26.8 C
Jember
Sunday, 2 April 2023

Melihat Perkembangan Satu Tahun Gelida di Bondowoso

Untuk meningkatkan minat baca masyarakat, Pemerintah Kabupaten Bondowoso sudah meluncurkan program Gerakan Literasi Daerah (Gelida) pada 2021 lalu. Terdapat empat segmen yang menjadi sasaran program literasi itu. Mulai dari keluarga hingga instansi pemerintahan. Bagaimana perkembangannya saat ini?

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Literasi merupakan kegiatan membaca dan menulis yang perlu dilakukan untuk menambah pengetahuan. Dalam upaya meningkatkan literasi masyarakat di Bondowoso, Pemkab Bondowoso sudah memiliki inovasi yang dikenal dengan Gelida. Inovasi tersebut tidak hanya ditujukan pada perpustakaan, tapi juga pada segmen keluarga, instansi, pemerintahan, hingga sekolah.

Terdapat empat segmen dalam program Gelida. Di antaranya segmen instansi dengan program Sudut Baca Referensi Instansi (Subari). Diwujudkan dalam penyediaan sudut baca referensi di masing-masing instansi. Ternyata pada pelaksanaannya belum semua instansi pemerintah merealisasikan program tersebut.

Salah satu penyebabnya, inovasi ini diluncurkan di tengah refocusing anggaran akibat pandemi Covid-19. Sementara, untuk mengadakan sudut baca itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Baik untuk pengadaan buku-bukunya maupun peralatan lain, seperti rak dan sebagainya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bondowoso Alun Taufana Sulistyadi, setelah mengikuti acara talk show sosialisasi budaya baca dan literasi dalam rangka pembudayaan membaca di Jawa Timur tahun 2022, Senin (7/2).

Menurut Alun, Subari merupakan inovasi yang bertujuan untuk meningkatkan sumber daya manusia atau aparatur sipil negara (ASN) yang ada di lembaga Pemerintahan Bondowoso. Antarbidang dalam satu instansi juga dapat memahami tugas dan fungsinya. Sehingga para ASN diharapkan dapat meningkatkan kompetensi masing-masing OPD. “Saya pengalaman di suatu OPD. ┬áBidang satu tidak tahu tugas bidang yang lainnya,” katanya.

Upaya sosialisasi sudah dilakukan oleh pihaknya kepada sejumlah pihak terkait. Termasuk kepada sekolah-sekolah yang ada di Bondowoso. Sekolah juga merupakan salah satu segmen Gelida. Dalam menguatkan literasi di sekolah, inovasi ini diwujudkan dalam Aksi Panggung Hari Selasa, Kamis, dan Sabtu (Parisakatu). Ditambah program Gerakan Ibu Mendongeng (Gendongan). Serta program Peminjaman untuk Lembaga dan Sekolah (Jambu Ules) untuk segmen masyarakat.

Lebih lanjut, program Parisakatu sudah mendapatkan perhatian dari beberapa sekolah. Bahkan, sejumlah pihak sekolah juga meresmikan dan melaksanakan kegiatan itu. Organisasi kemasyarakatan Fatayat NU Bondowoso juga mengikuti inovasi Gelida ini. “Mereka punya kegiatan Geliyat, Gerakan Literasi Fatayat NU,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Bondowoso Salwa Arifin mengatakan, persiapan Gelida sudah dilakukan secara maksimal. Dibuktikan dengan adanya regulasi terkait program itu, mulai dari peraturan daerah (perda), peraturan bupati (perbup), serta instruksi bupati dalam rangka Gerakan Literasi Daerah. “Gelida terus kita lanjutkan pada tahun-tahun selanjutnya dengan lebih semangat lagi,” tuturnya.

Selain itu, Salwa juga berharap Gelida dapat membuat cita-cita Bondowoso Melesat tercapai. Menurut dia, untuk mencapai tujuan itu, tentu tidak akan bisa tanpa dukungan dari semua pihak. “Baik pemerintah pusat, daerah, satuan pendidikan, maupun masyarakat pada umumnya,” tandasnya. (c2/lin)

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Literasi merupakan kegiatan membaca dan menulis yang perlu dilakukan untuk menambah pengetahuan. Dalam upaya meningkatkan literasi masyarakat di Bondowoso, Pemkab Bondowoso sudah memiliki inovasi yang dikenal dengan Gelida. Inovasi tersebut tidak hanya ditujukan pada perpustakaan, tapi juga pada segmen keluarga, instansi, pemerintahan, hingga sekolah.

Terdapat empat segmen dalam program Gelida. Di antaranya segmen instansi dengan program Sudut Baca Referensi Instansi (Subari). Diwujudkan dalam penyediaan sudut baca referensi di masing-masing instansi. Ternyata pada pelaksanaannya belum semua instansi pemerintah merealisasikan program tersebut.

Salah satu penyebabnya, inovasi ini diluncurkan di tengah refocusing anggaran akibat pandemi Covid-19. Sementara, untuk mengadakan sudut baca itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Baik untuk pengadaan buku-bukunya maupun peralatan lain, seperti rak dan sebagainya.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bondowoso Alun Taufana Sulistyadi, setelah mengikuti acara talk show sosialisasi budaya baca dan literasi dalam rangka pembudayaan membaca di Jawa Timur tahun 2022, Senin (7/2).

Menurut Alun, Subari merupakan inovasi yang bertujuan untuk meningkatkan sumber daya manusia atau aparatur sipil negara (ASN) yang ada di lembaga Pemerintahan Bondowoso. Antarbidang dalam satu instansi juga dapat memahami tugas dan fungsinya. Sehingga para ASN diharapkan dapat meningkatkan kompetensi masing-masing OPD. “Saya pengalaman di suatu OPD. ┬áBidang satu tidak tahu tugas bidang yang lainnya,” katanya.

