alexametrics
31.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Rumah Adat Mulai Hilang sejak Orde Baru

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Keberadaan rumah adat Tanian Lanjheng di Kabupaten Bondowoso saat ini jarang ditemui. Hal tersebut karena banyaknya masyarakat yang mengganti model rumahnya menjadi lebih modern sesuai dengan perkembangan zaman. Padahal dahulu, model rumah Tanian Lanjheng sangat banyak ditemui.

Kasi Sejarah Purbakala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Bondowoso Hery Kusdariyanto menjelaskan, rumah adat yang berasal dari Madura tersebut sebelumnya banyak ditemui di beberapa lokasi. “Saat ini jarang sekali, bahkan mungkin hanya ada di daerah pinggiran seperti Cermee, Prajekan, dan sekitarnya,” terangnya.

Dijelaskannya, saat ini banyak masyarakat yang mengganti model rumahnya menjadi lebih modern dan menggunakan batu bata sebagai bahan konstruksinya. Tren pergantian konstruksi rumah itu sudah mulai sejak masa Orde Baru. Sebab, pada masa tersebut terdapat kebijakan seluruh rumah harus menghadap ke jalan. Sementara Tanian Lanjheng identik dengan saling berhadapan ke selatan dan ke utara. “Pada zaman Soeharto dulu, katanya semua rumah harus menghadap ke jalan. Jadi, dari sana mulai berkurang sudah,” jelasnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Lebih lanjut, Hery menyampaikan, Tanian Lanjheng memiliki banyak ciri khas. Di antaranya konstruksi bangunan yang hampir seluruhnya menggunakan kayu. Serta model rumahnya yang dibuat memanjang, di sebelah barat dibatasi dengan adanya musala, yang terletak di tengah antara rumah di selatan dan diutara. “Kalau ada keluarga baru misalnya. Di Tanian Lanjheng biasanya akan dibangun memanjang kembali berjajar ke timur,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Andri Mustofa, warga Desa Ramban Kulon, Cermee, tetap mempertahankan rumah adat Tanian Lanjheng hingga kini. Bahkan, dia ingin rumah adat itu dijadikan salah satu objek eduwisata.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Keberadaan rumah adat Tanian Lanjheng di Kabupaten Bondowoso saat ini jarang ditemui. Hal tersebut karena banyaknya masyarakat yang mengganti model rumahnya menjadi lebih modern sesuai dengan perkembangan zaman. Padahal dahulu, model rumah Tanian Lanjheng sangat banyak ditemui.

Kasi Sejarah Purbakala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Bondowoso Hery Kusdariyanto menjelaskan, rumah adat yang berasal dari Madura tersebut sebelumnya banyak ditemui di beberapa lokasi. “Saat ini jarang sekali, bahkan mungkin hanya ada di daerah pinggiran seperti Cermee, Prajekan, dan sekitarnya,” terangnya.

Dijelaskannya, saat ini banyak masyarakat yang mengganti model rumahnya menjadi lebih modern dan menggunakan batu bata sebagai bahan konstruksinya. Tren pergantian konstruksi rumah itu sudah mulai sejak masa Orde Baru. Sebab, pada masa tersebut terdapat kebijakan seluruh rumah harus menghadap ke jalan. Sementara Tanian Lanjheng identik dengan saling berhadapan ke selatan dan ke utara. “Pada zaman Soeharto dulu, katanya semua rumah harus menghadap ke jalan. Jadi, dari sana mulai berkurang sudah,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hery menyampaikan, Tanian Lanjheng memiliki banyak ciri khas. Di antaranya konstruksi bangunan yang hampir seluruhnya menggunakan kayu. Serta model rumahnya yang dibuat memanjang, di sebelah barat dibatasi dengan adanya musala, yang terletak di tengah antara rumah di selatan dan diutara. “Kalau ada keluarga baru misalnya. Di Tanian Lanjheng biasanya akan dibangun memanjang kembali berjajar ke timur,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Andri Mustofa, warga Desa Ramban Kulon, Cermee, tetap mempertahankan rumah adat Tanian Lanjheng hingga kini. Bahkan, dia ingin rumah adat itu dijadikan salah satu objek eduwisata.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Keberadaan rumah adat Tanian Lanjheng di Kabupaten Bondowoso saat ini jarang ditemui. Hal tersebut karena banyaknya masyarakat yang mengganti model rumahnya menjadi lebih modern sesuai dengan perkembangan zaman. Padahal dahulu, model rumah Tanian Lanjheng sangat banyak ditemui.

Kasi Sejarah Purbakala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dispendikbud) Bondowoso Hery Kusdariyanto menjelaskan, rumah adat yang berasal dari Madura tersebut sebelumnya banyak ditemui di beberapa lokasi. “Saat ini jarang sekali, bahkan mungkin hanya ada di daerah pinggiran seperti Cermee, Prajekan, dan sekitarnya,” terangnya.

Dijelaskannya, saat ini banyak masyarakat yang mengganti model rumahnya menjadi lebih modern dan menggunakan batu bata sebagai bahan konstruksinya. Tren pergantian konstruksi rumah itu sudah mulai sejak masa Orde Baru. Sebab, pada masa tersebut terdapat kebijakan seluruh rumah harus menghadap ke jalan. Sementara Tanian Lanjheng identik dengan saling berhadapan ke selatan dan ke utara. “Pada zaman Soeharto dulu, katanya semua rumah harus menghadap ke jalan. Jadi, dari sana mulai berkurang sudah,” jelasnya.

Lebih lanjut, Hery menyampaikan, Tanian Lanjheng memiliki banyak ciri khas. Di antaranya konstruksi bangunan yang hampir seluruhnya menggunakan kayu. Serta model rumahnya yang dibuat memanjang, di sebelah barat dibatasi dengan adanya musala, yang terletak di tengah antara rumah di selatan dan diutara. “Kalau ada keluarga baru misalnya. Di Tanian Lanjheng biasanya akan dibangun memanjang kembali berjajar ke timur,” pungkasnya.

Diberitakan sebelumnya, Andri Mustofa, warga Desa Ramban Kulon, Cermee, tetap mempertahankan rumah adat Tanian Lanjheng hingga kini. Bahkan, dia ingin rumah adat itu dijadikan salah satu objek eduwisata.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/