Bondowoso sendiri.

Menurutnya, pengolahan kopi tidak sampai siap konsumsi. Baik berbentuk bubuk atau roasting. Akhirnya brand kopi Bondowoso ini hilang secara bertahap. “Dibeli tengkulak, roasting tengkulak, dikemas oleh tengkulak. Akhirnya lenyap begitu saja nanti kopi Bondowoso yang dibangun dengan penuh semangat itu,” paparnya. (c2/dwi)

 

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sebuah kedai kopi, dengan latar dan suasana yang cukup menarik, tersaji di Jalan Pelita. Jalan kabupaten yang menghubungkan Nangkaan dengan SMAN 2 Bondowoso, itu menjadi lokasi tersendiri dalam menikmati sajian kopi. Ada kedai kopi yang bernuansa rustic, warkop, hingga ala rumahan.

BACA JUGA : Keluarkan Racun Tubuh Gunakan Buah dan Sayuran

Jawa Pos Radar Ijen mencoba kedai kopi yang dijajakan oleh Nurus Sirri. Kedai kopi yang sederhana tersebut menyimpan cerita manis bagaimana dirinya tergerak usaha di bidang kopi. Pria asal Pamekasan itu merantau ke Bondowoso. Selama bertahun-tahun hidup di Kota Tape tersebut, ada secercah harapan yang membuat Bondowoso ini dikenal luas termasuk ada lapangan usaha baru. Yaitu tentang kopi.

Dia mengaku, program yang disediakan langsung oleh pemerintah, mampu menghipnotis dirinya. Dia yakin kopi Bondowoso ini menggila. Tidak hanya petaninya, tapi sektor hilir juga digarap. Pendampingan dan pelatihan itu diadakan, bahkan menyediakan bantuan fasilitas bagi para pengusahanya.

Waktu terus berjalan, dan hari-hari dilewati hingga berganti bulan. Tahun 2016 merupakan dicetuskannya Bondowoso Republik Kopi (BRK), maka dirinya mengambil waktu satu tahun setelah digaungkan. “Tahun 2017 saya buka ini (kedai kopi. Red), waktu itu bersama teman saya,” ungkapnya Nurus Sirri, yang akrab disapa Syamsi itu.

Berkecimpung di dunia kopi dengan semangat BRK pada waktu itu, juga bermunculan pemuda Bondowoso yang cinta kopi. Tidak sekadar menikmati seduhan kopi, ataupun ikut berbisnis kopi. Tapi tahu betul seluk beluk kopi. “Jadi rasanya itu mengetahui semua tentang kopi itu ada rasa kebanggaan bagi pemuda,” paparnya.

Bahkan, Syamsi pada waktu itu kaget pecinta kopi, yang hanya bermodal modal rasanya itu tahu lokasi ketinggian tumbuhnya. Bahkan, kopi arabika Java Ijen Raung yang digaungkan BRK semua paham. “Dari aromanya itu tahu kopinya dari Bondowoso,” jelasnya.

Namun, sekarang kondisi berbalik justru terjadi. Saat ini, para petani kopi, pengolahan hingga pada proses menjadi bubuk pun sudah tidak ada lagi. “Mirisnya lagi, produksi kopi malah dibeli oleh tengkulak luar,” tegasnya. Masih kata Syamsi, baru-baru ini ada tengkulak dari Medan membeli kopi Bondowoso. Potensi yang sangat besar seharusnya dikelola di Bondowoso sendiri.

Menurutnya, pengolahan kopi tidak sampai siap konsumsi. Baik berbentuk bubuk atau roasting. Akhirnya brand kopi Bondowoso ini hilang secara bertahap. “Dibeli tengkulak, roasting tengkulak, dikemas oleh tengkulak. Akhirnya lenyap begitu saja nanti kopi Bondowoso yang dibangun dengan penuh semangat itu,” paparnya. (c2/dwi)

 

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Sebuah kedai kopi, dengan latar dan suasana yang cukup menarik, tersaji di Jalan Pelita. Jalan kabupaten yang menghubungkan Nangkaan dengan SMAN 2 Bondowoso, itu menjadi lokasi tersendiri dalam menikmati sajian kopi. Ada kedai kopi yang bernuansa rustic, warkop, hingga ala rumahan.

BACA JUGA : Keluarkan Racun Tubuh Gunakan Buah dan Sayuran

Jawa Pos Radar Ijen mencoba kedai kopi yang dijajakan oleh Nurus Sirri. Kedai kopi yang sederhana tersebut menyimpan cerita manis bagaimana dirinya tergerak usaha di bidang kopi. Pria asal Pamekasan itu merantau ke Bondowoso. Selama bertahun-tahun hidup di Kota Tape tersebut, ada secercah harapan yang membuat Bondowoso ini dikenal luas termasuk ada lapangan usaha baru. Yaitu tentang kopi.

Dia mengaku, program yang disediakan langsung oleh pemerintah, mampu menghipnotis dirinya. Dia yakin kopi Bondowoso ini menggila. Tidak hanya petaninya, tapi sektor hilir juga digarap. Pendampingan dan pelatihan itu diadakan, bahkan menyediakan bantuan fasilitas bagi para pengusahanya.

Waktu terus berjalan, dan hari-hari dilewati hingga berganti bulan. Tahun 2016 merupakan dicetuskannya Bondowoso Republik Kopi (BRK), maka dirinya mengambil waktu satu tahun setelah digaungkan. “Tahun 2017 saya buka ini (kedai kopi. Red), waktu itu bersama teman saya,” ungkapnya Nurus Sirri, yang akrab disapa Syamsi itu.

Berkecimpung di dunia kopi dengan semangat BRK pada waktu itu, juga bermunculan pemuda Bondowoso yang cinta kopi. Tidak sekadar menikmati seduhan kopi, ataupun ikut berbisnis kopi. Tapi tahu betul seluk beluk kopi. “Jadi rasanya itu mengetahui semua tentang kopi itu ada rasa kebanggaan bagi pemuda,” paparnya.

Bahkan, Syamsi pada waktu itu kaget pecinta kopi, yang hanya bermodal modal rasanya itu tahu lokasi ketinggian tumbuhnya. Bahkan, kopi arabika Java Ijen Raung yang digaungkan BRK semua paham. “Dari aromanya itu tahu kopinya dari Bondowoso,” jelasnya.

Namun, sekarang kondisi berbalik justru terjadi. Saat ini, para petani kopi, pengolahan hingga pada proses menjadi bubuk pun sudah tidak ada lagi. “Mirisnya lagi, produksi kopi malah dibeli oleh tengkulak luar,” tegasnya. Masih kata Syamsi, baru-baru ini ada tengkulak dari Medan membeli kopi Bondowoso. Potensi yang sangat besar seharusnya dikelola di Bondowoso sendiri.

Menurutnya, pengolahan kopi tidak sampai siap konsumsi. Baik berbentuk bubuk atau roasting. Akhirnya brand kopi Bondowoso ini hilang secara bertahap. “Dibeli tengkulak, roasting tengkulak, dikemas oleh tengkulak. Akhirnya lenyap begitu saja nanti kopi Bondowoso yang dibangun dengan penuh semangat itu,” paparnya. (c2/dwi)

 

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca