alexametrics
21.6 C
Jember
Thursday, 30 June 2022

Kasus DBD Mulai Muncul, Cermee Bondowoso Jadi Wilayah Paling Rawan

Memasuki musim hujan, kasus demam berdarah dengue (DBD) mulai bermunculan. Masyarakat pun diminta tetap menerapkan gaya hidup bersih dan sehat. Di Bondowoso, Kecamatan Cermee menjadi salah satu wilayah tertinggi kasus DBD.

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kasus demam berdarah dengue (DBD) mulai menghantui masyarakat. Menurut data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso, Kecamatan Cermee menjadi wilayah dengan kasus DBD tertinggi.

Hal itu dibenarkan oleh Goek Fitri Purwandari, Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2PM) Dinkes Bondowoso. Menurutnya, Cermee menjadi wilayah tertinggi untuk penemuan data kasus DBD tahun ini. “Bukan wilayah kota. Memang dari tahun ke tahun Cermee menjadi salah satu kecamatan yang paling banyak kasus DBD-nya,” beber Goek kepada Jawa Pos Radar Ijen.

Sampai sekarang ini, kasus DBD sudah bermunculan. Memasuki musim hujan, penyakit yang disebabkan adanya nyamuk Aedes aegypti ini bermunculan. “Mulai ada kasus DBD sekarang ini di Kecamatan Pujer. Tim kami sendiri mulai keliling. Rekan-rekan sudah kami berikan surat peringatan untuk kewaspadaan sejak dini,” ungkapnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Fogging, menurut Goek, tak asal main semprot saja. Fogging harus dikaji terlebih dahulu. “Harus ada penyelidikan epidemiologi terlebih dahulu jika dinyatakan positif. Tidak serta-merta. Harus ada laporan KDRS DBD dahulu, trombosit kurang dari 100 dan hasil penyelidikan epidemiologi positif,” jelasnya.

Penyelidikan epidemiologi adalah penyelidikan yang dilakukan untuk mengenal sifat-sifat penyebab, sumber, cara penularan, serta faktor yang dapat memengaruhi timbulnya wabah. Dari awal 2021 hingga sekarang total ada 99 kasus DBD di Bondowoso.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kasus demam berdarah dengue (DBD) mulai menghantui masyarakat. Menurut data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso, Kecamatan Cermee menjadi wilayah dengan kasus DBD tertinggi.

Hal itu dibenarkan oleh Goek Fitri Purwandari, Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2PM) Dinkes Bondowoso. Menurutnya, Cermee menjadi wilayah tertinggi untuk penemuan data kasus DBD tahun ini. “Bukan wilayah kota. Memang dari tahun ke tahun Cermee menjadi salah satu kecamatan yang paling banyak kasus DBD-nya,” beber Goek kepada Jawa Pos Radar Ijen.

Sampai sekarang ini, kasus DBD sudah bermunculan. Memasuki musim hujan, penyakit yang disebabkan adanya nyamuk Aedes aegypti ini bermunculan. “Mulai ada kasus DBD sekarang ini di Kecamatan Pujer. Tim kami sendiri mulai keliling. Rekan-rekan sudah kami berikan surat peringatan untuk kewaspadaan sejak dini,” ungkapnya.

Fogging, menurut Goek, tak asal main semprot saja. Fogging harus dikaji terlebih dahulu. “Harus ada penyelidikan epidemiologi terlebih dahulu jika dinyatakan positif. Tidak serta-merta. Harus ada laporan KDRS DBD dahulu, trombosit kurang dari 100 dan hasil penyelidikan epidemiologi positif,” jelasnya.

Penyelidikan epidemiologi adalah penyelidikan yang dilakukan untuk mengenal sifat-sifat penyebab, sumber, cara penularan, serta faktor yang dapat memengaruhi timbulnya wabah. Dari awal 2021 hingga sekarang total ada 99 kasus DBD di Bondowoso.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kasus demam berdarah dengue (DBD) mulai menghantui masyarakat. Menurut data dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Bondowoso, Kecamatan Cermee menjadi wilayah dengan kasus DBD tertinggi.

Hal itu dibenarkan oleh Goek Fitri Purwandari, Kepala Seksi (Kasi) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2PM) Dinkes Bondowoso. Menurutnya, Cermee menjadi wilayah tertinggi untuk penemuan data kasus DBD tahun ini. “Bukan wilayah kota. Memang dari tahun ke tahun Cermee menjadi salah satu kecamatan yang paling banyak kasus DBD-nya,” beber Goek kepada Jawa Pos Radar Ijen.

Sampai sekarang ini, kasus DBD sudah bermunculan. Memasuki musim hujan, penyakit yang disebabkan adanya nyamuk Aedes aegypti ini bermunculan. “Mulai ada kasus DBD sekarang ini di Kecamatan Pujer. Tim kami sendiri mulai keliling. Rekan-rekan sudah kami berikan surat peringatan untuk kewaspadaan sejak dini,” ungkapnya.

Fogging, menurut Goek, tak asal main semprot saja. Fogging harus dikaji terlebih dahulu. “Harus ada penyelidikan epidemiologi terlebih dahulu jika dinyatakan positif. Tidak serta-merta. Harus ada laporan KDRS DBD dahulu, trombosit kurang dari 100 dan hasil penyelidikan epidemiologi positif,” jelasnya.

Penyelidikan epidemiologi adalah penyelidikan yang dilakukan untuk mengenal sifat-sifat penyebab, sumber, cara penularan, serta faktor yang dapat memengaruhi timbulnya wabah. Dari awal 2021 hingga sekarang total ada 99 kasus DBD di Bondowoso.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/