alexametrics
28.7 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Dirawat Turun Temurun Sebagai Warisan

Masih ada Tanian Lanjheng Di Bondowoso. Tanian Lanjheng merupakan sebutan untuk pemukiman khas suku Madura. Rumah-rumah yang ada, sengaja dibangun dengan berhadap-hadapan. Menghadap ke selatan dan ke utara. Di ujung paling barat tepatnya di tengah-tengah rumah yang saling berhadapan tersebut, pasti terdapat musalla.

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tanian Lanjheng, dahulu banyak menghiasi Kabupaten Bondowoso. Tapi, saat ini keberadaannya sudah sangat jarang. Masyarakat banyak yang sudah mengganti model rumahnya. Namun ada beberapa warga yang tetap mempertahankan rumah adat tersebut. Andri Mustofa, misalnya. Pria asal Desa Ramban Kulon, Cermee ini tetap mempertahankan rumah adat tersebut hingga kini. Bahkan ada wacana untuk dijadikan sebagai salah satu objek eduwisata.

“Secara alamiah kami tinggalnya di rumah-rumah seperti ini. Sejak saya kecil memang sudah seperti ini, bahkan waktu ibu bapak saya kecil dulu memang sudah seperti ini. Apalagi orang dulu itu kan membangun sesuai dengan filosofi tersendiri,” ungkap Andri.

Pada rumah adat ini, orang-orangnya masih satu keluarga. Mengikat satu sama lain. Terdiri dari orang tua, anak, cucu dan seterusnya. “Memang ini satu keluarga ya,” tegasnya. Ikatan keluarga kandung, merupakan salah satu ciri khas dari Tanian Lanjheng.

Mobile_AP_Rectangle 2

Andri menjelaskan, terdapat beberapa perbedaan antara rumah adat Madura dan rumah Jawa. Keduanya sama-sama menggunakan kayu sebagai bahan utamanya. Tapi secara arsitekturalnya berbeda. Hal itu juga memiliki makna tersendiri sesuai dengan keadaan masyarakatnya.

Perbedaan paling mencolok dari rumah adat adalah penempatan ruang tamu. “Kalau orang Madura ruang tamunya diluar. Sedangkan orang Jawa ruang tamunya di dalam. Itu salah satu perbedaannya dari sisi konstruksi rumahnya,” jelasnya. Secara filolofis hal tersebut bermakna bahwa orang madura cenderung ekstrovet (terbuka) sementara orang Jawa cenderung introvet (tertutup).

Alumnus UIN Sunan kalijaga Yogyakarta tersebut juga menyampaikan, walaupun rumah-rumah ditempatnya sudah direnovasi, tetapi masih mempertahankan keasliannya. Selain posisi rumah yang tidak berubah, dirinya juga mempertahankan material bangunannya tetap menggunakan kayu jati. “Ini cenderung masih asli, cuma memang ada beberapa tambahan. Kami coba mempertahankan rumus arsitekturalnya.” ujarnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tanian Lanjheng, dahulu banyak menghiasi Kabupaten Bondowoso. Tapi, saat ini keberadaannya sudah sangat jarang. Masyarakat banyak yang sudah mengganti model rumahnya. Namun ada beberapa warga yang tetap mempertahankan rumah adat tersebut. Andri Mustofa, misalnya. Pria asal Desa Ramban Kulon, Cermee ini tetap mempertahankan rumah adat tersebut hingga kini. Bahkan ada wacana untuk dijadikan sebagai salah satu objek eduwisata.

“Secara alamiah kami tinggalnya di rumah-rumah seperti ini. Sejak saya kecil memang sudah seperti ini, bahkan waktu ibu bapak saya kecil dulu memang sudah seperti ini. Apalagi orang dulu itu kan membangun sesuai dengan filosofi tersendiri,” ungkap Andri.

