alexametrics
32.2 C
Jember
Monday, 16 May 2022

Kelangkaan Minyak di Bondowoso, Terpaksa Hentikan Produksi Kerupuk

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kelangkaan minyak di Kabupaten Bondowoso masih terjadi hingga saat ini. Seperti yang dialami oleh Dodo Kriswanto, salah seorang pengusaha kerupuk di Desa Pejaten, Kecamatan Bondowoso. Akibat kesulitan mendapatkan minyak, dia terpaksa menghentikan produksi kerupuknya. Hal itu sudah dilakukan kurang lebih dua pekan terakhir.

Ketika dikunjungi Jawa Pos Radar Ijen, kemarin (6/3), aktivitas produsen kerupuk itu tidak seperti biasanya. Tidak ada asap mengepul juga api yang menyala lagi. Dodo Kriswanto hanya duduk meratapi kondisi minyak goreng saat ini. “Tidak produksi, minyak susah dan mahal lagi,” katanya.

Di tempat produksi kerupuknya tersebut hanya ada minyak sisa di tempat penggorengannya. Dodo hanya menunjukkan kerupuk mentah yang terpaksa tidak digoreng. “Sebenarnya ya banyak yang tanya kapan produksi lagi,” paparnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Meskipun banyak permintaan dari masyarakat sekitar, Dodo memilih tidak produksi, karena minyak yang dibutuhkan untuk menggoreng masih kurang. Walau masih ada sisa minyak di tempat penggorengannya, jumlahnya tidak cukup untuk satu kali produksi kerupuk.

Dodo menyampaikan, biasanya dalam satu kali penggorengan membutuhkan 20 hingga 25 kilogram minyak. Jumlah tersebut sudah cukup untuk menggoreng satu kuintal kerupuk mentah. “Kalau stok kerupuk mentahnya masih banyak. Tapi, sekarang minyaknya selain mahal juga sulit didapat,” katanya.

Oleh sebab itu, ketika menemukan minyak goreng, Dodo langsung membelinya, meskipun dengan harga yang jauh lebih mahal dari harga yang menjadi ketetapan pemerintah. Biasanya dia menggoreng menggunakan minyak curah yang dibeli dengan harga paling murah Rp 17 ribu per liter. Padahal sebenarnya pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng curah Rp 13.500 per liter, sedangkan minyak goreng dalam kemasan Rp 14 ribu per liter.

Biasanya Dodo membeli minyak curah di sekitar Pasar Induk Bondowoso. Tapi, saat ini sudah tidak bisa lagi membeli di tempat itu. Mengingat setiap hari dari pukul 03.00–04.00 sudah dipenuhi masyarakat yang antre untuk juga mendapatkan minyak goreng. “Kalau gak ngantri ya gak dapet,” imbuhnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kelangkaan minyak di Kabupaten Bondowoso masih terjadi hingga saat ini. Seperti yang dialami oleh Dodo Kriswanto, salah seorang pengusaha kerupuk di Desa Pejaten, Kecamatan Bondowoso. Akibat kesulitan mendapatkan minyak, dia terpaksa menghentikan produksi kerupuknya. Hal itu sudah dilakukan kurang lebih dua pekan terakhir.

Ketika dikunjungi Jawa Pos Radar Ijen, kemarin (6/3), aktivitas produsen kerupuk itu tidak seperti biasanya. Tidak ada asap mengepul juga api yang menyala lagi. Dodo Kriswanto hanya duduk meratapi kondisi minyak goreng saat ini. “Tidak produksi, minyak susah dan mahal lagi,” katanya.

Di tempat produksi kerupuknya tersebut hanya ada minyak sisa di tempat penggorengannya. Dodo hanya menunjukkan kerupuk mentah yang terpaksa tidak digoreng. “Sebenarnya ya banyak yang tanya kapan produksi lagi,” paparnya.

Meskipun banyak permintaan dari masyarakat sekitar, Dodo memilih tidak produksi, karena minyak yang dibutuhkan untuk menggoreng masih kurang. Walau masih ada sisa minyak di tempat penggorengannya, jumlahnya tidak cukup untuk satu kali produksi kerupuk.

