alexametrics
30.8 C
Jember
Sunday, 14 August 2022

Lika-liku Angkutan Kota Bondowoso

Menuju Bondowoso memakai transportasi umum harus memiliki keteguhan hati. Selain angkutan jarang, waktu tempuhnya juga lelet. Kondisi lebih parah juga terjadi di angkutan kotanya.

Mobile_AP_Rectangle 1

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Siang itu, angkutan kota berwarna biru itu mulai ngetem untuk mencari penumpang di Pasar Induk Bondowoso. Bila ada masyarakat yang keluar dari pasar, sopir angkutan itu berdiri dan melambaikan tangan. “Pujer–Tlogosari, ayo masuk,” ucap Saiful Hosnan, sopir angkutan kota jalur Bondowoso–Pujer–Tlogosari.

BACA JUGA : Usaha Pembakaran Batu Gamping Terancam Tutup

Tak semua orang yang keluar dari pasar memilih jasa angkutannya itu. Mata Hosman semakin lebar bila ada ibu-ibu membawa barang banyak keluar dari pasar. Dia optimistis bila yang keluar dengan barang besar dan seorang diri akan naik angkotnya. Tapi, terkadang prediksinya juga meleset. “Biasanya ibu-ibu sendirian dengan membawa barang dari pasar yang sering naik angkutan,” terangnya.

Mobile_AP_Rectangle 2

Upaya Hosnan ke Pasar Induk juga ada saja yang mengeluhkan. Pasalnya, lokasi tersebut bukan menjadi tempat untuk ngetem. Hosnan melakukan hal itu tak lain untuk menjemput bola. Sebab, mencari penumpang itu susah. “Menunggu langganan selesai belanja, habis ini langsung berangkat,” cetusnya saat rambu larangan berhenti.

Menurutnya, dirinya enggan untuk menunggu penumpang di halte. Lokasinya jauh dari pintu pasar. Jarak tersebut membuat sopir tidak mau memakai fasilitas tersebut. Sebab, akses untuk mendapatkan penumpang yang sangat sulit. “Tadi sudah dari sana, tapi tidak dapat penumpang,” tandasnya.

Hosnan mengatakan, untuk trayek Bondowoso–Pujer–Sukosari hanya ada dua angkutan yang beroperasi. Pasalnya, teman sejawatnya banyak banting setir untuk membangun usaha lain. “Banyak yang berhenti, tidak beroperasi gara-gara sulit dapat penumpang,” ujarnya.

- Advertisement -

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Siang itu, angkutan kota berwarna biru itu mulai ngetem untuk mencari penumpang di Pasar Induk Bondowoso. Bila ada masyarakat yang keluar dari pasar, sopir angkutan itu berdiri dan melambaikan tangan. “Pujer–Tlogosari, ayo masuk,” ucap Saiful Hosnan, sopir angkutan kota jalur Bondowoso–Pujer–Tlogosari.

BACA JUGA : Usaha Pembakaran Batu Gamping Terancam Tutup

Tak semua orang yang keluar dari pasar memilih jasa angkutannya itu. Mata Hosman semakin lebar bila ada ibu-ibu membawa barang banyak keluar dari pasar. Dia optimistis bila yang keluar dengan barang besar dan seorang diri akan naik angkotnya. Tapi, terkadang prediksinya juga meleset. “Biasanya ibu-ibu sendirian dengan membawa barang dari pasar yang sering naik angkutan,” terangnya.

Upaya Hosnan ke Pasar Induk juga ada saja yang mengeluhkan. Pasalnya, lokasi tersebut bukan menjadi tempat untuk ngetem. Hosnan melakukan hal itu tak lain untuk menjemput bola. Sebab, mencari penumpang itu susah. “Menunggu langganan selesai belanja, habis ini langsung berangkat,” cetusnya saat rambu larangan berhenti.

Menurutnya, dirinya enggan untuk menunggu penumpang di halte. Lokasinya jauh dari pintu pasar. Jarak tersebut membuat sopir tidak mau memakai fasilitas tersebut. Sebab, akses untuk mendapatkan penumpang yang sangat sulit. “Tadi sudah dari sana, tapi tidak dapat penumpang,” tandasnya.

Hosnan mengatakan, untuk trayek Bondowoso–Pujer–Sukosari hanya ada dua angkutan yang beroperasi. Pasalnya, teman sejawatnya banyak banting setir untuk membangun usaha lain. “Banyak yang berhenti, tidak beroperasi gara-gara sulit dapat penumpang,” ujarnya.

BONDOWOSO, RADARJEMBER.ID – Siang itu, angkutan kota berwarna biru itu mulai ngetem untuk mencari penumpang di Pasar Induk Bondowoso. Bila ada masyarakat yang keluar dari pasar, sopir angkutan itu berdiri dan melambaikan tangan. “Pujer–Tlogosari, ayo masuk,” ucap Saiful Hosnan, sopir angkutan kota jalur Bondowoso–Pujer–Tlogosari.

BACA JUGA : Usaha Pembakaran Batu Gamping Terancam Tutup

Tak semua orang yang keluar dari pasar memilih jasa angkutannya itu. Mata Hosman semakin lebar bila ada ibu-ibu membawa barang banyak keluar dari pasar. Dia optimistis bila yang keluar dengan barang besar dan seorang diri akan naik angkotnya. Tapi, terkadang prediksinya juga meleset. “Biasanya ibu-ibu sendirian dengan membawa barang dari pasar yang sering naik angkutan,” terangnya.

Upaya Hosnan ke Pasar Induk juga ada saja yang mengeluhkan. Pasalnya, lokasi tersebut bukan menjadi tempat untuk ngetem. Hosnan melakukan hal itu tak lain untuk menjemput bola. Sebab, mencari penumpang itu susah. “Menunggu langganan selesai belanja, habis ini langsung berangkat,” cetusnya saat rambu larangan berhenti.

Menurutnya, dirinya enggan untuk menunggu penumpang di halte. Lokasinya jauh dari pintu pasar. Jarak tersebut membuat sopir tidak mau memakai fasilitas tersebut. Sebab, akses untuk mendapatkan penumpang yang sangat sulit. “Tadi sudah dari sana, tapi tidak dapat penumpang,” tandasnya.

Hosnan mengatakan, untuk trayek Bondowoso–Pujer–Sukosari hanya ada dua angkutan yang beroperasi. Pasalnya, teman sejawatnya banyak banting setir untuk membangun usaha lain. “Banyak yang berhenti, tidak beroperasi gara-gara sulit dapat penumpang,” ujarnya.

BERITA TERKINI

Wajib Dibaca

/