Pada rumah adat ini, orang-orangnya masih satu keluarga. Mengikat satu sama lain. Terdiri dari orang tua, anak, cucu dan seterusnya. “Memang ini satu keluarga ya,” tegasnya. Ikatan keluarga kandung, merupakan salah satu ciri khas dari Tanian Lanjheng.

Andri menjelaskan, terdapat beberapa perbedaan antara rumah adat Madura dan rumah Jawa. Keduanya sama-sama menggunakan kayu sebagai bahan utamanya. Tapi secara arsitekturalnya berbeda. Hal itu juga memiliki makna tersendiri sesuai dengan keadaan masyarakatnya.

Perbedaan paling mencolok dari rumah adat adalah penempatan ruang tamu. “Kalau orang Madura ruang tamunya diluar. Sedangkan orang Jawa ruang tamunya di dalam. Itu salah satu perbedaannya dari sisi konstruksi rumahnya,” jelasnya. Secara filolofis hal tersebut bermakna bahwa orang madura cenderung ekstrovet (terbuka) sementara orang Jawa cenderung introvet (tertutup).

Alumnus UIN Sunan kalijaga Yogyakarta tersebut juga menyampaikan, walaupun rumah-rumah ditempatnya sudah direnovasi, tetapi masih mempertahankan keasliannya. Selain posisi rumah yang tidak berubah, dirinya juga mempertahankan material bangunannya tetap menggunakan kayu jati. “Ini cenderung masih asli, cuma memang ada beberapa tambahan. Kami coba mempertahankan rumus arsitekturalnya.” ujarnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Tanian Lanjheng, dahulu banyak menghiasi Kabupaten Bondowoso. Tapi, saat ini keberadaannya sudah sangat jarang. Masyarakat banyak yang sudah mengganti model rumahnya. Namun ada beberapa warga yang tetap mempertahankan rumah adat tersebut. Andri Mustofa, misalnya. Pria asal Desa Ramban Kulon, Cermee ini tetap mempertahankan rumah adat tersebut hingga kini. Bahkan ada wacana untuk dijadikan sebagai salah satu objek eduwisata.

“Secara alamiah kami tinggalnya di rumah-rumah seperti ini. Sejak saya kecil memang sudah seperti ini, bahkan waktu ibu bapak saya kecil dulu memang sudah seperti ini. Apalagi orang dulu itu kan membangun sesuai dengan filosofi tersendiri,” ungkap Andri.

Pada rumah adat ini, orang-orangnya masih satu keluarga. Mengikat satu sama lain. Terdiri dari orang tua, anak, cucu dan seterusnya. “Memang ini satu keluarga ya,” tegasnya. Ikatan keluarga kandung, merupakan salah satu ciri khas dari Tanian Lanjheng.

Andri menjelaskan, terdapat beberapa perbedaan antara rumah adat Madura dan rumah Jawa. Keduanya sama-sama menggunakan kayu sebagai bahan utamanya. Tapi secara arsitekturalnya berbeda. Hal itu juga memiliki makna tersendiri sesuai dengan keadaan masyarakatnya.

Perbedaan paling mencolok dari rumah adat adalah penempatan ruang tamu. “Kalau orang Madura ruang tamunya diluar. Sedangkan orang Jawa ruang tamunya di dalam. Itu salah satu perbedaannya dari sisi konstruksi rumahnya,” jelasnya. Secara filolofis hal tersebut bermakna bahwa orang madura cenderung ekstrovet (terbuka) sementara orang Jawa cenderung introvet (tertutup).

Alumnus UIN Sunan kalijaga Yogyakarta tersebut juga menyampaikan, walaupun rumah-rumah ditempatnya sudah direnovasi, tetapi masih mempertahankan keasliannya. Selain posisi rumah yang tidak berubah, dirinya juga mempertahankan material bangunannya tetap menggunakan kayu jati. “Ini cenderung masih asli, cuma memang ada beberapa tambahan. Kami coba mempertahankan rumus arsitekturalnya.” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/