alexametrics
24.4 C
Jember
Sunday, 3 July 2022

Petani Masih Resahkan Pupuk Langka

Ada pun Mahal, Pemerintah Tak Berkutik

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Petani merupakan pahlawan ketahanan pangan di negeri ini. Namun, miris ketika melihat fakta mereka susah mencari pupuk bersubsidi. Perjuangan para petani harus terkendala karena pupuk langka. Jika menemukan, harganya meroket. Akibatnya, subsidi untuk petani menjadi program yang dipertanyakan.

Pak Desta, salah satu petani Jagung di Desa Gayam, Botolinggo, misalnya. Dia harus pasrah terhadap kondisi tanaman jagungnya yang kurang baik karena kekurangan pupuk. Kalau biasanya jagung di sawahnya bisa dua kali pemupukan, kini hanya sekali. Otomatis pertumbuhan jagungnya tidak sempurna.

“Dalam sekali panen, ada dua kali pemupukan. Pertama, untuk menumbuhkan daun, dan kedua untuk pertumbuhan buahnya. Namun sekarang hanya bisa sekali saja,” terangnya. Kelangkaan pupuk mulai dirasakannya sejak  Oktober tahun lalu.

Mobile_AP_Rectangle 2

Dijelaskan, pupuk bukannya tidak ada, melainkan langka. Pak Desta bisa mendapatkan pupuk, namun mahal. Urea saja bisa sampai Rp 150 ribu per karung ukuran 50 kg. Padahal harga eceran tertinggi (HET) hanya Rp 90 ribu per 50 kg.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Petani merupakan pahlawan ketahanan pangan di negeri ini. Namun, miris ketika melihat fakta mereka susah mencari pupuk bersubsidi. Perjuangan para petani harus terkendala karena pupuk langka. Jika menemukan, harganya meroket. Akibatnya, subsidi untuk petani menjadi program yang dipertanyakan.

Pak Desta, salah satu petani Jagung di Desa Gayam, Botolinggo, misalnya. Dia harus pasrah terhadap kondisi tanaman jagungnya yang kurang baik karena kekurangan pupuk. Kalau biasanya jagung di sawahnya bisa dua kali pemupukan, kini hanya sekali. Otomatis pertumbuhan jagungnya tidak sempurna.

“Dalam sekali panen, ada dua kali pemupukan. Pertama, untuk menumbuhkan daun, dan kedua untuk pertumbuhan buahnya. Namun sekarang hanya bisa sekali saja,” terangnya. Kelangkaan pupuk mulai dirasakannya sejak  Oktober tahun lalu.

Dijelaskan, pupuk bukannya tidak ada, melainkan langka. Pak Desta bisa mendapatkan pupuk, namun mahal. Urea saja bisa sampai Rp 150 ribu per karung ukuran 50 kg. Padahal harga eceran tertinggi (HET) hanya Rp 90 ribu per 50 kg.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Petani merupakan pahlawan ketahanan pangan di negeri ini. Namun, miris ketika melihat fakta mereka susah mencari pupuk bersubsidi. Perjuangan para petani harus terkendala karena pupuk langka. Jika menemukan, harganya meroket. Akibatnya, subsidi untuk petani menjadi program yang dipertanyakan.

Pak Desta, salah satu petani Jagung di Desa Gayam, Botolinggo, misalnya. Dia harus pasrah terhadap kondisi tanaman jagungnya yang kurang baik karena kekurangan pupuk. Kalau biasanya jagung di sawahnya bisa dua kali pemupukan, kini hanya sekali. Otomatis pertumbuhan jagungnya tidak sempurna.

“Dalam sekali panen, ada dua kali pemupukan. Pertama, untuk menumbuhkan daun, dan kedua untuk pertumbuhan buahnya. Namun sekarang hanya bisa sekali saja,” terangnya. Kelangkaan pupuk mulai dirasakannya sejak  Oktober tahun lalu.

Dijelaskan, pupuk bukannya tidak ada, melainkan langka. Pak Desta bisa mendapatkan pupuk, namun mahal. Urea saja bisa sampai Rp 150 ribu per karung ukuran 50 kg. Padahal harga eceran tertinggi (HET) hanya Rp 90 ribu per 50 kg.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/