alexametrics
29.5 C
Jember
Wednesday, 5 October 2022

Pertahankan Kebiasaan Tradisional Jawa, Gamelan Sebagai Media Dakwah

Melihat Ponpes Mamba'ul Falah

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – SEBUAH pondok pesantren (ponpes) dengan bangunan bermodel Jawa kuno di Kecamatan Tamanan, seakan menjadi peninggalan di masa kerajaan. Bentuk gerbang masuk penuh ukiran menggambarkan budaya kehidupan lama. Tak hanya bangunannya, suasana juga tergambar pada budi luhur dan tata krama para santri yang menundukkan badan saat berjumpa dengan yang lebih tua. Inilah ponpes Mambaul Falah yang berada di Dusun Moncek, Desa Wonosuko, Kecamatan Tamanan dan jaraknya 14 kilometer dari Alun-alun Bondowoso.

Padukan Pencak Silat Jawa dan Madura

Mengunjugi Ponpes Mambaul Falah yang melewati jalan desa tersebut langsung disajikan sebuah pagar dengan batu bata ekspos. Bangunan khas jawa itu di Ponpes tersebut seperti berada di desa adat yang kerap dikunjungi wisatawan seperti di Desa Bejijong, Trowulan, Mojokerto saja.

Mobile_AP_Rectangle 2

Suasana Jawa itu semakin lengkap saat berjumpa dengan para santri. Ya santri di sana, tidak selalu memakai baju muslim seperti kebanyakan ponpes pada umumnya. Tapi baju surjan untuk santri dan kebaya yang dikenakan santri putri. Hal itu menandakan bahwa warisan leluhur Jawa dijadikan sebagai kebiasaan.

Memasuki lebih dalam lagi pesanteren tersebut, terdapat tulisan hanacarakan yang menempel di dinding gedung. Suasana semakin nyaman, dengan bunyi burung perkutut. Terlihat seorang ustad yang juga kenakan baju khas jawa dengan blangkon di kepalanya sedang menjelaskan karya kitab berbahasa Indonesia dengan judul Condong tresno. “Ini merupakan karya santri,” ucap Fandi Ika Maulana yang menjadi pengajar Ponpes Mambaul Falah.

Dia mengatakan, warisan para leluhur perlu untuk dirawat dan dijaga. Ditengah krisisnya moral saat ini, pesantren hadir untuk tetap melestarikan budi pekerti bagi para generasi muda saat ini. Fandi yang juga pengurus Ponpes Mambaul Falah menyampaikan, pesantren yang usianya masih muda yaitu berdiri 2012 tersebut juga pernah mendapatkan cobaan.

Salah satunya saat metode dakwah dengan gamelan sempat menuai penolakan dari masyarakat. Penolakan itu terjadi disebabkan oleh budaya berpakaian serta metode dakwah yang dianggap tidak layak diterapkan dalam dunia pesantren. “Masyarakat sini rata-rata alumni pesantren Sumberwringin, Sukowono, Jember. Akhirnya, kami buat pengajian dan mengundang Kyai Sumberwringin sebagai pembicara. Dari situ masyarakat mulai menerima keberadaan pesantren ini,” ungkapnya.

Menurutnya desain pesantren itu murni hasil pemikiran  Kyai Ahmad Kamaluddin. Menurutnya pembangunan dilakukan secara bertahap dan Desain bangunan sengaja dibuat model kuno untuk merawat tradisi dan budaya para leluhur. “Semua santri mengikuti warisan adat Jawa, meski ada yang dari luar jawa,” ucapnya.

Pesantren asuhan Kiyai Ahmad Kamaluddin ini keberadaannya belum lama. Berdirinya pesantren ini terhitung sejak tahun 2012. Kemasan pesantren berbudaya khas Jawa ini berdiri sendiri tanpa ada sentuhan bantuan dari siapapun. Termasuk pemerintah Bondowoso yang saat ini mengutarakan untuk menjadikan pesantren itu sebagai wisata religi. “Tidak pernah menerima bantuan. Dari awal memang tidak berharap, khawatir tidak merdeka saat menjalankan semua program pesantren,” tegasnya.