Upaya sosialisasi sudah dilakukan oleh pihaknya kepada sejumlah pihak terkait. Termasuk kepada sekolah-sekolah yang ada di Bondowoso. Sekolah juga merupakan salah satu segmen Gelida. Dalam menguatkan literasi di sekolah, inovasi ini diwujudkan dalam Aksi Panggung Hari Selasa, Kamis, dan Sabtu (Parisakatu). Ditambah program Gerakan Ibu Mendongeng (Gendongan). Serta program Peminjaman untuk Lembaga dan Sekolah (Jambu Ules) untuk segmen masyarakat.

Lebih lanjut, program Parisakatu sudah mendapatkan perhatian dari beberapa sekolah. Bahkan, sejumlah pihak sekolah juga meresmikan dan melaksanakan kegiatan itu. Organisasi kemasyarakatan Fatayat NU Bondowoso juga mengikuti inovasi Gelida ini. “Mereka punya kegiatan Geliyat, Gerakan Literasi Fatayat NU,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Bondowoso Salwa Arifin mengatakan, persiapan Gelida sudah dilakukan secara maksimal. Dibuktikan dengan adanya regulasi terkait program itu, mulai dari peraturan daerah (perda), peraturan bupati (perbup), serta instruksi bupati dalam rangka Gerakan Literasi Daerah. “Gelida terus kita lanjutkan pada tahun-tahun selanjutnya dengan lebih semangat lagi,” tuturnya.

Selain itu, Salwa juga berharap Gelida dapat membuat cita-cita Bondowoso Melesat tercapai. Menurut dia, untuk mencapai tujuan itu, tentu tidak akan bisa tanpa dukungan dari semua pihak. “Baik pemerintah pusat, daerah, satuan pendidikan, maupun masyarakat pada umumnya,” tandasnya. (c2/lin)

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Literasi merupakan kegiatan membaca dan menulis yang perlu dilakukan untuk menambah pengetahuan. Dalam upaya meningkatkan literasi masyarakat di Bondowoso, Pemkab Bondowoso sudah memiliki inovasi yang dikenal dengan Gelida. Inovasi tersebut tidak hanya ditujukan pada perpustakaan, tapi juga pada segmen keluarga, instansi, pemerintahan, hingga sekolah.

Terdapat empat segmen dalam program Gelida. Di antaranya segmen instansi dengan program Sudut Baca Referensi Instansi (Subari). Diwujudkan dalam penyediaan sudut baca referensi di masing-masing instansi. Ternyata pada pelaksanaannya belum semua instansi pemerintah merealisasikan program tersebut.

Salah satu penyebabnya, inovasi ini diluncurkan di tengah refocusing anggaran akibat pandemi Covid-19. Sementara, untuk mengadakan sudut baca itu membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Baik untuk pengadaan buku-bukunya maupun peralatan lain, seperti rak dan sebagainya.

Hal itu diungkapkan oleh Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Bondowoso Alun Taufana Sulistyadi, setelah mengikuti acara talk show sosialisasi budaya baca dan literasi dalam rangka pembudayaan membaca di Jawa Timur tahun 2022, Senin (7/2).

Menurut Alun, Subari merupakan inovasi yang bertujuan untuk meningkatkan sumber daya manusia atau aparatur sipil negara (ASN) yang ada di lembaga Pemerintahan Bondowoso. Antarbidang dalam satu instansi juga dapat memahami tugas dan fungsinya. Sehingga para ASN diharapkan dapat meningkatkan kompetensi masing-masing OPD. “Saya pengalaman di suatu OPD. ┬áBidang satu tidak tahu tugas bidang yang lainnya,” katanya.

Upaya sosialisasi sudah dilakukan oleh pihaknya kepada sejumlah pihak terkait. Termasuk kepada sekolah-sekolah yang ada di Bondowoso. Sekolah juga merupakan salah satu segmen Gelida. Dalam menguatkan literasi di sekolah, inovasi ini diwujudkan dalam Aksi Panggung Hari Selasa, Kamis, dan Sabtu (Parisakatu). Ditambah program Gerakan Ibu Mendongeng (Gendongan). Serta program Peminjaman untuk Lembaga dan Sekolah (Jambu Ules) untuk segmen masyarakat.

Lebih lanjut, program Parisakatu sudah mendapatkan perhatian dari beberapa sekolah. Bahkan, sejumlah pihak sekolah juga meresmikan dan melaksanakan kegiatan itu. Organisasi kemasyarakatan Fatayat NU Bondowoso juga mengikuti inovasi Gelida ini. “Mereka punya kegiatan Geliyat, Gerakan Literasi Fatayat NU,” imbuhnya.

Sementara itu, Bupati Bondowoso Salwa Arifin mengatakan, persiapan Gelida sudah dilakukan secara maksimal. Dibuktikan dengan adanya regulasi terkait program itu, mulai dari peraturan daerah (perda), peraturan bupati (perbup), serta instruksi bupati dalam rangka Gerakan Literasi Daerah. “Gelida terus kita lanjutkan pada tahun-tahun selanjutnya dengan lebih semangat lagi,” tuturnya.

Selain itu, Salwa juga berharap Gelida dapat membuat cita-cita Bondowoso Melesat tercapai. Menurut dia, untuk mencapai tujuan itu, tentu tidak akan bisa tanpa dukungan dari semua pihak. “Baik pemerintah pusat, daerah, satuan pendidikan, maupun masyarakat pada umumnya,” tandasnya. (c2/lin)

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca