alexametrics
31 C
Jember
Monday, 23 May 2022

Banyak Situs Ijen Geopark Masuk Lahan Perhutani

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Dari 16 situs atau tempat wisata yang masuk Ijen Geopark dan diajukan ke UNESCO Global Geopark (UGG), beberapa di antaranya berada di lahan milik Perhutani KPH Bondowoso, khususnya di daerah Ijen.  Di antaranya Kawah Wurung, Lava Blawan, Aliran Lava Plalangan, Dinding Kaldera Ijen Megasari, dan Taman Batu So’on Solor.

Andi Adrian Hidayat Adm Perhutani KPH Bondowoso, mengatakan, bentuk dukungannya adalah mengedukasi masyarakat. Agar petani yang memanfaatkan lahan Perhutani bisa sejahtera. Adapun edukasi yang dimaksud  yakni masyarakat bisa bertani namun tetap tidak merusak hutan.

“Apalagi di geopark ada konsep, bahwa masyarakat sekitar bisa mendapatkan manfaat dari sumber daya alam. Geopark jalan, pemanfaatan sosial ekonomi masyarakat juga jalan,” paparnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Sehingga nanti ketika ada penilaian, ternyata masyarakat sudah bisa sejahtera. Namun demikian kata dia, ketika geopark sudah jalan petani diharapkan tidak lagi bergantung ke pertanian kentang. “Ketika wisata maju bisa beralih ke kopi, bukan lagi kentang. Tapi untuk membuat mereka tidak bergantung ke kentang butuh waktu, karena berbicara perut,” jelasnya.

Pihaknya juga mempertegas dan membuat pernyataan, bahwa petani tetap akan menjaga hutan. Satu-satunya cara adalah evaluasi rutin. Per petani bukan per petak.  “Kalau benar bertaninya tidak akan ditutup. Tapi kalau menyimpang kita tutup. Ke depan lebih selektif,” paparnya.

Data dihimpun, di kawasan Ijen total ada 3.500 KK yang memanfaatkan lahan Perhutani. Setiap KK maksimal 2 hektar, sehingga total ada 7.000 hektar yang bisa imanfaatkan untuk pertanian. Dia juga memaparkan, bahwa Ijen Geopark itu sesungguhnya mempertahankan kondisi yang ada. Dengan kekhasannya. Kondisi Batu So’on dan Kawah Wurung tetap seperti itu. Termasuk situs yang lain.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Dari 16 situs atau tempat wisata yang masuk Ijen Geopark dan diajukan ke UNESCO Global Geopark (UGG), beberapa di antaranya berada di lahan milik Perhutani KPH Bondowoso, khususnya di daerah Ijen.  Di antaranya Kawah Wurung, Lava Blawan, Aliran Lava Plalangan, Dinding Kaldera Ijen Megasari, dan Taman Batu So’on Solor.

Andi Adrian Hidayat Adm Perhutani KPH Bondowoso, mengatakan, bentuk dukungannya adalah mengedukasi masyarakat. Agar petani yang memanfaatkan lahan Perhutani bisa sejahtera. Adapun edukasi yang dimaksud  yakni masyarakat bisa bertani namun tetap tidak merusak hutan.

“Apalagi di geopark ada konsep, bahwa masyarakat sekitar bisa mendapatkan manfaat dari sumber daya alam. Geopark jalan, pemanfaatan sosial ekonomi masyarakat juga jalan,” paparnya.

Sehingga nanti ketika ada penilaian, ternyata masyarakat sudah bisa sejahtera. Namun demikian kata dia, ketika geopark sudah jalan petani diharapkan tidak lagi bergantung ke pertanian kentang. “Ketika wisata maju bisa beralih ke kopi, bukan lagi kentang. Tapi untuk membuat mereka tidak bergantung ke kentang butuh waktu, karena berbicara perut,” jelasnya.

Pihaknya juga mempertegas dan membuat pernyataan, bahwa petani tetap akan menjaga hutan. Satu-satunya cara adalah evaluasi rutin. Per petani bukan per petak.  “Kalau benar bertaninya tidak akan ditutup. Tapi kalau menyimpang kita tutup. Ke depan lebih selektif,” paparnya.

Data dihimpun, di kawasan Ijen total ada 3.500 KK yang memanfaatkan lahan Perhutani. Setiap KK maksimal 2 hektar, sehingga total ada 7.000 hektar yang bisa imanfaatkan untuk pertanian. Dia juga memaparkan, bahwa Ijen Geopark itu sesungguhnya mempertahankan kondisi yang ada. Dengan kekhasannya. Kondisi Batu So’on dan Kawah Wurung tetap seperti itu. Termasuk situs yang lain.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Dari 16 situs atau tempat wisata yang masuk Ijen Geopark dan diajukan ke UNESCO Global Geopark (UGG), beberapa di antaranya berada di lahan milik Perhutani KPH Bondowoso, khususnya di daerah Ijen.  Di antaranya Kawah Wurung, Lava Blawan, Aliran Lava Plalangan, Dinding Kaldera Ijen Megasari, dan Taman Batu So’on Solor.

Andi Adrian Hidayat Adm Perhutani KPH Bondowoso, mengatakan, bentuk dukungannya adalah mengedukasi masyarakat. Agar petani yang memanfaatkan lahan Perhutani bisa sejahtera. Adapun edukasi yang dimaksud  yakni masyarakat bisa bertani namun tetap tidak merusak hutan.

“Apalagi di geopark ada konsep, bahwa masyarakat sekitar bisa mendapatkan manfaat dari sumber daya alam. Geopark jalan, pemanfaatan sosial ekonomi masyarakat juga jalan,” paparnya.

Sehingga nanti ketika ada penilaian, ternyata masyarakat sudah bisa sejahtera. Namun demikian kata dia, ketika geopark sudah jalan petani diharapkan tidak lagi bergantung ke pertanian kentang. “Ketika wisata maju bisa beralih ke kopi, bukan lagi kentang. Tapi untuk membuat mereka tidak bergantung ke kentang butuh waktu, karena berbicara perut,” jelasnya.

Pihaknya juga mempertegas dan membuat pernyataan, bahwa petani tetap akan menjaga hutan. Satu-satunya cara adalah evaluasi rutin. Per petani bukan per petak.  “Kalau benar bertaninya tidak akan ditutup. Tapi kalau menyimpang kita tutup. Ke depan lebih selektif,” paparnya.

Data dihimpun, di kawasan Ijen total ada 3.500 KK yang memanfaatkan lahan Perhutani. Setiap KK maksimal 2 hektar, sehingga total ada 7.000 hektar yang bisa imanfaatkan untuk pertanian. Dia juga memaparkan, bahwa Ijen Geopark itu sesungguhnya mempertahankan kondisi yang ada. Dengan kekhasannya. Kondisi Batu So’on dan Kawah Wurung tetap seperti itu. Termasuk situs yang lain.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/