alexametrics
21.9 C
Jember
Saturday, 20 August 2022

Bagaimana Nasib Wisata Kuliner Jembatan Ki Ronggo

Gegap gempita masyarakat Bondowoso menyambut Jembatan Ki Ronggo pada 2017 lalu. Bahkan, pemerintah pada waktu itu juga menyambut dengan pembangunan wisata kuliner. Lima tahun berlalu, lantas bagaimana tujuan semestinya wisata kuliner Jembatan Ki Ronggo itu?

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Siang itu, Wisata Kuliner Jembatan Ki Ronggo sepi. Dari sekian banyak lapak penjual, terdapat satu pedagang yang buka. Sementara, lokasi di bawah yang terdapat gazebo, ada muda-mudi yang sedang berduaan.

BACA JUGA : Erick Thohir Putra Terbaik Bangsa yang Dibutuhkan Indonesia

Didik, satu-satunya pedagang yang berjualan, mengatakan, penyebab tidak adanya pedagang pada siang hari karena pembeli tak banyak. Namun, menurutnya, sebagai seorang pedagang, tentu saja harus punya kesabaran. “Ya, harus telaten menjadi pedagang, walau kondisinya sepi. Nanti lama-kelamaan pasti ada pelanggan,” katanya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Ketua Paguyuban Pedagang Kaki Lima Alun-Alun Bondowoso Mujiyati mengatakan, proyek wisata kuliner tersebut tujuan utamanya diperuntukkan PKL yang berjualan di Alun-Alun Bondowoso. Namun, dirinya mewakili para pedagang yang lain menganggap wisata kuliner tersebut tidak layak untuk dijadikan tempat berjualan. Sebab, lokasinya tidak strategis dan berbeda jauh dengan Alun-Alun Bondowoso yang berada di jantung kota.

Mujiyati menjelaskan, setelah wisata kuliner itu selesai dibangun, pemerintah sudah berupaya agar pedagang mau berjualan dan mengeluarkan rekomendasi. Harapan pemerintah, ungkap Mujiyati, kala itu, dengan adanya pedagang yang berjualan, maka secara tidak langsung pembeli akan datang sendiri.

Namun, menurutnya, bila hanya mengandalkan pedagang dan tidak ada inovasi, masyarakat tidak akan tertarik datang. “Yang dipikirkan bukan pedagangnya, tapi bagaimana meramaikannya. Mengalihkan aktivitas keramaian ke lokasi Wisata Kuliner Ki Ronggo,” tegasnya kepada Jawa Pos Radar Ijen.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Siang itu, Wisata Kuliner Jembatan Ki Ronggo sepi. Dari sekian banyak lapak penjual, terdapat satu pedagang yang buka. Sementara, lokasi di bawah yang terdapat gazebo, ada muda-mudi yang sedang berduaan.

BACA JUGA : Erick Thohir Putra Terbaik Bangsa yang Dibutuhkan Indonesia

Didik, satu-satunya pedagang yang berjualan, mengatakan, penyebab tidak adanya pedagang pada siang hari karena pembeli tak banyak. Namun, menurutnya, sebagai seorang pedagang, tentu saja harus punya kesabaran. “Ya, harus telaten menjadi pedagang, walau kondisinya sepi. Nanti lama-kelamaan pasti ada pelanggan,” katanya.

Ketua Paguyuban Pedagang Kaki Lima Alun-Alun Bondowoso Mujiyati mengatakan, proyek wisata kuliner tersebut tujuan utamanya diperuntukkan PKL yang berjualan di Alun-Alun Bondowoso. Namun, dirinya mewakili para pedagang yang lain menganggap wisata kuliner tersebut tidak layak untuk dijadikan tempat berjualan. Sebab, lokasinya tidak strategis dan berbeda jauh dengan Alun-Alun Bondowoso yang berada di jantung kota.

Mujiyati menjelaskan, setelah wisata kuliner itu selesai dibangun, pemerintah sudah berupaya agar pedagang mau berjualan dan mengeluarkan rekomendasi. Harapan pemerintah, ungkap Mujiyati, kala itu, dengan adanya pedagang yang berjualan, maka secara tidak langsung pembeli akan datang sendiri.

Namun, menurutnya, bila hanya mengandalkan pedagang dan tidak ada inovasi, masyarakat tidak akan tertarik datang. “Yang dipikirkan bukan pedagangnya, tapi bagaimana meramaikannya. Mengalihkan aktivitas keramaian ke lokasi Wisata Kuliner Ki Ronggo,” tegasnya kepada Jawa Pos Radar Ijen.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Siang itu, Wisata Kuliner Jembatan Ki Ronggo sepi. Dari sekian banyak lapak penjual, terdapat satu pedagang yang buka. Sementara, lokasi di bawah yang terdapat gazebo, ada muda-mudi yang sedang berduaan.

BACA JUGA : Erick Thohir Putra Terbaik Bangsa yang Dibutuhkan Indonesia

Didik, satu-satunya pedagang yang berjualan, mengatakan, penyebab tidak adanya pedagang pada siang hari karena pembeli tak banyak. Namun, menurutnya, sebagai seorang pedagang, tentu saja harus punya kesabaran. “Ya, harus telaten menjadi pedagang, walau kondisinya sepi. Nanti lama-kelamaan pasti ada pelanggan,” katanya.

Ketua Paguyuban Pedagang Kaki Lima Alun-Alun Bondowoso Mujiyati mengatakan, proyek wisata kuliner tersebut tujuan utamanya diperuntukkan PKL yang berjualan di Alun-Alun Bondowoso. Namun, dirinya mewakili para pedagang yang lain menganggap wisata kuliner tersebut tidak layak untuk dijadikan tempat berjualan. Sebab, lokasinya tidak strategis dan berbeda jauh dengan Alun-Alun Bondowoso yang berada di jantung kota.

Mujiyati menjelaskan, setelah wisata kuliner itu selesai dibangun, pemerintah sudah berupaya agar pedagang mau berjualan dan mengeluarkan rekomendasi. Harapan pemerintah, ungkap Mujiyati, kala itu, dengan adanya pedagang yang berjualan, maka secara tidak langsung pembeli akan datang sendiri.

Namun, menurutnya, bila hanya mengandalkan pedagang dan tidak ada inovasi, masyarakat tidak akan tertarik datang. “Yang dipikirkan bukan pedagangnya, tapi bagaimana meramaikannya. Mengalihkan aktivitas keramaian ke lokasi Wisata Kuliner Ki Ronggo,” tegasnya kepada Jawa Pos Radar Ijen.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/