alexametrics
31.1 C
Jember
Sunday, 29 May 2022

Harga Kayu Naik, Siasati Finishing

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pandemi Covid-19 menang belum berakhir. Walau begitu, ekonomi lambat laun membaik. Sayangnya, ongkos produksi di sektor mebel justru mengalami kenaikan. Seperti yang terjadi pada sejumlah perajin mebel di Kelurahan Pejaten.

Hasan Basrizal, pemilik Jawa Dwipa Mebel dari Kelurahan Pejaten, Kecamatan Bondowoso, mengatakan, pada awal pandemi memang terjadi penurunan penjualan. Namun, dua tahun pandemi, penjualan mulai berangsur membaik. Bahkan, sudah ke arah 50 persen dari keadaan normal.

Sayangnya, kondisi yang mulai membaik itu tidak diiringi dengan harga kayu sebagai bahan utama pembuatan mebel. Sementara, ketika pihaknya ingin menaikkan barang hasil produksinya, banyak toko yang tidak mau mengambil atau membeli.

Mobile_AP_Rectangle 2

Biasanya barang hasil produksi di tempatnya, Hasan biasanya menjual ke luar daerah, seperti Kabupaten Jember, Banyuwangi, dan Situbondo. Sementara saat pandemi melanda, menurutnya, Kabupaten Jember sudah tidak mau lagi mengambil barang miliknya.

Melihat hal tersebut, pihaknya mengaku terpaksa harus meminimalisasi bahan finishing yang digunakan untuk setiap barangnya. Serta mengurangi jumlah produksinya. Agar para karyawan tetap bekerja sebagaimana mestinya. Sebab, ia mengaku merasa kasihan jika harus melakukan pemberhentian kepada mereka. “Ya, jadi otomatis kita mengurangi jumlah produksi saja,” jelasnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pandemi Covid-19 menang belum berakhir. Walau begitu, ekonomi lambat laun membaik. Sayangnya, ongkos produksi di sektor mebel justru mengalami kenaikan. Seperti yang terjadi pada sejumlah perajin mebel di Kelurahan Pejaten.

Hasan Basrizal, pemilik Jawa Dwipa Mebel dari Kelurahan Pejaten, Kecamatan Bondowoso, mengatakan, pada awal pandemi memang terjadi penurunan penjualan. Namun, dua tahun pandemi, penjualan mulai berangsur membaik. Bahkan, sudah ke arah 50 persen dari keadaan normal.

Sayangnya, kondisi yang mulai membaik itu tidak diiringi dengan harga kayu sebagai bahan utama pembuatan mebel. Sementara, ketika pihaknya ingin menaikkan barang hasil produksinya, banyak toko yang tidak mau mengambil atau membeli.

Biasanya barang hasil produksi di tempatnya, Hasan biasanya menjual ke luar daerah, seperti Kabupaten Jember, Banyuwangi, dan Situbondo. Sementara saat pandemi melanda, menurutnya, Kabupaten Jember sudah tidak mau lagi mengambil barang miliknya.

Melihat hal tersebut, pihaknya mengaku terpaksa harus meminimalisasi bahan finishing yang digunakan untuk setiap barangnya. Serta mengurangi jumlah produksinya. Agar para karyawan tetap bekerja sebagaimana mestinya. Sebab, ia mengaku merasa kasihan jika harus melakukan pemberhentian kepada mereka. “Ya, jadi otomatis kita mengurangi jumlah produksi saja,” jelasnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Pandemi Covid-19 menang belum berakhir. Walau begitu, ekonomi lambat laun membaik. Sayangnya, ongkos produksi di sektor mebel justru mengalami kenaikan. Seperti yang terjadi pada sejumlah perajin mebel di Kelurahan Pejaten.

Hasan Basrizal, pemilik Jawa Dwipa Mebel dari Kelurahan Pejaten, Kecamatan Bondowoso, mengatakan, pada awal pandemi memang terjadi penurunan penjualan. Namun, dua tahun pandemi, penjualan mulai berangsur membaik. Bahkan, sudah ke arah 50 persen dari keadaan normal.

Sayangnya, kondisi yang mulai membaik itu tidak diiringi dengan harga kayu sebagai bahan utama pembuatan mebel. Sementara, ketika pihaknya ingin menaikkan barang hasil produksinya, banyak toko yang tidak mau mengambil atau membeli.

Biasanya barang hasil produksi di tempatnya, Hasan biasanya menjual ke luar daerah, seperti Kabupaten Jember, Banyuwangi, dan Situbondo. Sementara saat pandemi melanda, menurutnya, Kabupaten Jember sudah tidak mau lagi mengambil barang miliknya.

Melihat hal tersebut, pihaknya mengaku terpaksa harus meminimalisasi bahan finishing yang digunakan untuk setiap barangnya. Serta mengurangi jumlah produksinya. Agar para karyawan tetap bekerja sebagaimana mestinya. Sebab, ia mengaku merasa kasihan jika harus melakukan pemberhentian kepada mereka. “Ya, jadi otomatis kita mengurangi jumlah produksi saja,” jelasnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/