Dodo menyampaikan, biasanya dalam satu kali penggorengan membutuhkan 20 hingga 25 kilogram minyak. Jumlah tersebut sudah cukup untuk menggoreng satu kuintal kerupuk mentah. “Kalau stok kerupuk mentahnya masih banyak. Tapi, sekarang minyaknya selain mahal juga sulit didapat,” katanya.

Oleh sebab itu, ketika menemukan minyak goreng, Dodo langsung membelinya, meskipun dengan harga yang jauh lebih mahal dari harga yang menjadi ketetapan pemerintah. Biasanya dia menggoreng menggunakan minyak curah yang dibeli dengan harga paling murah Rp 17 ribu per liter. Padahal sebenarnya pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng curah Rp 13.500 per liter, sedangkan minyak goreng dalam kemasan Rp 14 ribu per liter.

Biasanya Dodo membeli minyak curah di sekitar Pasar Induk Bondowoso. Tapi, saat ini sudah tidak bisa lagi membeli di tempat itu. Mengingat setiap hari dari pukul 03.00–04.00 sudah dipenuhi masyarakat yang antre untuk juga mendapatkan minyak goreng. “Kalau gak ngantri ya gak dapet,” imbuhnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Kelangkaan minyak di Kabupaten Bondowoso masih terjadi hingga saat ini. Seperti yang dialami oleh Dodo Kriswanto, salah seorang pengusaha kerupuk di Desa Pejaten, Kecamatan Bondowoso. Akibat kesulitan mendapatkan minyak, dia terpaksa menghentikan produksi kerupuknya. Hal itu sudah dilakukan kurang lebih dua pekan terakhir.

Ketika dikunjungi Jawa Pos Radar Ijen, kemarin (6/3), aktivitas produsen kerupuk itu tidak seperti biasanya. Tidak ada asap mengepul juga api yang menyala lagi. Dodo Kriswanto hanya duduk meratapi kondisi minyak goreng saat ini. “Tidak produksi, minyak susah dan mahal lagi,” katanya.

Di tempat produksi kerupuknya tersebut hanya ada minyak sisa di tempat penggorengannya. Dodo hanya menunjukkan kerupuk mentah yang terpaksa tidak digoreng. “Sebenarnya ya banyak yang tanya kapan produksi lagi,” paparnya.

Meskipun banyak permintaan dari masyarakat sekitar, Dodo memilih tidak produksi, karena minyak yang dibutuhkan untuk menggoreng masih kurang. Walau masih ada sisa minyak di tempat penggorengannya, jumlahnya tidak cukup untuk satu kali produksi kerupuk.

Dodo menyampaikan, biasanya dalam satu kali penggorengan membutuhkan 20 hingga 25 kilogram minyak. Jumlah tersebut sudah cukup untuk menggoreng satu kuintal kerupuk mentah. “Kalau stok kerupuk mentahnya masih banyak. Tapi, sekarang minyaknya selain mahal juga sulit didapat,” katanya.

Oleh sebab itu, ketika menemukan minyak goreng, Dodo langsung membelinya, meskipun dengan harga yang jauh lebih mahal dari harga yang menjadi ketetapan pemerintah. Biasanya dia menggoreng menggunakan minyak curah yang dibeli dengan harga paling murah Rp 17 ribu per liter. Padahal sebenarnya pemerintah menetapkan harga eceran tertinggi (HET) minyak goreng curah Rp 13.500 per liter, sedangkan minyak goreng dalam kemasan Rp 14 ribu per liter.

Biasanya Dodo membeli minyak curah di sekitar Pasar Induk Bondowoso. Tapi, saat ini sudah tidak bisa lagi membeli di tempat itu. Mengingat setiap hari dari pukul 03.00–04.00 sudah dipenuhi masyarakat yang antre untuk juga mendapatkan minyak goreng. “Kalau gak ngantri ya gak dapet,” imbuhnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/