alexametrics
23.3 C
Jember
Wednesday, 25 May 2022

Bondowoso Waspada Bencana Hidrometeorologi

Butuh Alat Early Warning System

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memperingatkan akan bahaya datangnya bencana hidrometeorologi di beberapa daerah. Menyikapi peringatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bondowoso mengupayakan mitigasi bencana, sehingga memerlukan sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) untuk mendeteksi potensi bencana.

Alat tersebut sangat diperlukan untuk memberikan peringatan kepada masyarakat agar lebih waspada bencana datang. Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso Dadan Kurniawan menerangkan, pihaknya berusaha mengusulkan alat pendeteksi bencana tersebut kepada pemerintah pusat, mengingat harganya tidak murah. “Alat pendeteksi tanah belum ada. Tapi, kami berusaha mengusulkan karena biayanya mahal,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (5/11) kemarin.

Diakuinya bahwa beberapa titik rawan bencana perlu adanya alat EWS, terutama di kawasan dataran tinggi yang berpotensi longsor dan banjir saat musim hujan. “Misalnya di kawasan Ijen. Karena alat itu untuk mencegah adanya korban saat menghadapi bencana,” lanjutnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Selain EWS, pihaknya juga menyiagakan Tim Reaksi Cepat (TRC) dan Pusat Pengendali Operasi dan Pengendalian Bencana (Pusdalops PB) yang siaga 24 jam. Tim yang terdiri atas TNI, Polri, Satpol PP, dan beberapa unsur lainnya itu akan bergerak cepat ketika mendapat laporan adanya bencana.

“Siaga 24 jam, baik ada bencana atau tidak. Contoh ketika ada pohon tumbang waktu malam hari di Kecamatan Taman Krocok, kami langsung ke sana untuk melakukan penanggulangan membuka akses jalan yang tertimpa pohon. Agar masyarakat dapat segera menggunakan jalan kembali,” beber Dadan.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memperingatkan akan bahaya datangnya bencana hidrometeorologi di beberapa daerah. Menyikapi peringatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bondowoso mengupayakan mitigasi bencana, sehingga memerlukan sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) untuk mendeteksi potensi bencana.

Alat tersebut sangat diperlukan untuk memberikan peringatan kepada masyarakat agar lebih waspada bencana datang. Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso Dadan Kurniawan menerangkan, pihaknya berusaha mengusulkan alat pendeteksi bencana tersebut kepada pemerintah pusat, mengingat harganya tidak murah. “Alat pendeteksi tanah belum ada. Tapi, kami berusaha mengusulkan karena biayanya mahal,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (5/11) kemarin.

Diakuinya bahwa beberapa titik rawan bencana perlu adanya alat EWS, terutama di kawasan dataran tinggi yang berpotensi longsor dan banjir saat musim hujan. “Misalnya di kawasan Ijen. Karena alat itu untuk mencegah adanya korban saat menghadapi bencana,” lanjutnya.

Selain EWS, pihaknya juga menyiagakan Tim Reaksi Cepat (TRC) dan Pusat Pengendali Operasi dan Pengendalian Bencana (Pusdalops PB) yang siaga 24 jam. Tim yang terdiri atas TNI, Polri, Satpol PP, dan beberapa unsur lainnya itu akan bergerak cepat ketika mendapat laporan adanya bencana.

“Siaga 24 jam, baik ada bencana atau tidak. Contoh ketika ada pohon tumbang waktu malam hari di Kecamatan Taman Krocok, kami langsung ke sana untuk melakukan penanggulangan membuka akses jalan yang tertimpa pohon. Agar masyarakat dapat segera menggunakan jalan kembali,” beber Dadan.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memperingatkan akan bahaya datangnya bencana hidrometeorologi di beberapa daerah. Menyikapi peringatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Bondowoso mengupayakan mitigasi bencana, sehingga memerlukan sistem peringatan dini atau early warning system (EWS) untuk mendeteksi potensi bencana.

Alat tersebut sangat diperlukan untuk memberikan peringatan kepada masyarakat agar lebih waspada bencana datang. Kepala Pelaksana BPBD Bondowoso Dadan Kurniawan menerangkan, pihaknya berusaha mengusulkan alat pendeteksi bencana tersebut kepada pemerintah pusat, mengingat harganya tidak murah. “Alat pendeteksi tanah belum ada. Tapi, kami berusaha mengusulkan karena biayanya mahal,” ujarnya saat dikonfirmasi, Jumat (5/11) kemarin.

Diakuinya bahwa beberapa titik rawan bencana perlu adanya alat EWS, terutama di kawasan dataran tinggi yang berpotensi longsor dan banjir saat musim hujan. “Misalnya di kawasan Ijen. Karena alat itu untuk mencegah adanya korban saat menghadapi bencana,” lanjutnya.

Selain EWS, pihaknya juga menyiagakan Tim Reaksi Cepat (TRC) dan Pusat Pengendali Operasi dan Pengendalian Bencana (Pusdalops PB) yang siaga 24 jam. Tim yang terdiri atas TNI, Polri, Satpol PP, dan beberapa unsur lainnya itu akan bergerak cepat ketika mendapat laporan adanya bencana.

“Siaga 24 jam, baik ada bencana atau tidak. Contoh ketika ada pohon tumbang waktu malam hari di Kecamatan Taman Krocok, kami langsung ke sana untuk melakukan penanggulangan membuka akses jalan yang tertimpa pohon. Agar masyarakat dapat segera menggunakan jalan kembali,” beber Dadan.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/