Jurnalis: Zaini Dahlan
Fotografer: Zaini Dahlan
Editor: Dwi Siswanto

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – SEBUAH pondok pesantren (ponpes) dengan bangunan bermodel Jawa kuno di Kecamatan Tamanan, seakan menjadi peninggalan di masa kerajaan. Bentuk gerbang masuk penuh ukiran menggambarkan budaya kehidupan lama. Tak hanya bangunannya, suasana juga tergambar pada budi luhur dan tata krama para santri yang menundukkan badan saat berjumpa dengan yang lebih tua. Inilah ponpes Mambaul Falah yang berada di Dusun Moncek, Desa Wonosuko, Kecamatan Tamanan dan jaraknya 14 kilometer dari Alun-alun Bondowoso.

Padukan Pencak Silat Jawa dan Madura

Mengunjugi Ponpes Mambaul Falah yang melewati jalan desa tersebut langsung disajikan sebuah pagar dengan batu bata ekspos. Bangunan khas jawa itu di Ponpes tersebut seperti berada di desa adat yang kerap dikunjungi wisatawan seperti di Desa Bejijong, Trowulan, Mojokerto saja.

Suasana Jawa itu semakin lengkap saat berjumpa dengan para santri. Ya santri di sana, tidak selalu memakai baju muslim seperti kebanyakan ponpes pada umumnya. Tapi baju surjan untuk santri dan kebaya yang dikenakan santri putri. Hal itu menandakan bahwa warisan leluhur Jawa dijadikan sebagai kebiasaan.

Memasuki lebih dalam lagi pesanteren tersebut, terdapat tulisan hanacarakan yang menempel di dinding gedung. Suasana semakin nyaman, dengan bunyi burung perkutut. Terlihat seorang ustad yang juga kenakan baju khas jawa dengan blangkon di kepalanya sedang menjelaskan karya kitab berbahasa Indonesia dengan judul Condong tresno. “Ini merupakan karya santri,” ucap Fandi Ika Maulana yang menjadi pengajar Ponpes Mambaul Falah.

Dia mengatakan, warisan para leluhur perlu untuk dirawat dan dijaga. Ditengah krisisnya moral saat ini, pesantren hadir untuk tetap melestarikan budi pekerti bagi para generasi muda saat ini. Fandi yang juga pengurus Ponpes Mambaul Falah menyampaikan, pesantren yang usianya masih muda yaitu berdiri 2012 tersebut juga pernah mendapatkan cobaan.

Salah satunya saat metode dakwah dengan gamelan sempat menuai penolakan dari masyarakat. Penolakan itu terjadi disebabkan oleh budaya berpakaian serta metode dakwah yang dianggap tidak layak diterapkan dalam dunia pesantren. “Masyarakat sini rata-rata alumni pesantren Sumberwringin, Sukowono, Jember. Akhirnya, kami buat pengajian dan mengundang Kyai Sumberwringin sebagai pembicara. Dari situ masyarakat mulai menerima keberadaan pesantren ini,” ungkapnya.

Menurutnya desain pesantren itu murni hasil pemikiran  Kyai Ahmad Kamaluddin. Menurutnya pembangunan dilakukan secara bertahap dan Desain bangunan sengaja dibuat model kuno untuk merawat tradisi dan budaya para leluhur. “Semua santri mengikuti warisan adat Jawa, meski ada yang dari luar jawa,” ucapnya.

Pesantren asuhan Kiyai Ahmad Kamaluddin ini keberadaannya belum lama. Berdirinya pesantren ini terhitung sejak tahun 2012. Kemasan pesantren berbudaya khas Jawa ini berdiri sendiri tanpa ada sentuhan bantuan dari siapapun. Termasuk pemerintah Bondowoso yang saat ini mengutarakan untuk menjadikan pesantren itu sebagai wisata religi. “Tidak pernah menerima bantuan. Dari awal memang tidak berharap, khawatir tidak merdeka saat menjalankan semua program pesantren,” tegasnya.

Jurnalis: Zaini Dahlan
Fotografer: Zaini Dahlan
Editor: Dwi Siswanto

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – SEBUAH pondok pesantren (ponpes) dengan bangunan bermodel Jawa kuno di Kecamatan Tamanan, seakan menjadi peninggalan di masa kerajaan. Bentuk gerbang masuk penuh ukiran menggambarkan budaya kehidupan lama. Tak hanya bangunannya, suasana juga tergambar pada budi luhur dan tata krama para santri yang menundukkan badan saat berjumpa dengan yang lebih tua. Inilah ponpes Mambaul Falah yang berada di Dusun Moncek, Desa Wonosuko, Kecamatan Tamanan dan jaraknya 14 kilometer dari Alun-alun Bondowoso.

Padukan Pencak Silat Jawa dan Madura

Mengunjugi Ponpes Mambaul Falah yang melewati jalan desa tersebut langsung disajikan sebuah pagar dengan batu bata ekspos. Bangunan khas jawa itu di Ponpes tersebut seperti berada di desa adat yang kerap dikunjungi wisatawan seperti di Desa Bejijong, Trowulan, Mojokerto saja.

Suasana Jawa itu semakin lengkap saat berjumpa dengan para santri. Ya santri di sana, tidak selalu memakai baju muslim seperti kebanyakan ponpes pada umumnya. Tapi baju surjan untuk santri dan kebaya yang dikenakan santri putri. Hal itu menandakan bahwa warisan leluhur Jawa dijadikan sebagai kebiasaan.

Memasuki lebih dalam lagi pesanteren tersebut, terdapat tulisan hanacarakan yang menempel di dinding gedung. Suasana semakin nyaman, dengan bunyi burung perkutut. Terlihat seorang ustad yang juga kenakan baju khas jawa dengan blangkon di kepalanya sedang menjelaskan karya kitab berbahasa Indonesia dengan judul Condong tresno. “Ini merupakan karya santri,” ucap Fandi Ika Maulana yang menjadi pengajar Ponpes Mambaul Falah.

Dia mengatakan, warisan para leluhur perlu untuk dirawat dan dijaga. Ditengah krisisnya moral saat ini, pesantren hadir untuk tetap melestarikan budi pekerti bagi para generasi muda saat ini. Fandi yang juga pengurus Ponpes Mambaul Falah menyampaikan, pesantren yang usianya masih muda yaitu berdiri 2012 tersebut juga pernah mendapatkan cobaan.

Salah satunya saat metode dakwah dengan gamelan sempat menuai penolakan dari masyarakat. Penolakan itu terjadi disebabkan oleh budaya berpakaian serta metode dakwah yang dianggap tidak layak diterapkan dalam dunia pesantren. “Masyarakat sini rata-rata alumni pesantren Sumberwringin, Sukowono, Jember. Akhirnya, kami buat pengajian dan mengundang Kyai Sumberwringin sebagai pembicara. Dari situ masyarakat mulai menerima keberadaan pesantren ini,” ungkapnya.

Menurutnya desain pesantren itu murni hasil pemikiran  Kyai Ahmad Kamaluddin. Menurutnya pembangunan dilakukan secara bertahap dan Desain bangunan sengaja dibuat model kuno untuk merawat tradisi dan budaya para leluhur. “Semua santri mengikuti warisan adat Jawa, meski ada yang dari luar jawa,” ucapnya.

Pesantren asuhan Kiyai Ahmad Kamaluddin ini keberadaannya belum lama. Berdirinya pesantren ini terhitung sejak tahun 2012. Kemasan pesantren berbudaya khas Jawa ini berdiri sendiri tanpa ada sentuhan bantuan dari siapapun. Termasuk pemerintah Bondowoso yang saat ini mengutarakan untuk menjadikan pesantren itu sebagai wisata religi. “Tidak pernah menerima bantuan. Dari awal memang tidak berharap, khawatir tidak merdeka saat menjalankan semua program pesantren,” tegasnya.

Jurnalis: Zaini Dahlan
Fotografer: Zaini Dahlan
Editor: Dwi Siswanto

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/